Makam Kuno Singkil 1213 M (636 H)

Singkil (Mimbarnews) Makam tua salah satu di antaranya makam Abdul Rajak yang di batu nisan terukir tarikh wafatnya 1213 Masehi atau 636 Hijriyah, baru-baru ini, ditemukan di Singkil Lama, Kampung Kayu Menang, atau arah barat Kota Singkil.

Menurut keterangan salah seorang warga, Syamsuddin Angkat, S.Pd kepada Mimbarnews,  Ahad (15/3) di samping makam Abdul Rajak, ada empat unit makam lainnya. Namun, yang batu nisannya berukir kaligrafi bahasa Arab bergaya kufi dan masih jelas dibaca, hanya batu nisan Abdul Rajak saja.

Guru Sejarah pada SMKN 1 Singkil Utara ini, lebih lanjut menerangkan, penemuan makam bersama batu nisan, merupakan salah satu data arkeologis yang berkaitan erat dengan keberadaan komunitas muslim di Singkil. “Dari ukiran kaligrafi yang terdapat pada batu nisan, menunjukkan Singkil sebelum tahun 1213 Masehi, telah didiami orang Islam yang berasal dari Arab,” tegas Syamsuddin.

Sementara itu, seorang warga lainnya, Aftar berpendapat, temuan prasasti batu nisan yang bertarikh 1213 Mesehi ini sangat penting untuk menyibak tabir bahwa Singkil salah satu kota tua di Aceh. Dan menunjukkan bahwa kebudayaan Islam telah berkembang di Singkil.

“Prasasti ini bernilai tinggi, karena akan mengungkap  Islam telah berkembang di Singkil pada abad ke-7. Jadi, pemerintah atau elemen masyarakat terutama para arkeolog harus meneliti lebih lanjut tentang keberadaan makam ini. Kemudian  makam ini harus dijadikan sebagai situs sejarah yang harus dilestarikan,” imbuh Aftar. (MN06)

Sumber : MimbarNews

Catatan (oleh SofiaAbdullah): Temuan makam kuno berikut nisan ini sebenarnya sudah cukup banyak, tersebar di berbagai daerah dan bila di kumpulkan alih-alih hanya membanggakan daerahnya masing-masing, sangat mungkin alur sejarah masuknya Islam saat ini sudah berubah)

Imam Ali bin Abi Thalib RA, Kian Santang & Rakeyan Sancang

Oleh SofiaAbdullah*

Bagi pemerhati sejarah Sunda dan tentunya masyarakat Sunda sendiri yang ingin mengetahui sejarah leluhur, pastinya sudah tidak asing lagi dengan ketiga nama tokoh penting ini. Tiga tokoh yang terkait erat dengan sejarah masuknya Islam ke wilayah jawa bagian barat.

Namun sayangnya sumber tertulis yang asli mengenai kisah masuk Islamnya Kian Santang ini bisa dikatakan hampir tidak ada, hingga terjadilah simpang siur informasi seperti yang terjadi saat ini.

Sejarah Kian Santang pada hakikatnya adalah kisah yang menggambarkan tentang kedatangan Islam di tanah Sunda. Kisah ini dapat kita dengar dan baca dari generasi ke generasi, baik melalui pantun ataupun kisah wayang.

Seperti umumnya kisah tutur lainnya, tentunya dalam perjalanan kisahnya dari waktu ke waktu telah mendapatkan penambahan dan pengurangan di beberapa bagian kisahnya.

Pada era kolonial kisah ini juga banyak disisipi pesanan dari pemerintah kolonial berupa kisah-kisah yang memberikan ‘citra’ buruk pada Islam, diantaranya melalui kisah Kian Santang memaksa ayahnya, sang Prabusilwangi untuk menganut ajaran Islam, hingga terjadi perkelahian dan pengejaran antara Kian Santang dan ayahnya yang diakhiri dengan ‘ngahiang-nya’ sang prabu, berubah wujud menjadi maung (harimau).

Darimanakah kisah-kisah tidak masuk akal ini bersumber? Terlihat jelas ada penambahan data berupa kisah-kisah ajaib dan sikap intoleran seorang muslim, yang bila membaca ini, pembaca pasti akan berasumsi pada ayahnya saja ia melakukan demikian, bagaimana dengan rakyat biasa? Dan sikap ini terjadi setelah Kian Santang masuk Islam. Tentunya hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Kembali lagi pada pertanyaan diatas darimanakah kisah-kisah ini bersumber?

Ternyata setelah dilakukan penelusuran, salah satu sumber utama kekacauan sejarah Islam di Indonesia adalah banyaknya sumber-sumber sejarah tertulis palsu atau salinan yang dibuat pada era kolonial, tepatnya setelah tahun 1860-an hingga 1900-an awal. Dari naskah-naskah aspal atau salinan inilah kemudian kita membaca dan mendengar banyak cerita-cerita aneh dan tidak masuk akal seputar sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Mengenai sumber tertulis yang asli bukan salinan, kami yakin pasti ada, hanya saja sebagian besar sumber tertulis ini telah diambil oleh pihak kolonial dan kini tersimpan di univ. Leiden-Belanda. Untuk saat ini pembuktian pertemuan Imam Ali dan Kian Santang dapat dilakukan dengan beberapa metode penelusuran, diantaranya dengan menghubungkan petunjuk-petunjuk yang terkait dengan kisah ini melalui berbagai pendekatan ilmu sejarah dan ilmu bantu sejarah, seperti yang akan kami coba jelaskan secara ringkas pada tulisan ini.

Kekacauan data sejarah yang paling sering ditemukan adalah terjadinya tumpang tindih tahun kehidupan para tokoh, hingga tidak ada titik temu antara tokoh dalam naskah kuno dengan fakta sejarah yang diambil dari sumber lain, misalnya tokoh yang harusnya hidup pada tahun 630 M, seolah olah hidup pada tahun 1400-an, padahal faktanya Islam pada tahun 1400an telah tersebar di Indonesia dari sabang sampai merauke, yang pastinya sulit untuk dicerna dengan akal sehat bila Islam yang baru dikenal tahun 1400 pengaruh dan tradisinya sudah tersebar hampir keseluruh Nusantara.

Salah satu kisah yang mengalami perusakan dan pemalsuan sejarah ini adalah kisah pertemuan Kian Santang dan Imam Ali.

Berdasarkan data-data yang telah kami kumpulkan dan tidak mungkin kami masukkan kedalam tulisan ini, karena banyaknya data-data tersebut, diketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak masa Rasul saw masih hidup, baik melalui utusan beliau saw maupun penduduk dari seluruh dunia yang memang sengaja datang untuk mengenal nabi terakhir sekaligus mempelajari Islam.

Diantara mereka yang datang ke jazirah Arab 1441 tahun yang lalu adalah Kian Santang yang diperintahkan ayahandanya, Prabusiliwangi, untuk berguru ke tanah Arab pada seorang sakti bernama Ali.

Diantara pembaca mungkin ada yang bertanya, bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Darimana Prabusiliwangi mengetahui keberadaan nabi Muhammad dan sayyidina Ali??

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan berita tentang Islam telah sampai ke nusantara pada saat Rasul saw masih hidup, yaitu : faktor agama dan perdagangan.

Kedua faktor petunjuk ini hilang dan rusak juga karena beberapa sebab,  hingga kisah penting ini terkesan mistis dan diragukan kebenarannya dalam ilmu sejarah yaitu faktor  bahasa dan faktor pemalsuan sumber sejarah.

Sekarang mari kita bahas 2 faktor penting sebagai petunjuk bahwa kisah pertemuan Imam Ali dan Kian Santang adalah fakta sejarah, dengan pembuktian-pembuktian berikut.

Faktor Agama

Penduduk Indonesia 1441 tahun yang lalu jumlahnya sangat sedikit bila dibandingkan luas kepulauan Nusantara. Hal ini bisa diketahui melalui sensus penduduk yang dilakukan pada awal abad ke-18, pulau Jawa dan Madura yang berpenduduk terpadat saja hanya berpenduduk 5 juta  orang..! Bisa di perkirakan jumlah penduduk di pulau Jawa 1000thn yang lalu, tentunya jauh lebih sedikit dibanding jumlah penduduk berdasarkan sensus tahun 1800an.

Semakin sedikit jumlah penduduk, otomatis semakin sedikit perbedaan keyakinan yang dianut. Adanya kesamaan keyakinan pada leluhur nusantara di masa lalu, bisa dilihat dari agama asli suku pedalaman dan agama Hindu Bali yang secara pemahaman dan ritual ibadah cenderung memiliki kesamaan antara satu dan lainnya, yaitu meyakini adanya Tuhan sebagai kekuatan tunggal yang maha segalanya yang tidak terlihat tapi ada.

Keyakinan akan Tuhan yang Maha Esa, kekuatan tunggal yang maha segalanya  ini adalah salah satu ciri bahwa mayoritas leluhur penduduk Indonesia adalah penganut agama tauhid, yang dalam ajaran Islam disebut dengan Millatu Ibrahim, atau dalam sebutan bahasa setempat disebut agama Dharma, Kapitayan, dan sabagainya yang meyakini adanya kekuatan tunggal yang maha segala atau Sang Hyang Widhi atau Dia yang Satu.  Adapun beragamnya ritual ibadah adalah karena pengaruh asimilasi budaya.

Berdasarkan sejarah Islam, Agama tauhid diajarkan oleh para nabi dan rasul yang diutus ke seluruh penjuru dunia. Setiap nabi dan rasul yang berjumlah 124 ribu ini diutus untuk memberikan penjelasan kepada manusia berupa ajaran-ajaran kebaikan, ritual ibadah, tata cara bermasyarakat, dan sebagainya. Ajaran-ajaran ini kemudian dituliskan dalam kitab-kitab. Karena ajarannya tertulis dalam kitab inilah maka penganut agama tauhid disebut juga dengan Ahlul kitab atau pemilik kitab.

Ahlul Kitab adalah para pemeluk agama yang memiliki kitab bukan hanya agama Yahudi dan Kristen tapi juga termasuk Majusi, Hindu, Budha serta agama-agama lain yang tersebar di seluruh dunia, selama mereka masih mengakui adanya kekuatan Tunggal yang Maha segalanya.

Dalam Al Qur’an golongan Ahlul kitab disebutkan dalam beberapa ayat. Dalam sejarah nabi saw, dikisahkan tentang nubuat (ramalan) kedatangan Nabi terakhir yang diketahui oleh pemeluk ahlul kitab jauh sebelum kelahiran nabi Muhammad saw. peristiwa ini diketahui karena setiap kelahiran nabi disebutkan pada kitab-kitab mereka, termasuk kelahiran nabi Muhammad SAW. Dalam ajaran Islam disebutkan pada awalnya agama di dunia ini hanya satu, kemudian terjadi perbedaan pendapat diantara umat manusia, hingga lahirlah berbagai macam agama dan aliran dalam agama (1). Ahlul kitab dan menyembah kepada Tuhan yang satu adalah ciri agama tauhid adapun beragamnya cara beribadah adalah hasil perbedaan pendapat tersebut yang harus dihormati dan di hargai, seperti yang dicontohkan  oleh nabi Muhammad saw.

Setelah masa kenabian Muhammad saw, ahlul kitab terbagi 2 golongan, mereka yang meyakini nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang tertulis dalam kitab-kitab mereka kemudian menjadi muslim, dan yang tidak meyakini tetap pada agamanya.

Sebagai bagian dari ajaran agama tauhid, sebagian penduduk Nusantara saat itu telah mengetahui kedatangan nabi terakhir berikut ciri-cirinya melalui kitab-kitab mereka yang ditulis dengan bahasa daerah mereka masing-masing, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Ibrahim (14):4 Allah SWT berfirman, bahwa Allah SWT mengutus nabi dan rasul dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.(2)

Kisah tentang nubuat (ramalan) kedatangan nabi Muhammad tergambar jelas pada kisah pertemuan nabi saw ketika masih belia dengan Biarawan Bahira yang mengetahui detail ciri-ciri kenabian pada Muhammad kecil yang kelak akan menjadi rasul terakhir. Beberapa kisah sahabat nabi yang umum diketahui juga berkisah tentang beberapa tokoh sahabat yang awalnya beragama tauhid mencari sang nabi yang cirinya tersebut dalam kitab-kitab mereka.

Para sahabat yang sengaja datang dari negeri yang jauh ke jazirah Arab untuk mencari sosok sang nabi diantaranya sahabat Bilal ra yang beragama tauhid dari Afrika, namun diperjalanan beliau dirampok dan dijual sebagai budak. Kisah Abu Dzar dari bani Ghiffar yang datang ke Mekkah untuk memastikan kedatangan nabi yang baru, demikian pula hal-nya dengan Salman al Farisi yang mengetahui detail kenabian Muhammad saw melalui kitab Injil, atau kisah penduduk Madinah, yang telah mengetahui Nabi Muhammad saw jauh sebelum nabi hijrah dan masih banyak lagi berita tentang kelahiran nabi Muhammad saw yang telah mereka ketahui dari kitab-kitab mereka, hanya saja diantara mereka ada yang menerima ada yang tidak.

Dari penggalan kisah nabi Muhammad saw diatas, pertemuan Kean Santang dan Imam Ali as atau Sayyidina Ali RA menjadi tidak aneh lagi. Sebagai seorang penganut tauhid, baik Kean Santang ataupun ayahnya sang Prabusiliwangi tentunya akan merasa terpanggil untuk melihat sang Nabi terakhir, Muhammad saw, yang namanya telah mereka ketahui dalam kitabnya, hingga kemudian memerintahkan putranya berguru langsung pada beliau saw.

Faktor perdagangan


Route perdagangan kuno dari negara Arab hingga ke China. Route ini digunakan sejak 200 SM hingga 1450an M. Dapat dilihat pada peta diatas, untuk mencapai Cina harus melewati pulau Sumatera terlebih dahulu. Route ini tetap di gunakan para utusan Rasul saw untuk melakukan syi’ar Islam hingga ke negeri-negeri yang jauh. Route ini pula yang digunakan dalam perjalanan hijrah kaum muslim bani Alawiyyin (keturunan nabi saw), kaum Syi’ah Ahlulbait dan dari keturunan para pengikutnya yang terjadi secara bergelombang.

Hubungan perdagangan yang terjadi antara penduduk Nusantara dan Jazirah Arab telah terjalin jauh sebelum kelahiran Rasul saw. penelitian tentang keterlibatan Nusantara dalam jalur perdagangan Internasional pada masa lalu cukup banyak, diantaranya adalah pendapat T.W Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam yang menyatakan hubungan perdagangan antara Nusantara dengan Arab telah terjadi sejak abad ke- 2 SM. Sementara dalam buku Masuknya Islam ke Timur Jauh disebutkan tidak semua suku Arab yang melakukan hubungan dagang dengan Nusantara tapi hanya suku Quraisy dan leluhur Quraisy yaitu Kan’an serta beberapa suku tertentu dari Yaman yang melakukan hubungan dagang dengan para pelaut Nusantara. Seperti diketahui suku Quraisy adalah suku leluhur Rasulullah saw dan rasul saw sendiri pun di kenal sebagai pedagang ulung.  

Dari hubungan perdagangan dan agama ini, semakin wajarlah bila kedua tokoh ini memang pernah bertemu, hanya saja kisahnya mungkin tidak semistis dan segaib seperti yang kebanyakan kita ketahui di berbagai blog internet.

Imam Ali as adalah guru bagi Kian Santang, bukan hanya bertemu Imam Ali dan berguru pada beliau, dalam salah satu sumber yang kami dapatkan, Kean Santang juga belajar dan bertemu langsung dengan Rasul saw, setelah sebelumnya bertemu atau berpapasan dengan Imam Ali as. Peristiwa ini terjadi di Mekkah  sekitar tahun 630 M, setelah penaklukkan Mekkah oleh kaum muslim. (3)

Rasul saw kemudian memerintahkan Kean Santang untuk belajar Islam dengan Sayyidina Ali RA, hal ini pun bukan sesuatu yang aneh karena bisa di baca dalam kisah-kisah sejarah Rasul saw, Rasul saw biasa memerintahkan para sahabat pilihan untuk mengajarkan Islam bagi mereka yang baru mengenal Islam.

Rakeyan Sancang atau Kean Santang?

Dua nama ini muncul setelah ditemukannya data dari seorang ulama Mesir bahwa salah seorang sahabat Imam Ali adalah pangeran dari Timur Jauh (Nusantara). Data ini diambil dari manuskrip kuno yang tersimpan di univ. al azhar Mesir yang diantaranya mengisahkan tentang sahabat Imam Ali, seorang pangeran yang berasal dari Timur Jauh, yang ikut perang Shiffin dan beberapa peperangan lain bersama Imam Ali.

Setelah di teliti oleh Ir H. Dudung Faithurohman, satu-satunya kisah pertemuan pangeran dari Timur jauh dengan Imam Ali adalah kisah Kean Santang yang terjadi di jawa, dan setelah diteliti kembali pangeran jawa yang hidupnya satu masa dengan Imam Ali dan menjadi sahabat Imam Ali, serta ikut dalam perang Shiffin tidak lain adalah Rakeyan Sancang. (4) 

Kesimpulan ini tentunya banyak menimbulkan opini dari berbagai kalangan pemerhati sejarah, karena jelas terjadi perbedaan tokoh utama, kisah yang beredar di masyarakat Sunda selama berabad-abad adalah ‘Kean Santang’ sementara tokoh yang bertemu dengan Imam Ali as, yaitu ‘Rakeyan Sancang’ pangeran jawa yang masa hidupnya satu masa dengan Imam Ali, lalu mana yang benar? Rakeyan Sancang atau Kean Santang?

Berikut adalah beberapa pembuktian yang kami dapatkan dari hasil penelitian kami tentang sejarah Islam di Sunda berdasarkan naskah-naskah kuno, situs purbakala, Mitos, legenda, kisah turun temurun, naskah silsilah, kajian ilmu Anthropologi, Filologi dan arkeologi yang kami dapatkan.

Pembuktian pertama tentu saja melalui penelusuran sumber, baik lisan, tulisan atau mengunjungi situs yang terkait dengan tokoh Kean Santang dan Prabusiliwangi.

Terdapat beberapa sumber tertulis berupa naskah kuno yang menjadi rujukan data tahun, dua diantaranya didapat dari naskah Wangsakerta dan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang mengatakan bahwa Kean Santang adalah putra Prabusiliwangi yang hidup sekitar tahun 1400-1500-an Masehi, sementara fakta sejarah membuktikan pada kita Imam Ali hidup pada tahun 600M-663M, yang artinya jarak waktu antara Imam Ali dengan Kean Santang sekitar 900tahun! Dan tentunya mustahil secara ilmu sejarah kedua tokoh ini dapat bertemu.

Namun lain hal-nya dengan Rakeyan Sancang yang masa hidupnya kurang lebih satu masa dengan Imam Ali, hingga di tarik kesimpulan yang bertemu dengan Imam Ali adalah Rakeyan Sancang dan beliau adalah tokoh yang berbeda dengan Kean Santang. Kesimpulan ini diambil hanya berdasarkan perkiraan tahun yang tertera pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.

Benarkah demikian? Benarkah Rakeyan Sancang dan Kean Santang adalah 2 tokoh yang berbeda?

Bila benar demikian artinya kita telah membuang seluruh sumber lisan, tradisi dan budaya, situs pemakaman kuno yang tersebar merata di seluruh Indonesia, sejarah dan silsilah para tokoh muslim yang telah menjadi pemimpin di Jawa Barat sejak tahun 800-an Masehi. Tentu saja hal tersebut mustahil dilakukan dalam penelitian sejarah yang benar. (tentang pemakaman muslim kuno lebih lengkapnya bisa dibaca tulisan kami tentang Cangkuang, Situs Hindu atau Islam? https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/02/12/cangkuang-situs-pemakaman-muslim-kuno-yang-terlupakan-1/)

Setelah kami pelajari dari penelitian Prof. Boechari (alm) seorang filolog yang cukup terkenal mengatakan bahwa kedua naskah diatas adalah 2 diantara ratusan naskah salinan yang dibuat atas perintah kolonial, jadi sangat memungkinkan pada kedua naskah ini terjadi penambahan dan pengurangan data sesuai pesanan pemerintah kolonial pada masa itu, masih menurut Prof. Boechari (alm), untuk mengetahui keotentikan isi ke-2 naskah tersebut harus melakukan seleksi dan perbandingan dengan data sejarah yang lain. (5)

Dari penelusuran inilah kami juga menemukan fakta sejarah penting mengenai tokoh Prabusiliwangi. Berdasarkan peninggalan bangunan,  silsilah dan kisah-kisah pada naskah kuno seperti Babad, Cariosan dan sebagainya, diketahui bahwa Prabusiliwangi pun sebenarnya hanya gelar yang digunakan untuk menyebut para penguasa yang adil di Nusantara dari masa ke masa, dari mulai zaman nabi Nuh as hingga Prabusiliwangi terakhir sebelum era kolonial yang mencapai puncak kejayaan pada tahun 1482-1521, dan inilah prabusiliwangi yang umumnya diketahui masyarakat saat ini.

Gelar prabusiliwangi yang lain yang umum diketahui dikalangan sejarawan atau pemerhati sejarah adalah Sang Sribaduga, Ratu Haji Di Pakuan Pajajaran, Dari gelar Haji dapat dipastikan bahwa Prabusiliwangi adalah seorang muslim atau penganut agama millatu Ibrahim yang juga melaksanakan haji di Mekkah jauh sebelum kelahiran agama Islam di Arab. Gelar ini tercantum dalam prasasti Batu Tulis di Bogor (6).


Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana
di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata
pun ya nu nyusuk na pakwan
diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang
ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi
Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut.
Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum
Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,
dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
Dialah yang membuat parit (pertahanan) pakuan.
Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”

Mengenai prabusiliwangi, lebih lengkapnya InsyaAllah akan kami bahas dalam tulisan yang lain.

Rakeyan dari Sancang

Pembuktian kedua bisa dilihat melalui nama. Kian Santang adalah sebutan bukan nama. Kata Kian atau Kean awalnya berasal dari kata ‘Rakryan’ yang diambil dari bahasa sanskrta yang artinya pangeran atau pemimpin. Seiring dengan perubahan zaman, perpindahan kisah dari generasi ke generasi kata Rakryan menjadi kata Rakeyan, dari rakeyan menjadi Keyan, Kean dan Kian.

Dalam ilmu filologi perubahan kata adalah hal yang umum terjadi, kasus kata Rakryan sama seperti yang terjadi pada kata ‘raden’ yang berasal dari kata ‘Rahadyan’ yang berarti pemimpin (agama atau wilayah). Setelah kedatangan kaum muslim yang hijrah dari Arab dan persia sekitar tahun 600-800an Masehi, masuklah unsur arab kedalam kata Rahadyan menjadi Ra’Dien yang artinya kurang lebih sama, pemimpin agama, kata Ra’din kemudian berubah menjadi Raden. (7) Dari perjalanan kata Rakeyan menjadi Kian dan rahadyan menjadi Raden saja membutuhkan waktu ratusan tahun.

Hal yang sama pun terjadi dengan kata ‘Sancang’ seiring dengan perubahan dialek dan pengaruh yang lain dalam kisah turun temurun menjadi kata ‘Santang’. Sancang adalah nama kota kuno di Jawa Barat, yang lokasi-nya saat ini masih dapat kita kunjungi di hutan Sancang, Garut Selatan.

Gambar diatas adalah peta kecamatan di Garut. Makam berada di kecamatan Cisompet (no.40)

Jadi berdasarkan temuan diatas, kami menyimpulkan bahwa Keyan Santang/ Kian Santang dan Rakeyan Sancang adalah tokoh yang sama, yang dikisahkan dari generasi ke generasi selama ratusan tahun hingga mengalami perubahan bunyi dan makna, yaitu yang pada awalnya hanya gelar menjadi nama.

Rakeyan Sancang sendiri bila dilihat dari arti bahasa, artinya pangeran yang berasal dari Sancang, menegaskan jabatan dan asal kota atau tempat dimakamkannya sang pangeran.

Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, Sancang adalah kota kuno yang sekarang lokasinya berada di Garut Selatan dan terkenal dengan hutan/leuweung ‘Sancang-nya’. Kami mengetahui bahwa hutan Sancang adalah lokasi bekas pemukiman kuno, diantaranya ditandai dengan adanya kompleks pemakaman di dalam hutan Sancang.

Lokasi makam berada di puncak bukit. Pemandangan leuweung Sancang dari situs makam.
Makam Prabu Rakeyan Sancang. Berlokasi di situs Gunung Nagara, Sancang Garut. Gambar sekitar lokasi makam.
Lokasi makam berada di Padepokan Gunung Nagara.

Kisah Rakeyan Sancang dan pertemuannya dengan Imam Ali ra  dikisahkan secara turun temurun, dari generasi ke generasi, baik dalam bentuk pantun maupun wayang, dan seperti umumnya tradisi lisan pasti mengalami penambahan, pengurangan isi kisah dan perubahan nama tokoh yang disesuaikan dengan dialek sang penutur.

Sumber tertulis yang ada sekarang umumnya adalah salinan yg dibuat pada era kolonial atau berdasarkan kisah turun temurun yang kemudian ditulis dalam bentuk pantun atau prosa. (tentang pemalsuan sumber sejarah tertulis untuk lebih lengkapnya bisa dibaca tulisan kami yang berjudul ‘nasib Sumber Sejarah Tertulis di Indonesia; https://sofiaabdullah.wordpress.com/category/sejarah/sumber-sejarah/)

Salah satu sumber tertulis yang kami dapatkan dari salah satu padepokan di Banten, mengenai kisah Kian Santang, yang lebih bisa diterima dalam ilmu sejarah mengatakan bahwa pertemuan antara Kian Santang dengan Imam Ali terjadi di Mekkah setelah peristiwa fathu Makkah/ penaklukkan Makkah (629 M) pertemuan ini memang di sengaja karena perintah dari sang ayah, Prabusiliwangi, agar putranya mencari guru yang ilmunya mumpuni.

Singkat kisah setelah mempelajari Islam langsung dari Rasul saw dan Imam Ali as, Kian Santang diperintahkan Rasul saw untuk mengabarkan ttg Islam atau syi’ar di tanah Jawa (Sunda).

Kisah prabusiliwangi yang berperang melawan anaknya sendiri, atau Prabusiliwangi yang berubah atau ‘ngahiang’ menjadi maung setelah kalah berperang dengan putranya sebenarnya tidak pernah ada, kisah-kisah tersebut hanyalah penambahan-penambahan yang dipaksakan dengan tujuan merusak data sejarah hingga tidak layak lagi di jadikan sumber, karena berdasarkan sumber dari Banten tadi Prabusiliwangi-lah justru yang memerintahkan putranya untuk berguru ke Imam Ali di Mekkah.

Peperangan antara ayah dan anak, ketika sang anak memilih Islam adalah kisah rekayasa buatan era kolonial untuk memperburuk citra Islam, kisah seperti ini terdapat hampir di setiap naskah kuno di Indonesia, karena memang mayoritas naskah-naskah ini buatan era kolonial, baik yang berbentuk buku atau lontar.

Kisah orang tua melawan anaknya setelah sang anak memeluk Islam yang terkenal selain Kian Santang dan Prabusiliwangi antara lain Raden Fatah berperang melawan ayahnya, raja Majapahit, Brawijaya V. Kisah Raden Fatah dan Brawijaya V dari Majapahit memiliki alur cerita yang hampir mirip dengan kisah Kian Santang dan Prabusiliwangi, dan beberapa kisah serupa yang kami temukan pada naskah-naskah kuno salinan dari Sumatera dan Kalimantan.

Dari sini dapat ditarik benang merah bahwa kisah-kisah yang hampir mirip ini pada dasarnya adalah kisah leluhur yang sama hanya saja dikisahkan pada lokasi yang berbeda dengan bahasa dan dialek yang berbeda, seperti yang di katakan pangeran Wangsakerta dalam naskah Wangsakertanya : “Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”. (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya)

Malik al Hind & Rakeyan Sancang

pembuktian ketiga dari sejarah Islam. Berdasarkan hadits yang cukup terkenal dikisahkan tentang kedatangan seorang tokoh dari Hindia, tidak disebutkan nama tapi hanya gelarnya saja, Malik al Hind, yang artinya ‘penguasa dari Hindia’. Hindia adalah sebutan bagi kepulauan Nusantara sebelum dan sesudah era kolonial. Sebutan bagi anak benua India ratusan tahun lalu adalah Bharat, dan nama Bharat ini masih di gunakan hingga saat ini sebagai nama resmi India. Setelah masuk Islam Rasul saw mengganti nama Malik al Hind menjadi Abdullah as Samudri. (8)

Keberadaan sejarah Malik al Hind dalam sejarah Islam, menandakan adanya hubungan bilateral antara Rasul saw sebagai pemimpin kaum muslim dengan para pemimpin dari Nusantara (Hindia). Nama Abdullah, gelar as Samudri yang artinya dari Samudera, sebutan untuk kepulauan Nusantara dalam logat Arab, jelas menandakan adanya kesamaan dengan tokoh Kian Santang pada sejarah lokal yang setelah masuk Islam namanya menjadi Abdullah Iman.

Kisah yang kurang lebih sama dengan Kian Santang dalam tradisi lisan masyarakat Ciamis dikenal dengan nama Sanghyang Borosngora yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Abdul Iman. Tokoh ini dan putranya yang benama mbah Panjalu dimakamkan di Nusa Gede, situ Lengkong Panjalu, Ciamis.

Makam mbah Panjalu pitra dari Sang Hyang Borosngora, Lokasi pemakaman di pulau Nusagede di tengah Situ (danau) Lengkong. Sumber gbr : https://www.cicuit.my.id/2017/01/wisata-ziarah-ke-situ-lengkong-di.html?m=1

Adanya usaha pemalsuan sejarah Islam melalui sistem penyalinan dari naskah-naskah aslinya juga tidak bisa dianggap remeh, karena pemalsuan naskah = pemalsuan sejarah, masih menurut Boechari penyalinan ini tidak terbatas hanya pada naskah, namun juga terdapat pada prasasti dan bangunan atau situs-situs kuno.

Kisah-kisah yang tertulis untuk memperburuk citra Islam ini, jumlahnya sangat banyak dalam naskah-naskah salinan yang tersebar di Indonesia. Namun demikian walaupun naskah-naskah ini bukan naskah asli, bukan berarti naskah-naskah ini 100% palsu. Dari hasil penelusuran kami, masih banyak data-data yang asli yang terkandung dalam naskah, bahkan ada yang murni salinan dengan hanya sedikit penambahan dan pengurangan yang tidak menghilangkan makna aslinya. Beragamnya jenis naskah salinan inilah yang menuntut para pemerhati sejarah untuk berhati-hati dan selalu lakukan croschek info dengan sumber sejarah yang lain yang dapat dirujuk kebenarannya.

Mudah-mudahan sepotong kisah penelitian sejarah Islam yang sedang kami tekuni ini dapat bermanfaat dan memberikan sedikit kejelasan tentang sejarah Islam di tanah Sunda.

*catatan penulis

Tulisan ini adalah versi terbaru dari tulisan kami sebelumnya dengan judul yang sama. Tulisan kami sebelumnya  ditulis oleh penulis (SofiaAbdullah) tahun 2010 dan di bagikan di sosial media tahun 2016. Tulisan ini kami revisi dengan tambahan keterangan, sebagian buku-buku referensi dan adanya temuan-temuan terbaru kami yang belum masuk dalam tulisan sebelumnya. Temuan kami terbaru (2016-2020) diantaranya hadits nabi tentang malik al Hind dan beberapa hadits tentang Hindia, penafsiran Saka yang menurut penelusuran kami jauh lebih tua dari konversi Saka yang ada saat ini dan temuan rute perdagangan jalur laut yang melalui Nusantara.

Bagi para pembaca yang pernah membaca tulisan edisi sebelumnya, mohon di informasikan untuk diganti dengan tulisan terbaru kami ini, terimakasih.

Catatan kaki dan Buku-Buku Referensi

(1) Q.s Al Baqarah : 213

(2) Firman Allah SWT dalam al Qur’an QS. Ibrahim 14: Ayat 4:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَا نِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۗ فَيُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

(3) Suhartawijaya, Ma’mur H.A.H, Kisah Prabu Kian Santang, Jakarta 1401 H (1980 M)

(4) menurut IR Haji Dudung Faiturahman, Rakeyan Sancang adalah putra dari  raja Kertawarman, penguasa Tarumanegara VIII dari tahun 561-628 M. tapi berdasarkan penelusuran penulis, Rakeyan Sancang adalah gelar pemimpin atau putra penguasa daerah Sancang. Adapun siapa nama tokoh dibalik gelar Rakeyan Sancang ini ada beberapa kemungkinan yang masih dalam penelusuran kami lebih lanjut. Dari hasil temuan kami ada perbedaan dalam penafsiran tahun saka, itu sebabnya kami belum mendapatkan nama penguasa adil (prabusiliwangi) dan nama asli Rakeyan Sancang sebelum masuk Islam yang dikenal penduduk setempat yang hidup pada masa Rasulullah saw.

(5) Kumpulan Tulisan Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti, penrbit KPG, Jakarta 2012

(6) Berdasarkan teori era kolonial, dan menurut pendapat beberapa sejarawan, gelar Haji yang banyak tercantum setelah gelar jabatan (Ratu, Adipati dsb) seperti dalam gelar Prabusiliwangi; ratu haji di pakwan pajajaran diartikan sebagai gelar raja/kaum bangsawan yang bermakna sama dengan Aji. Tapi Dalam kamus Jawa Kuno Zoetmoulder 2 kata ini adalah 2 kata dengan arti yang berbeda. Haji dalam kamus jawa kuno berarti raja, keluarga raja, pangeran, Seri Baginda, Yang Mulia. Contoh penggunaan kata haji dalam naskah kuno: Ad 8, 17; Udy&RY 12,23; AW&TK 98. Passim : Stri haji, bini haji, kadaņ haji, bapa haji, ibu haji, bhrtya haji, kuti haji, pakis haji, tapa haji, bwat haji. Cara penggunaanya khusus; tidak pernah di dahului ņ, sang, sri dsb (Zoetmulder, 327)
Sementara kata ‘aji’ artinya kitab suci, teks suci, teks yang berwenang,mis. Peraturan2 utk brahman, instruksi ttg administrasi, politik, ptaktek kekuasaan,dll; formula dengan kekuatan  magis atau sangat suci (Zoetmulder, hal. 17). Aji memiliki arti yang sama dengan haji hanya dalam kidung bukan dalam kakawin, karena dalam kidung diperbolehkan adanya pemotongan huruf. Dari hasil pengamatan kami kata haji lebih sesuai untuk kata ‘haji’ yang artinya gelar bagi mereka yang telah melakukan ibadah haji di Mekkah. Ibadah haji adalah salah satu ritual agama Tauhid uang telah ada sejak masa nabi Ibrahjm as. Pembahasan gelar haji akan kami bahas dalam tulisan kami berikutnya yang khusus membahas gelar haji ini, InsyaAllah.

(7) Rakeyan berasal dari kata Rakryan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan pangkat atau kt benda kategorik (apatih,tumenggung, dll); dipakai dalam sapaan sopan atau kpd orang yang lebih muda, kakak pd adik, suami pada isteri. (Zoetmulder,hal. 911) Kata raden berasal dari kata ra+hadyan, radyan, rahaden, raden artinya orang yang berstatus tinggi, raja/tuan, orang berpangkat atau tinggi martabatnya, cth : raden mantri, raden Wijaya, raden Galuh, raden Arya (Zoetmulder, hal. 327)

(8) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak (kitab al-‘At’imah Vol. 4, halaman 150), dari sahabat Sa’id al-Khudri r.a, disebutkan bahwa ada seorang raja dari negeri India (al-hind) yang datang membawa hadiah kepada Rasulullah Saw berupa tembikar yang berisi jahe. Hadits tersebut secara lengkap berbunyi sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: «أَهْدَى مَلِكُ الْهِنْدِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَرَّةً فِيهَا زَنْجَبِيلٌ فَأَطْعَمَ أَصْحَابَهُ قِطْعَةً قِطْعَةً وَأَطْعَمَنِي مِنْهَا قِطْعَةً

Artinya: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata: ada seorang raja dari Hindia memberikan hadiah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebuah tembikar yang berisi jahe. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi makan kepada sahabat–sahabatnya dari jahe tersebut sepotong demi sepotong, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberikan saya sepotong jahe dari dalam tembikar itu” (HR. Hakim, hadits nomor. 7190)

Buku-Buku Referensi

  1. Al Husaini al hamid H. M. H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw, Cet. XI 2006, Pustaka Hidayah.
  2. Subhani, Ja’far, Sejarah Nabi Muhammad SAW = Ar Risalah/Ja’far Subhani; penerjemah, Muhammad Hasyim&Meth Kieraha; penyunting, Tim Lentera, cet. 8, Jakarta; Lentera 2009
  3. Al Hadad. Bin Thahir. Al Habib Alwi, Sejarah Masuknya Islam Di Timur Jauh, Cet.I, 2001, Lentera Baristama.
  4. Sunyoto. Agus, Atlas Wali Songo, Cet.1, 2012, Pustaka Iman.
  5. C.I.E.MA.Arnold.TW, Preaching Of Islam : A History Of The Progation Of The Muslim Faith, 1913.
  6. Aceh. Aboebakar.H.Dr.Prof, Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia, Cet.4,1985, Ramdhani.
  7. Al Jibouri. Yasin. T,Konsep Tuhan Menurut Islam, Cet. 1, 1997, Ansariyan Publication Qum Iran
  8. Tjandrasasmita,Uka, Arkeologi Islam Nusantara, penerbit KPG, Jakarta 2009
  9. Ekadjati. Edi. S, Pustaja Rajya-rajya i Bhumi Nusantara Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanalogi). Direktorat Jendral Kebudayaan Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung, 1987 (Naskah Wangsakerta)
  10. Ekadjati. Edi. S, Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta, PT Dunia Pustaka Jaya, Cet. 1, 2005.
  11. Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Cet.1,2012, Kepustakaan Popular Gramedia.
  12. Atja, Carita Purwaka Caruban Nagari Karya Sastra Sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah, Cet 2, Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
  13. Raffles. Thomas. Stamford, The History Of Java, Cet. 3, Yogyakarta, Narasi,2014
  14. Suhartawijaya, Ma’mur H.A.H, Kisah Prabu Kian Santang, Jakarta 1401 H (1980 M)
  15. Zoetmulder, P.J, S.O Robson, Kamus Jawa Kuna-Indonesia; penerj.Darusuprapta, Sumarti Suprayitna-Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995.
  16. Al Kharbuthli Ali Husni Prof Dr, Sejarah Kabah, cet. 3, 2013, Khazanah Pustaka Islam.
  17. Dan berbagai sumber lain baik berupa buku atau situs online terkait, yang jumlahnya terlalu banyak bila kami sebutkan semua di artikel ini.

‘Nasib’ Sumber Sejarah Tertulis di Indonesia

Sebelum membicarakan panjang lebar tentang sejarah Indonesia, saya mau bicara dulu tentang sumber sejarah di negeri ini.

Sumber sejarah ini perannya sangat penting dalam penelitian sejarah, bila sumber sejarah rusak, dipalsukan, atau disalah artikan, otomatis sejarah pun akan rusak.

Karena itu, penting sekali untuk mempelajari sumber sejarah sebelum digunakan sebagai sumber penelitian.

Apa aja sih sumber sejarah itu?

Seperti kita pelajari di sekolah, secara garis besar sumber sejarah itu terbagi 2, sumber sejarah tertulis dan tidak tertulis. Sumber sejarah tertulis adalah semua tulisan dan catatan kuno yang ditemukan dalam bentuk prasasti, naskah, kitab, yang tertulis dalam lontar, kertas atau pelepah kayu.

Gbr. Kakawin Kresnayana, salah satu sumber sejarah tertulis yang mengisahkan tentang perjalanan prabu Kresna, menyelamatkan Istrinya, Rukmini yang di culik

Sumber sejarah tidak tertulis adalah warisan budaya berupa adat istiadat, tradisi, bentuk bangunan, permainan, lagu-daeraj, alat musik tradisional, keyakinan dan ideologi.

Untuk kali ini saya akan share tentang sumber sejarah tertulis di Indonesia, sebagai rujukan terpenting dalam penelusuran sejarah di negeri ini. Untuk sumber sejarah tidak tertulis akan saya bahas dalam kesempatan lain.

Sumber Sejarah & Kaitannya dengan Penguasa

Sumber sejarah memiliki kaitan yang erat dengan penguasa dan kekuasaan. Dari masa ke masa, setiap penguasa yang sah dan adil akan berusaha untuk melindungi sumber sejarah tertulis ini dengan berbagai cara. Salah satu cara yang dilakukan leluhur nusantara untuk melindungi naskah-naskah kuno tertulis adalah dengan menyalin kembali naskah-naskah tersebut, baik dalam bentuk aslinya, mempelajari huruf dan bahasanya agar dapat mengartikannya, kemudian menyalinnya dalam bentuk kitab dengan bahasa yang digunakan pada masa itu agar naskah tersebut dapat dimengerti oleh masyarakat yang hidup pada saat naskah tersebut dibuat dan generasi yang akan datang.

Namun hal sebaliknya akan terjadi bila penguasa yang memerintah saat itu bukan pemerintah yang sah, yang berkuasa karena kehendak pribadi atau golongan tertentu yang tidak didukung mayoritas masyarakat pada saat itu. Pemerintah yang tidak sah ini akan menghilangkan sumber sejarah tertulis lama atau yang asli dan menggantinya dengan kitab-kitab yang mengisahkan tentang dirinya atau mengaitkan dirinya dengan penguasa yang sah saat itu.

Pemerintahan yang tidak sah tentunya akan melahirkan pemberontakan dan kerusuhan, bahkan peperangan, karena penduduk wilayah tersebut tidak rela negerinya ‘diambil’ oleh penguasa yang tidak sah.

Buku atau kitab yang tertulis ini kemudian akan menjadi sumber sejarah terpenting bagi generasi yang akan datang untuk mengetahui berdiri, berjalan dan runtuhnya suatu bangsa. Dengan mempelajari sumber sejarah tertulis ini kita dapat mengetahui ‘status’ dari negeri uang tertulis dalam sumber sejarah tersebut. Bila suatu negeri atau wilayah dikuasai dengan paksa atau dijajah, sejarah negeri tersebut akan dirusak atau dipalsukan, dengan tujuan melegalkan kekuasaan yang telah di ambil secara paksa.

Bila suatu negara di analogikan sebagai rumah maka sumber sejarah tertulis adalah ‘sertikat’ rumah tersebut, yang menjelaskan perihal rumah dan pemilik rumah sebelumnya. Namun bila terjadi ambil alih sepihak atau dengan cara paksa maka si pemilik baru rumah tersebut akan menyatakan apapun agar rumah tersebut menjadi miliknya yang sah atau membuat rumah tersebut seolah tak memiliki penghuni sebelumnya, atau satu negeri yang primitif yang tidak meninggalkan sejarah tertulis.

Itulah fungsi penting sejarah tertulis, ia merupakan bukti sah bahwa wilayah tersebut sebelumnya sudah dimiliki secara turun temurun oleh para pendiri negeri yang dikuasai dengan paksa. Untuk melegalkan kekuasaannya ia akan membuat sejarah baru yang memuliakan namanya dan merusak citra atau merendahkan status para pendiri negeri.

Gbr. Babad Tanah Jawi. Babad ini mengisahkan tentang pergantian kekuasaan dari Mataram lama yang beribukota di Pajang, dengan Mataram Baru yang mengatasnamakan Islam, padahal pemerintahan lama yang di kudeta adalah juga pemerintahan Islam

Karena itu dalam penelusuran sejarah yang bersumber dari kitab kitab yang disalin dari naskah kuno, jangan langsung percaya, pelajari dulu naskah tersebut, lihat latar belakang atau sejarah naskah dan masa penyalinan sumber sejarah tersebut, oleh siapa disalin dan siapa penguasanya pada saat itu. Mengetahui sejarah naskah dan sumber sejarah tertulis lain sangat penting, karena sumber sejarah erat terkait dengan para penguasa pada masa ditulisnya naskah-naskah tersebut.

Setelah melihat sejarah naskah, baca isinya, apakah dalam naskah tersebut banyak terdapat keganjilan? Atau peristiwa peperangan yang tidak pernah selesai ? Itu artinya naskah tersebut ditulis oleh penguasa yang tidak sah, yang berkuasa karena kudeta atau penjajahan. Naskah tersebut ditulis untuk menghilangkan jejak sejatah yang asli.

Sumber Sejarah Tertulis dan Penguasa

Sumber sejarah tertulis di Indonesia mengalami beberapa kali pergantian penguasa, dari mulai pra kolonial (sd tahun 1600an), era Mataram Baru (1600 sd 1755) kemudian era Kolonial (1755 sd 1941). Pada tiap-tiap masa ini menghasilkan sumber sejarah bagi generasi setelahnya, baik itu berupa karya sejarah dan sastra atau naskah kuno berupa berita yang mengisahkan hal ikhwal yang terjadi pada masa naskah tersebut di tulis.

Naskah-naskah ini, baik yang asli ataupun salinan ditulis oleh para ahli sastra dan sejarah pada masanya yang kemudian dijadikan sebagai kitab rujukan sejarah untuk masa kini dan yang akan datang.

Pada era kolonial naskah naskah kuno dan Kitab kitab ini sebagian besar di salin, di terjemahkan dan di tafsirkan oleh sejarawan Eropa. Naskah-naskah ini setelah disalin berulang kali terdapat banyak penambahan dan pengurangan isi naskah dan sangat rentan dipalsukan.

Naskah-naskah kuno dan artefak yang pada awalnya terjaga dan terawat dengan apik dalam perpustakaan-perpustakaan keraton (benteng kota) banyak yang hilang karena diambil pihak kolonial sebagai rampasan perang atau rusak terbakar.

‘Nasib’ sumber Sejarah tertulis Nusantara

Ditangan pihak kolonial naskah naskah ini disalin, dengan isi yang dimodifikasi, dimaknai dan disesuaikan dengan kepentingan pemerintah kolonial pada saat itu, baik disengaja maupun tidak.

Naskah salinan inilah yang dikalangan ahli sejarah dikenal dengan nama Naskah Tinulad.

3 kitab salinan terkenal yang sudah disalin belasan bahkan puluhan kali oleh sejarawan Eropa dan tidak pernah ditemukan naskah aslinya hingga saat ini (2020)

Mengenai naskah Tinulad, pada tanggal 16 Sept 1988, dalam rangka forum diskusi panel Naskah Sumber Sejarah, para ahli sejarah, diantaranya terdiri atas ahli filologi dan epigrafi terkemuka seperti prof. Boechari (1927-1991), ahli ssejarah Sunda seperti Atja, Ayatrohaedi, dan lain sebagainya, menyatakan bahwa sebagian besar sumber sejarah yang kita miliki dan dijadikan sumber sebagai sejarah negeri ini adalah sumber sejarah Tinulad atau Salinan, yaitu naskah atau sumber sejarah tertulis yang disalin kembali dari sumber sejarah asli, atas permintaan penguasa pada zamannya.

Sumber sejarah Tinulad/salinan ini terbagi dalam 2 jenis:

1. Dalam bentuk naskah, sumber sejarah disalin ulang dalam bentuk teks yang ditulis di dalam buku atau sejenis kertas folio. Kasus penyalinan seperti ini banyak terjadi, terutama untuk transliterasi prasasti atau naskah-naskah lontar.

Dilihat dari fisik naskah, hiasan pada naskah ini jelas hiasan khas Eropa, yang menandakan naskah ini disalin oleh sejarawan Eropa

2. sumber sejarah Tinulad yang disalin dengan menyerupai bentuk aslinya, naskah tinulad seperti ini di sebut Tinulad Otentik. contoh : salinan tulisan pada prasasti yang ditulis diatas batu, dibuat kembali persis seperti aslinya, diatas batu. Demikian pula hal nya dengan tulisan pd lempeng logam atau lontar, akan disalin kembali pada lempeng logam atau lontar. (*)

Contoh tinulad otentik yang terkenal adalah kitab Negarakrtagama, menurut keterangan dari Prof. DR. Drs. I Ketut Riana, S.U, kitab asli Negarakrtagama ini tidak pernah ditemukan, kemungkinan kitab ini hancur bersama runtuhnya kerajaan Majapahit.

Gbr. Kitab Negarakrtagama salinan dalam bentuk lontar dan kitab. Tradisi penyalinan naskah kuno dengan lontar masih terus di budayakan hingga saat ini di Bali, tepatnya di Karang Asem dibawah asuhan I Dewa Gde Catra dan di Gedong Kirtya, Singaraja di bawah asuhan Prof. DR. DRS. I Ketut Riana, S.U (penterjemah kitab Negara Krtagama, yg terbit thn 2009). Sumber gambar naskah lontar Negarakrtagama http://library.lontar.org/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpklontar-ldl-img-135

Kitab asli Negarakrtagama yang tidak pernah ditemukan kemungkinan ditulis pada bilah lontar. Naskah diambil alih oleh pemerintah kolonial Tahun 1894, ketika terjadi penyerangan puri Cakranegara, Lombok. Sebelum puri habis terbakar, J.L.A Brandes mengambil semua naskah yang terdapat di puri Cakranegara, yang kemudian diketahui, bahwa naskah tersebut adalah naskah salinan yang dibuat pada abad ke- 17.

Naskah temuan inilah yang terus disalin berulang kali oleh pemerintah kolonial baik dalam bentuk naskah atau kitab. Setidaknya naskah ini disalin dan dibuat duplikatnya dalam bentuk lontar lebih dari 15 kali, hingga bagi mata orang awam akan sulit membedakan antara naskah yang asli dengan yang palsu.

Jumlah Naskah Tinulad yang tersebar di Indonesia yang dibuat pada era kolonial, kisaran tahun 1870-1900-an sangat banyak dan sangat rentan untuk dipalsukan sejarahnya.

Kenapa harus dipalsukan?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, tujuan pemalsuan sejarah tertulis diantaranya :

1. Bertujuan melegalkan kekuasaan di wilayah yang diambil paksa atau dijajah, dengan cara meninggikan status yang menjajah menjadi terhormat dan merendahkan status penduduk asli wilayah tersebut.

2. melanggengkan kekuasaan kolonial untuk menguasai kekayaan alam Indonesia.

Berikut contoh Naskah-naskah Tinulad yang cukup terkenal di Indonesia yang ke otentikan isi-nya hingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Naskah-naskah ini antara lain:

Kitab Negara Krtagama.

kitab ini mengisahkan masa pemerintahan dan tata kota pada masa kerajaan Kediri, Singosari dan Majapahit (walaupun nama Majapahit tidak ada dalam kitab ini), tertulis pada lontar dan kitab, dengan 2 macam bahasa dan tulisan; huruf dan bahasa Bali, huruf snskerta dan bahasa Jawa kuno. Naskah ini diambil sebagai rampasan perang (bukan ditemukan seperti yang kita pelajari pada sejarah umum) dari perpustakaan Keraton Lombok oleh pemerintah kolonial pada saat penyerbuan tentara KNIL setelah membunuh ratusan warga lombok dan membakar habis keraton lombok. Naskah ini kemudian dipelajari dan disalin oleh JLA Brandes. Kemudian disalin kembali oleh murid-muridnya hingga lebih dari 15x termasuk naskah dalam bentuk lontarnya.

Babad Tanah Jawi

Kitab ini juga merupakan naskah tinulad yang telah belasan kali ditulis ulang dan diterjemahkan dalam berbagai versi.

Kitab Pararaton

Naskah Wangsakerta dan masih banyak lagi.

Gbr. Naskah salinan Wangsakerta, koleksi Sribaduga Museum

Naskah ini termasuk salah satu Naskah kontroversi, dan para ahli sejarah hingga saat ini masih mendebatkan sah atau tidaknya informasi yang ada pada naskah ini dijadikan sumber sejarah karena alasan-alasan berikut:

1. Bangunan aksara. sambungan huruf per huruf dlm naskah wangsakerta banyak terdapat kesalahan.
2. Ornamen pada naskah menunjukkan adanya unsur Eropa bukan Jawa Asli. Dan hanya ada pada lembaran pertama, tidak ada pada lembaran berikutnya.

3. Naskah terlalu kasar untuk ukuran naskah sepenting ini.
4. Garis tebal tipis pada huruf hanya dapat dibuat dengan pena modern yang baru ada sekitar tahun 1800an. Alat tulis asli nusantara pada saat itu adalah kuas, canting, pena bulu, alat tulis ini memiliki kualitas tulisan yang jauh beda dengan naskah ini, salah satunya adalah ketebalan tulisan merata.
5. Terlalu sesuai dengan sejarah teori kolonial.

Dalam bentuk prasasti antara lain:

Padrao, yang dikatakan sebagai prasasti perjanjian Sunda-Portugal, faktanya padrao adalah prasasti berbentuk tugu setingi 165cm yang didirikan oleh para pelaut portugis sebagai tanda kedatangannya pada suatu wilayah, padrao ini ada di berbagai wilayah yang disinggahi para pelaut portugis.

Padrao dalam sejarah umum dikatakan sebagai perjanjian kerajaan Sunda dengan Portugis untuk melawan Kesultanan Demak, faktanya Padrao adalah semacam tugu peringatan yang di didirikan di setiap wilayah yang pernah di singgahi pelaut portugis pada masa “Pencarian Dunia Baru”.

Sunda Kelapa adalah nama salah satu pelabuhan Internasional pada saat itu yang pernah di singgahi oleh para pelaut portugis ini, dan didalam prasasti ini pun tidak disebut sebut nama kerajaan Sunda, hanya nama Kapten dan simbol kerajaan portugal.

Memang benar bahwa perjanjian itu ada namun hanya perjanjian jual beli dan sewa tanah antara adipati pelabuhan Sunda Kelapa dengan portugis penguasa Malaka, dan ini adalah hal yang umum terjadi, karena pada masa itu, sekitar abad pertengahan sebelum dan sesudahnya hingga akhir abad ke 19, proses perdagangan membutuhkan waktu yang lama bagi para awak kapal untuk menetap di kota-kota pelabuhan untuk menjual barang dagangannya dan membeli barang yang baru. Karena proses yang lama inilah, para pedagang menyewa tanah dan membangun tempat tinggal sementara selama di wilayah tersebut.

Padrao adalah batu berbentuk tugu setinggi 165 cm, yang berfungsi sebagai penanda bahwa para pelaut portugal pernah singgah pada lokasi tempat didirikannya prasasti tersebut, prasasti ini tidak ada kaitannya dengan sejarah Jakarta ataupun kerajaan Sunda, fungsi prasasti yang ditemukan di pelabuhan Sunda Kelapa ini hanya sebagai penanda kedatangan Portugis di pelabuhan Sunda Kalapa pada tahun 1522.

Prasasti Batu Tulis Bogor, pada foto lama yang kami ambil dari wikipedia, pada bagian atas batu tulis ini masih terlihat kalimat ‘Bismillahirrah
manirahim‘ dan bekas tulisan lama yang di hapus kemudian di ditindih dengan huruf baru. Setelah mengunjungi situsnya langsung, besar kemungkinan situs ini awalnya adalah makam, karena masih ada beberapa makam yang tersisa. Dan yang dikatakan sebagai prasasti Batu tulis adalah nisan penanda makam leluhur yang memiliki peran yang sangat penting di wilayah jawa barat.

Prasasti Batu Tulis, Bogor, foto ini adalah foto lama yang diambil di lokasi situs antara tahun 1950-1960, masih terlihat samar ukiran kalimat “Bismillahirrahmanirahim” dan langsiran warna putih dibawah tulisan dan bahasa sunda kuno yang digunakan untuk menutup jejak asli tulisan pada batu ini, yang menurut pengamatan kami setelah berkunjung langsung ke situsnya di Bogor adalah batu bertulis yang digunakan sebagai penanda makam atau nisan.

Setelah mengetahui keberadaan naskah dan sumber sejarah tinulad ini, yang sebagian besar dibuat pada era kolonial, semakin jelaslah bahwa ada usaha yang luar biasa dari pihak kolonial untuk menguasai wilayah nusantara dan menjajah perekonomian negeri ini dalam waktu yang tak terhingga.

Ada satu hal yang menurut saya sangat disayangkan mengenai naskah dan sumber sejarah Tinulad ini, kenapa para ahli sejarah tidak pernah mensosialisasikan masalah ini? Karena saya pribadi saja sebagai pecinta sejarah, baru mengetahui tentang naskah Tinulad ini setelah melakukan penelitan serius tentang sejarah Islam di nusantara dan mempelajari banyak penelitian dari para peneliti dalam dan luar negeri tentang sumber sejarah yang ada.

menyikapi banyaknya sumber sejarah yang dipalsukan, diantara para peneliti asing tentang Sejarah Indonesia, mengambil 2 sikap, ada yang mengkritisi sumber sejarah, dan mempertanyakan keakuratan data dari sumber sejarah tersebut, ada juga yang menuliskan apa adanya yang mereka temukan dalam sumber sejarah tersebut walaupun mereka tau, sumber sejarah yang mereka ambil bukan sejarah asli, seperti biografi Diponegoro yang ditulis oleh Peter Carey.

Namun sayangnya sikap peneliti sejarah dari negeri sendiri justru kadang membuat sejarah seolah ‘harga mati’ dan tidak ada alternatif, hanya karena sikap fanatik berlebihan kepada pengusung teori pertama yang tidak lain adalah sejarawan era kolonial.

Teori adalah hasil hipotesa dari serangkaian bukti-bukti yang diambil dari sumber sejarah yang ada. Pertanyaannya, bila sumber sejarahnya dipalsukan, otomatis hipotesa dan teori yang ada pun akan gugur. Teori adalah pendapat yang sangat bisa di kritisi, tentunya setelah dipelajari latar belakang teori tersebut.

Mempelajari latar belakang lahirnya sebuah teori tentunya akan sangat sulit bagi masyarakat awam pecinta sejarah dan para pelajar serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang panjang. Itu sebabnya akan sulit bagi masyarakat umum untuk menelusuri sumber-sumber sejarah tadi. Karena faktor inilah seharusnya sudah menjadi tugas para peneliti dan para ahli sejarah untuk menyampaikan informasi latar belakang sejarah dalam wacana-wacana umum kemasyarakat dengan cara yang menarik agar masyarakat umum tidak buta dengan sejarah bangsanya sendiri.

Bagaimana seharusnya sikap peneliti terhadap naskah-naskah Tinulad?

Walaupun sumber sejarah yang kita miliki pada umumnya adalah naskah tinulad, bukan berarti naskah tersebut tidak lagi dapat digunakan, hanya saja dalam menggunakan sumber2 sejarah tersebut memerlukan penelitian dan perbandingan dengan sumber sejarah tertulis yang lain dari berbagai negara sebagai bahan pembanding dengan naskah-naskah tinulad yang ada.

Seorang peneliti harusnya bersikap netral dan seimbang, dan harus membuang jauh ‘kukungan’ teori lama, jadi ketika menemukan bukti sejarah baru, banyak alternatif sejarah yang bisa diambil. Contohnya begini : menurut teori era kolonial kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Budha, namun ketika melakukan penelitian di temukan bukti-bukti bahwa Sriwijaya adalah ternyata kerajaan Islam, nah semia bukti-bukti yang dapat menguatkan argumen ini harus dinyatakan secara jelas mengikuti standar penelitian ilmiah.

Namun fakta yang selama ini terjadi adalah bukti apapun yang ditemukan sifatnya hanya mendukung teori lama, bukan memasukkan alternatif baru dalam sejarah Sriwijaya, walaupun bukti-bukti pendukung bahwa kerajaan ini adalah kerajaan Budha baik tertulis atau tidak, sangat sedikit.

Sumber-sumber sejarah dari luar negeri juga sangat diperlukan karena banyak peristiwa sejarah saling terkait antara peristiwa yang satu dengan lainnya.

Sedangkan untuk sumber sejarah tertulis berupa naskah naskah kuno, dapat dipelajari dengan cara membandingkan dan mempelajari hasil penelitian para ahli sejarah dari dalam dan luar negeri.

Untuk meneliti sendiri tentunya akan sulit dan membutuhkan waktu yang lama karena penelitian sejarah melibatkan berbagai disiplin ilmu, di tambah lagi sumber sejarah yang kita miliki banyak tersebar di Eropa dan Amerika, yang hanya mengizinkan orang orang tertentu untuk memasuki perpustakaan perpustakaan ini. karenanya mempelajari dan membandingkan sumber sejarah dari para peneliti lain akan mempermudah penelusuran sejarah.

Salah satu diantara para peneliti yang dapat kita pelajari hasil penelitiannya tentang naskah kuno yang kita miliki adalah seorang ahli sejarah dan peneliti daftar naskah Islam kuno dari timur jauh, Dr. Jan Just Witkam, profesor Codecology dan Paleografi Dunia Islam dari Universitas Leiden, Belanda, yang telah menyusun daftar koleksi ribuan naskah Islam kuno yang dimiliki perpustakaan Leiden.

Daftar naskah kuno koleksi Leiden yang telah dikumpulkan oleh prof. Witkam ini telah mencapai ribuan naskah dengan keterangan singkat yang telah tersusun hingga 21 jilid dan masih berjalan hingga saat ini.

Pada jilid pertama bukunya ia mengatakan bahwa ribuan koleksi naskah kuno Indonesia yang kini ada di perpustakaan Universitas Leiden Belanda diperoleh dari hasil rampasan perang atau dibeli dari perorangan yang menjualnya kepada Universitas Leiden secara berangsur angsur selama berabad abad dari mulai era kolonial hingga tahun 1960-an oleh para misionaris atau pihak pribumi yang prokolonial.

Selain sumber sejarah berupa naskah, budaya dan penduduk juga mempunyai peranan penting dalam penelusuran sejarah. Sumber silsilah atau nasab yang masih dimiliki dari tiap-tiap keluarga di Indonesia sangat membantu sebagai bahan perbandingan penelusuran leluhur nusantara dengan silsilah yang terdapat pada naskah-naskah tinulad.

sofia abdullah

Catatan kaki & Sumber

(*) sumber:

1. Boechari,hal. 545-547, melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti, Kpg Gramedia, Jakarta, 2012)

2. Riana, I Ketut, S.U, Prof, DR, drs, Kakawin desa warnana uthawi Nagarakrtagama

Masjid Pada Era Madaniyyah (3)

Masjid Pada Era Madaniyyah, 622 M hingga wafatnya Rasulullah saw, 632 M (d)

Tahun 622 M, setelah Rombongan Imam Ali dan Rasul saw bertemu, bersama mereka melanjutkan perjalanan menuju Yastrib. Kedatangan beliau saw disambut dengan suka cita oleh sebagian besar penduduk Yastrib baik yang telah masuk Islam atau masih beragama Yahudi atau Nasrani. Sejak kedatangan nabi saw, kota Yastrib lebih di kenal dengan sebutan Madinatun nabiy (kota Nabi) yang kemudian di persingkat menjadi Madinah.

Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada pemeluknya bahwa agama adalah landasan dan solusi bagi segala permasalahan kehidupan, dari mulai masalah keluarga sampai masalah negara atau pemerintahan. Untuk mengajarkan semua hal tersebut dibutuhkan tempat yang berfungsi selain sebagai tempat untuk mengajar, juga sebagai tempat untuk beribadah, yang dalam bahasa Arabnya bernama Masjid.

Fungsi Masjid Pada Masa Rasulullah SAW

Rasullullah membutuhkan tempat sebagai pusat studi Islam, sekaligus tempat Ibadah, dan tempat berkumpulnya umat untuk menyelesaikan urusan dunia dan akhirat. Dengan pertimbangan ini dibuatlah Masjid yang pertama dalam sejarah Islam, yaitu Masjid Nabi di Madinah, yang kita kenal saat ini dengan Masjid Nabawi . Masjid ini dibuat mengikuti bentuk bangunan tradisional di Jazirah Arab pada umumnya.


Rasullullah SAWW menggunakan Masjid sebagai pusat studi Islam dan menyelesaikan berbagai masalah dunia dan akhirat, mulai dari syi’ar Islam, mengatur strategi politik hingga masalah rumah tangga. Semua masalah dunia diselesaikan dengan satu tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dalam Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah adalah landasan dari segala kegiatan dalam kehidupan manusia yang bertujuan akhir untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Lukisan Masjid Nabi saw sekitar abad ke 18, walaupun telah mengalami beberapa kali perluasan, bentuk bangunan Masjid masih mengikuti bangunan tradisional di Jazirah Arab pada masa itu, berbentuk bujur sangkar, tanpa kubah.
https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Medina_Grab_des_Propheten.JPG#mw-jump-to-license
Gbr. Masjid Nabawi, kini, walaupun telah banyak mengalami perubahan dan perombakan dari bentuk dan fungsi aslinya yang dibangun pada zaman Rasul tahun 622 M/2 H, bentuk asli bangunan khas Timur Tengah, persegi panjang tanpa kubah, tetap terlihat.
(sumber: http://dickyfs.files.wordpress.com/2008/08/p27-06-08_1430.jpg)

Sejak pertama kali Masjid Nabawi dibangun oleh Rasulullah saw, memang telah ditujukan untuk berbagai kebutuhan dunia (sosial) dan akhirat (Ilahiyyah). Fungsi sosial Masjid dapat dilihat dari berbagai masalah dunia, dari mulai urusan rumah tangga hingga pemerintahan diselesaikan Rasulullah di masjid Nabawi. Sementara fungsi Masjid yang terkait dengan masalah ilahiyyah, seperti sholat, mengaji, syi’ar Islam juga dilakukan di area Masjid.

Kota ini dibangun oleh nabi dan ditata sedemikian rupa dengan bangunan Masjid sebagai pusatnya. Sebagai pemimpin tertinggi mukmin (amirul mukminin) pada saat itu, Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya tinggal di sekitar masjid Nabi. Rumah pribadi Rasulullah dan sayyidah Fathimah menyatu dengan bagian utama Masjid, sementara pada bagian pelataran masjid terdapat rumah istri-istri nabi.

Beragamnya fungsi Masjid pada masa Rasul saw, menjadikan bangunan masjid terdiri dari beberapa bagian. Dari mulai teras atau ruangan-ruangan terbuka yang menempel dengan badan masjid hingga tempat singgah bagi kaum muslim yang tidak memiliki tempat tinggal.

Bentuk bangunan masjid seperti yang diajarkan rasul adalah kompleks bangunan yang memiliki beragam fungsi. Hal ini pulalah yang membuat masjid pada masa Rasullullah saw memiliki banyak bagian-bagian yang disesuaikan dengan fungsinya.

Masjid selain berfungsi untuk shalat, juga memiliki fungsi sosial dan hukum. Fungsi sosial misalnya sebagai lembaga pendidikan umat. Pada masa awal Islam, umat Islam yang tidak bisa baca tulis, belajar di masjid, juga mempelajari dan menelaah Al-Qur’an. Fungsi hukum misalnya menyelesaikan berbagai kasus umat, baik kasus pidana maupun perdata. Sebagai tempat untuk menerima utusan raja-raja dari luar negeri, dan sebagainya.

Gambar berikut adalah denah awal ruang beserta fungsinya di area Masjid nabi. Semua ruangan yang ada pada denah ini memiliki pintu yang berlawanan dengan bangunan utama Masjid kecuali tempat tinggal Rasulullah saw dan putri beliau, sayidah Fatimah Zahra dimana untuk memasuki rumah beliau harus terlebih dahulu masuk ke dalam masjid. Masjid Nabawi inilah yang menjadi patokan pembuatan masjid di seluruh dunia.
Dengan berpatokan pada denah dalam dan luar dari masjid Nabawi ini, kita dapat mengetahui fungsi bangunan-bangunan kuno yang ditemukan di Indonesia berdasarkan bentuknya.

Denah Ruangan Dalam Masjid Nabawi
(Sumber: orgawam.wordpress.com)






1. Tempat nabi menerima duta atau utusan dari dalam dan luar negeri: Nabi SAW menggunakan tempat ini untuk menemui para utusan yang datang. Beberapa Sahabat terkemuka duduk disekitar beliau selama pertemuan berlangsung.


2&14 Posisi tempat pengawal nabi: Menjadi tempat berdiri para pengawal Nabi SAW. Pintu rumah nabi berhadapan dengan tempat ini, dan Nabi SAW pergi melalui pintu ini menuju ke Masjid Nabawi.

3. Tempat istirahat nabi: Abdullah bin Umar RA bercerita, “Nabi SAW menggunakan tempat ini sebagai tempat tidur beliau selama I’tikaf.

7. Mihrab Nabawi: mihrab selama periode pemerintahan Nabi SAW adalah satu ruangan khusus yang tertutup yang digunakan nabi untuk melakukan shalat-shalat khusus dan ber I’tikaf, sampai pada masa Khalifah Umar bin Khatab (634-644) bentuk mihrab hanyalah dinding lurus. Pada masa Usman, ia memerintahkan tanda pada mihrab agar dapat diketahui arah kiblat. Mihrab berbentuk lengkung (arch) pertama kali dibuat pada Masjid Nabi Pada tahun 91 H, pada masa Umar bin Abdul Aziz.

11. Mimbar tempat Nabi SAW berkhutbah.

12. Tempat Muadzin: Tempat ini, berupa balkon segi empat, terletak di sebelah Utara Mimbar Nabi. Tempat ini selain sebagai tempat adzan juga sebagai tempat shalat muadzin dan untuk menguatkan suara takbir pada shalat lima waktu.

15. Tempat ahlus Suffah: Suffah berarti tempat berteduh. Sahabat Nabi yang miskin dan tidak memiliki rumah, bertimpat tinggal di Suffah. Di sini mereka mendapat pendidikan tentang Islam dan mengamalkannya. Tempat ini terletak dibelakang rumah pribadi Sayyidah Fathimah dan keluarga.

16. Babul Baqi (bab: pintu, Baqi: pemakaman Baqi) Pintu ini berhadapan dengan Bab Salam yang langsung mengarah ke pemakaman jannatul Baqi, yang merupakan pemakaman keluarga dan sahabat rasul saw, yang telah dihancurkan oleh pemerintahan bani Saud pada awal tahun 1930.

Pemakaman Jannatul Baqi
(Sumber: http://hasanalsaggaf.files.wordpress.com/2008/03/picture50.jpg)

Pemakaman Jannatul Baqi pada bagian belakang Masjid Nabi saww, sebelum dihancurkan oleh pemerintah Ibnu Sa’ud tahun 1930. Antara Masjid Nabi dengan Pemakaman Baqi terdapat pintu gerbang yang menuju pemakaman, pintu ini bernama; Baabul Baqi.

Fungsi bangunan adalah unsur penting dalam setiap pembangunan Masjid. Pada masjid-masjid kuno fungsi ini masih terlihat jelas, namun berjalannya waktu, pergantian penguasa dan faktor lain, bentuk bangunan lebih di utamakan dari pada fungsi bangunan masjid. Sepanjang sejarah Masjid banyak penambahan-penambahan bangunan yang tidak terkait dengan apa yang diajarkan Rasul saw. Bila dilihat dari fungsinya bangunan masjid yang ada pasca wafatnya Rasul saw hingga saat ini semakin jauh dari apa yang telah diajarkan Rasul saw.


Bangunan utama Masjid dengan bangunan-bangunan disekitarnya dipisahkan dengan dinding bata yang mengitari Masjid. Terdapat pintu gerbang menuju Masjid pada empat penjuru mata angin; Timur, Barat, Utara dan Selatan. Pintu-pintu ini disesuaikan dengan ruang dan bagian-bagian masjid untuk melakukan segala kegiatan yang berkaitan dengan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan pusat pemerintahan. (25)

Sumur atau kolam untuk bersuci dan untuk kebutuhan lain yang memerlukan air. Pada masa Rasulullah dicontohkan dengan adanya Bir’ Ghars atau sumur yang digali.
(Sumber: https://ahmedamiruddin.wordpress.com/2010/06/22/visiting-the-holiest-site-on-earth-the-grave-of-the-prophet-s/)

Salah satu sumur yang ada pada masa Nabi saw, disebut dengan Bir Ghars. Sumur ini memiliki arti penting bagi umat Islam karena dengan air yang berada di sumur inilah Rasul saw keluarga dan sahabat beliau memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Jasad rasulullah saw pun dimandikan dengan menggunakan air dari sumur ini. Berkenaan dengan Bir Ghars, Rasulullah pernah mengatakan dalam haditsnya bahwa mata air yang mengalir di sumur ini adalah salah satu mata air yang mengalir di surga. Namun sayangnya, kondisi situs bersejarah yang telah berusia lebih dari 1400 tahun ini sangat mengenaskan karena mata air tidak diberi tempat yang layak. Hanya jamaah haji tertentu saja yang diizinkan oleh pemerintah Saudi untuk mengunjungi situs ini karena selain dikelilingi oleh tembok beton, dijaga pula oleh aparat.

1. Dari berbagai bukti yang kami kumpulkan, Islam telah sampai ke Timur Jauh (Nusantara dan Cina) sejak rasul saw masih hidup, bukti-bukti tersebut antara lain berupa bangunan masjid dan makam, kisah penduduk dari generasi ke generasi, tradisi, dan sebagainya yang akan kami uraikan dalam bagian-bagian selanjutnya.

2. Hillenbrand, R “Masdjid. I. In the central Islamic lands”. Encyclopaedia of Islam Online. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-391


3. Syariat haji yang telah menyimpang pada era ini diantaranya ritual Qurban untuk berhala, tawaf berkeliling ka’bah tanpa busana, memenuhi ruang ka’bah sebagai tempat penyimpan berhala yang mereka gilir setiap tahunnya pada musim haji. (sumber : al Jibouri, T Yasin, Konsep Tuhan)

4. Fatimah bt Asad bin Hasyim, adalah bibi rasul karena beliau kemenakan Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Rasul saw.


5. Abrahah adalah Gubernur Yaman, Yaman pada masa ini adalah bagian dari kerajaan Aksum (Aksumite Kingdom 100M-940 M (Turchin, Peter and Jonathan M. Adams and Thomas D. Hall: “East-West Orientation of Historical Empires and Modern States”, p. 222. Journal of World-Systems Research, Vol. XII, No. II, 2006)


6. Dari zaman dahulu hingga sekarang ada 3 alasan utama manusia melakukan perjalanan ke negara lain; hubungan perdagangan, politik dan agama. Ketiga alasan ini mengerucut pada satu kegiatan, yaitu kegiatan ekonomi, yaitu segala kegiatan manusia yang terkait dengan uang atau segala hal yang menguntungkan golongannya. Untuk memperoleh tujuan tersebut seringkali para penguasa menggunakan dalil agama untuk mengerahkan massa agar memenuhi keinginannya. Demikian pula ketika wilayahnya menjadi objek tujuan ziarah atau ibadah. Demi keyakinannya manusia akan rela mengeluarkan sejumlah harta untuk mengunjungi atau berziarah ke wilayah lain yang bersejarah dalam keyakinan mereka. Daerah yang dijadikan objek ziarah ini tentunya akan mendapatkan keuntungan secara ekonomi dengan melayani kebutuhan para peziarah. Keuntungan inilah yang menjadikan para pemimpin dari masa ke masa berusaha menjadikan negerinya sebagai objek ziarah atau menyerang negeri lain untuk menguasai atau menghancurkan objek ziarah tersebut agar objek ziarah yang dibangunnya dapat menarik perhatian umat. Inilah faktor utama yang menjadikan Abrahah menyerang ka’bah. Dengan perlindungan Allah SWT, Abrahah dengan pasukan gajahnya tidak berhasil menyerang Ka’bah dan Masjidil Haram. Peristiwa ini juga menandakan salah satu mukjizat pertanda kelahiran Rasulullah saw.

7. Al Karbuthli, Ali Husni, Prof,DR, Sejarah Ka’bah, hal. 225-231,penerbit Turos, cet.III 2013.

8. QS al Anbiya: 21 : “dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.” Rahmat adalah sifat pengasih Allah SWT yang wujud dalam diri Nabi Muhammad saw. Allah SWT adalah Maha Pengasih sementara utusannya adalah manusia yang paling pengasih diantara makhluknya. Peperangan pada masa nabi adalah karena kaum muslim di serang bukan untuk penaklukan atau invasi.

9. Islam mengatur semua hubungan antar makhluk Allah dan bagaimana bersikap kepada sesama makhluk. Contoh pada setiap pemiliki ternak rasul selalu memperingatkan kepada pemiliknya agar memperlakukan ternaknya dengan kasih sayang, jangan terlalu membebani dan diberi makan dan tempat yang layak.

10. Bravmann, M.M Studies in Semitic Philology, hal. 441, Leiden, 1977.

11. Ja’far bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqas dan Jash bin Riyab setelah memimpin kaum muhajirin dari Mekkah ke Abyssinia, melanjutkan tugasnya sebagai utusan rasul ke negeri-negeri lain. Jash bin Riyab ke wilayah Indochina, Ja’far bi Abi Thalib ke Jawa, dan Saad bin Abi Waqash ke Guangdzou, China.

12. Jibouri T Yasin, Allah Konsep Tuhan Dalam Islam, hal. 668

13. Jibouri hal. 670. Rajab dan Dzulhijjah adalah bulan suci bagi masyarakat Jahiliyyah dan penganut agama tauhid sebelum Islam. Tradisi ini sebagai perayaan untuk memperingati keteguhan nabi Ibrahim dan Ismail menjalankan perintah Allah SWT, hingga akhirnya Allah SWT menggantikan posisi Ismail as dengan seekor kambing untuk disembelih. Walaupun telah mengalami perubahan dalam ritualnya, keyakinan Masyarakat kepada nabi Ibrahim dan Ismail tetap ada, karena umumnya bangsa Arab adalah keturunan dari nabi Ismail as. Pada masa Boikot Bani Hasyim dan Muthalub, hanya dalam bulan Rajab dan Dzulhijjah inilah nabi saw dan para utusannya melakukan syiar Islam kepada kepala-kepala suku di Jazirah Arab dan kepala-kepala suku dari negeri lain yang sedang melakukan ritual Haji.

14. Jin adalah makhluk Allah yang hidup di dunia berbeda. Keberadaan jin hanya dapat dilihat oleh para nabi, Rasul dan manusia tertentu. Jin memiliki kehidupan yang kurang lebih sama dengan manusia hanya saja di alam yang berbeda. Jin memiliki keluarga, anak, suku, negara dan kota-kota seperti layaknya manusia. Sekelompok jin yang mendatangi Rasul saw ini adalah kelompok para kepala suku yang kemudian mengajarkan Islam kepada kaumnya.

15. Jibouri, hal. 686.


16. Rasul saw mengutus 2 sahabat pilihan; Mus’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummu Maktum untuk mengajarkan Al Qur’an dan pokok-pokok ajaran Islam kepada penduduk Yastrib.


17. Membunuh anak terutama anak perempuan, adalah hal yang umum dilakukan oleh masyarakat Arab Jahiliyyah pada masa itu. Faktor utama yang membuat masyarakat Arab Jahiliyyah membunuh anak-anak mereka adalah kemiskinan.

18. Berbeda dengan Mekkah, sebelum era Islam, penduduk Yastrib umumnya beragama Yahudi dan Nasrani. Seperti kota-kota di jazirah Arab lainnya pada masa itu, perang antar suku adalah hal yang sangat sering terjadi. Karena penduduk Yastrib adalah ahlul kitab, mereka meyakini bahwa rasul saw adalah manusia yang akan mendamaikan 2 suku Yastrib yang selalu berpeperang, karena itu baik kaum muslim atau non muslim menyambut kedatangan nabi Muhammad dengan suka cita.

19.Dalam beberapa pembahasan sejarah nabi sering kali dikatakan bahwa Masjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun oleh nabi, Masjid Quba terletak di luar kota Madinah, pernyataan tentang Masjid Quba sebagai Masjid pertama ini tidak tepat karena Masjid Quba walaupun dibangun pada tahun 622 Masehi atau bertepatan dengan peristiwa hijrah nabi ke Madinah, namun bukan didirikan sebagai Masjid. Bagunan ini pada awalnya adalah tempat transit nabi saw sebelum tiba di Madinah menunggu kedatangan Imam Ali dan para wanita dari keluarga nabi. Rasul saw mendirikan bangunan sederhana sebagai tempat tinggal sementara dengan tangannya dan tinggal selama 4 hari di rumah ini. Selama tinggal di rumah ini pula nabi melakukan shalat qashar atau memendekkan shalat yang menandakan bahwa rasul saw tidak berniat menetap namun hanya sebagai tempat pemeberhentian sementara hingga Imam Ali dan para wanita dari keluarga nabi tiba. Setelah wafatnya rasul saw, Bangunan sederhana ini dijadikan Masjid, dan mengalami beberapa kali pemugaran pada masa dinasti Abasiyah, pemugaran terakhir dilakukan tahun 1986 oleh pemerintah Saudi, pemugaran ini telah merobohkan bangunan asli dan mendirikan bangunan Masjid yang baru diatas tanah bekas Masjid yang didirikan oleh Rasul saw.

20. Al jibouri, Yasin T, Konsep Tuhan Menurut Islam,cet.I, Lentera-Jakarta, hal.708


21. Al Jibouri,Yasin T, Konsep Tuhan Menurut Islam,cet.I, Lentera-Jakarta, Hal.478


22. Subhani, Ja’far, Ar-Risalah, cet I, Lentera-Jakarta 1996, hal. 289-290


23. Sumber denah, detail dan keterangan angka kami ambil dari orgawam.wordpress.com yang bersumber dari buku Keajaiban Masjid Nabawi hal.80 yang ditulis oleh M Irawan yang bersumber dari buku ‘Sejarah Madinah’ karya Syaikh Dehlawi (958 H -1052 H) dan beberapa tambahan dari kami yang kami ambil dari buku Konsep Tuhan, Yasin T al Jibouri hal. 708-710 dan ar Risalah oleh Ja’far Subhani.

24. Seperti penambahan maqsurah, atau tempat perlindungan untuk sultan dan para pembesar negeri ketika sholat berjamaah di Masjid. Posisi maqsurah seringkali sejajar dengan Imam sholat, bahkan ada yang posisinya di depan imam sholat, yang tentunya secara fiqh Islam adalah satu kesalahan.
Pergantian khalifah pasca wafat Rasulullah dan perluasan Masjid Nabawi membutuhkan pintu gerbang yang lebih banyak, dibuatlah pitu-pintu baru sesuai kebutuhan pada zamannya.

Fakta Dan Fiksi Sejarah Masjid

Masjid sebagai sumber sejarah Islam di Indonesia

Masjid adalah identitas Islam yang tidak mungkin bisa dipungkiri, semakin tua masjid yang ada di kota atau wilayah tersebut menandakan semakin awal agama Islam masuk ke wilayah tersebut.

Demikian pula dengan situs pemakaman mulim kuno yang umumnya menjadi satu kompleks dengan area Masjid. Pada setiap makam terdapat nisan.

Nisan adalah salah satu bukti tertulis yang jelas tentang sejarah kedatangan Islam di nusantara atau di lokasi manapun Masjid dan Makam kuno berada di seluruh dunia.

Atap Tumpang atau bersusun pada Masjid demak. Sumber foto: koleksi pribadi
Masjid dan makam Sunan Sendang Dhuwur, Lamongan, Jawa Timur. Salah satu ciri Masjid dan makam kuno adalah kedua bangunan ini berada dalam satu kompleks. Selain Masjid dan makam kompleks masjid kuno juga terdiri atas lembaga pendidikan dan tempat tinggal bagi para pengurus bangunan dalam kompleks tersebut.

Masjid dan Makam kuno ini adalah salah satu bukti terpenting kami dalam penelusuran sejarah Islam di Indonesia.

Namun apa yang terjadi bila bangunan yang seharusnya adalah Masjid dan makam kuno sebagai penanda kedatangan Islam di Indonesia ini dirusak, dihancurkan atau di ubah fungsinya sebagai bangunan lain baik disengaja atau tidak? tentunya perusakan situs ini dapat dipastikan akan merubah jalannya peristiwa sejarah yang terkait dengan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia menjadi abu-abu bahkan gelap karena dipenuhi dengan ketidak jelasan, ditambah lagi banyaknya sumber-sumber tentang Islam hanya diambil dari naskah-naskah babad atau wawacan yang sudah disalin berulang kali untuk kepentingan pendidikan atau politis.

Pengetahuan tentang sejarah Islam di Indonesia yang kita ketahui saat ini hampir semuanya adalah tulisan sejarawan era kolonial, yang sering kali bertentangan dengan fakta sejarah yang kami temukan di lapangan, diantaranya berupa tradisi, keyakinan leluhur Nusantara, dan silsilah tokoh yang kami temukan. Adanya fakta fakta yang berbeda antara teori sejarah Islam dan fakta dilapangan sangat bisa difahami karena sejarawan era kolonial saat itu memiliki pengetahuan terbatas tentang ajaran Islam.

Ditambah lagi kepentingan politik kolonial, yang pada saat itu menjadikan Islam sebagai musuh terbesar mereka. Akibatnya semakin gelaplah sejarah Islam di Indonesia.

Tentunya sangat ironis negara dengan penduduk mayoritas Islam tapi sejarah Islamnya hingga kini masih menjadi perdebatan dikalangan sejarawan.

Perdebatan yang berkepanjangan ini timbul karena kurangnya mengambil sumber-sumber dari sejarah Islam. Pada umumnya sejarawan era kolonial dan murid-muridnya hanya mengambil sumber-sumber dari situs arkeologis dan sumber tertulis berupa catatan perjalanan, naskah kuno dan prasasti yang terkait dengan Indonesia, tidak melihat dari pokok ajaran Islam dan sejarah Islam yang terjadi sejak zaman Rasul saw yang pastinya berpengaruh pada sejarah Islam di Indonesia.

Metode Penelusuran sejarah yang Kami gunakan

Metode penelusuran yang kami gunakan untuk menemukan sejarah masuknya Islam di Nusantara, diantaranya :

1. Melakukan riset sejarah Islam dari berbagai sumber sejarah mazhab untuk mengetahui bagaimana cara rasul menyebarkan syi’ar Islam dari berbagai sudut pandang mazhab.

2. Menelusuri proses awal masuknya Islam hingga warisan Islam bisa tersebar merata hampir diseluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat.

3. Melakukan riset dari berbagai sumber mengenai tokoh-tokoh penerus yang menyebarkan syi’ar Islam setelah rasul wafat dan peristiwa apa yang terjadi dalam sejarah Islam yang terkait dengan penyebaran Islam di Indonesia.

4. Melakukan penelitian mengenai leluhur nusantara dan keyakinannya. Faktor leluhur nusantara dan keyakinannya memiliki peran besar dalam mempercepat perkembangan Islam di Nusantara karena dari berbagai situs arkeologi, temuan-temuan naskah kuno dan dari sumber-sumber lainnya yang kami temukan di berbagai belahan dunia dapat dipastikan Islam telah masuk ke Nusantara sejak zaman Nabi Muhammad SAW atau sejak masa awal perkembangan Islam di Mekkah (610 M–622 M) dan Madinah (622 M-632M).

5. Menelusuri sejarah bangunan, bagian dan fungsi Masjid dan makam kuno seperti yang diajarkan rasul. Bangunan Masjid dan makam kuno ini kami bandingkan, untuk mendapatkan fungsi masjid bukan membandingkan bentuk bangunannya, karena bentuk bangunan pasti dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat dimanapun Masjid tersebut berada.
Metode ini kami gunakan karena banyaknya situs bangunan yang telah dihancurkan, dipalsukan, hilang, atau dipindahkan ke lokasi lain. Demikian pula halnya dengan bukti tertulis yang seharusnya dapat menjelaskan bangunan yang ada, namun karena adanya penyalinan naskah yang berulang-ulang, pemaksaan teori Hindu-Budha pada era kolonial hingga saat ini, menjadikan bukti tertulis tidak lagi dapat diandalkan keakuratannya.

6. Metode berikutnya adalah mengunjungi berbagai situs Masjid kuno di Indonesia yang ada hingga saat ini, mempelajari sejarah bangunannya, sejarah wilayah dan tokoh yang terkait dengan masjid tersebut. Selain mengunjungi Masjid dan makam kami juga mempelajari sejarah situs berdasarkan penelusuran foto-foto sejarah Masjid dan makam yang pernah ada.

Sebagai negara yang memiliki penduduk dengan agama mayoritas Islam sejak ratusan tahun lalu, Indonesia memiliki banyak sekali peninggalan-peninggalan Masjid dan makam kuno yang telah berdiri sejak awal kedatangan Islam di Nusantara. Masjid adalah warisan peninggalan Islam, sementara makam adalah bukti sejarah yang paling akurat dalam memberikan informasi tokoh leluhur yang dimakamkan dan dengan keberadaan makam, menandakan bahwa tokoh yang dimakamkan tentulah beragama tauhid atau monoteisme, dan menjadi salah satu bukti yang penting bahwa tokoh leluhur nusantara bukan beragama Hindu atau Budha seperti yang kita ketahui dalam teori-teori yang cukup terkenal yang kita pelajari dalam buku-buku sejarah umum, yang tidak lain adalah teori-teori buatan era kolonial yang diturunkan kepada para muridnya, pribumi atau non pribumi pasca politik etis.

Awal teori-teori ini dibuat hanya menjadi bahan diskusi dikalangan sejarawan kolonial dan sama sekali tidak menyertakan ilmuwan pribumi, karenanya dalam transliterasi naskah-naskah kuno dan prasasti banyak ditemukan kesalahan-kesalahan remeh yang seharusnya tidak ada bila mereka benar-benar ahli dalam sejarah Hindia, atau berdiskusi dengan para ahli sastra yang tersebar di seluruh Hindia (Indonesia) pada saat itu. contoh kesalahan fatal dalam transliterasi dan penerjemahan naskah diantaranya dalam penyebutan gelar Ratu yang diterjemahkan sebagai gelar pemimpin wanita yang seharusnya adalah gelar untuk pemimpin laki-laki, keraton yang seharusnya adalah kota yang dikelilingi dinding dengan kompleks bangunan yang beragam diartikan sebagai istana, dan sebagainya.

Fakta dan fiksi seputar sejarah Masjid dan makam akan kami coba jelaskan bagian perbagian yang di mulai dengan sejarah Masjid pada masa Rasulullah saw.

Alur Waktu ‘Renovasi’ Borobudur 1835 – 1983

Sejak ditemukannya kembali Borobudur oleh Raffles, tahun 1814, Candi yang menjadi kebanggaan Indonesia ini telah mengalami 4 kali perombakan, 1 kali perombakan kecil dan 3 kali perombakan besar.

Perombakan yang pertama tahun 1814-1815, perombakan yang terbilang kecil dibanding perombakan selanjutnya. Perombakan ini dipimpin oleh H.C Cornelius, utusan Raffles yang ditugasi melihat langsung situs Borobudur untuk pertama kalinya.  Perombakan ini meliputi pembersihan situs dari tanaman liar karena situs ini lama terabaikan.


Perombakan ke 2 tahun 1835 -1872 yang didanai oleh pemerintah kolonial Belanda. Perombakan ini cukup besar karena pemerintah kolonial Belanda menggunakan metode Anastylosis yaitu metode arkeologi dalam merekonstruksi situs bangunan kuno yang hancur dengan mengikuti bangunan kuno yang lain yang diperkirakan memiliki fungsi yang sama, contoh karena Borobudur dikatakan sebagai bangunan ibadah umat Budha, arkeolog pada masa itu mengambil contoh bangunan yang dianggap memiliki fungsi sama dengan Borobudur. Metodelogi ini mendapat kritikan keras dari arkeolog dan sejarawan sejak era kolonial hingga kini karena sering kali merubah bentuk situs kuno.

Perombakan ketiga 1882 – 1911, rekonstruksi Borobudur pada perombakan kedua tidak bertahan lama, 10 tahun sejak Borobudur di buka untuk umum, candi ini kembali ditutup dengan alasan keamanan. Candi ini kemudian dirombak kembali selama 29 tahun.


Beberapa diantara Kerusakan pada teras Borobudur pasca perombakan besar pertama

Perombakan besar ke empat kalinya terjadi pada era Orde Baru dari tahun 1973 – 1983 dengan bantuan dana penuh dari UNESCO

Alur waktu (Timeline) Borobudur

800 M> para peneliti memperkirakan candi Borobudur dibangun pada tahun ini. Tak ada bukti tertulis yang dapat memberikan keterangan. Peneliti menarik kesimpulan melalui temuan huruf pada relief singkat yang terpahatkan di atas pigura pada kaki candi. Berdasarkan pengamatan sejarawan era kolonial huruf ini sejenis dengan apa yang biasa tertera di prasasti dari akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9.

Relief singkat pada pigura panel di bagian kaki Candi Borobudur. Relief singkat ini dikatakan sebagai relief yang biasa terdapat pada abad ke-8 atau ke-9

842> angka tahun yang terdapat pada salah satu piagam zaman Syailendra yang menyebabkan kata majemuk “bhumisambharabhudhara” sebagai  nama asli candi. Kata yang rumit itu menjelma menjadi “Borobudur”. keterangan simbolis tadi ditemukan oleh J.G. de Casparis tahun 1952 (1916-2002).

1709> cerita “ Babad Tanah Jawi” menyebutkan bahwa Borobudur menimbulkan malapetaka. Seorang pemberontak Kerajaan Mataram berlindung dengan bertahan di dalamnya ketika menghadapi bala tentara Mataram. Ia kemudian ditangkap dan menjalani hukuman mati.

1757> Kisah “Babad Mataram” menceritakan tentang seorang pangeran bernama Pangeran Monconegoro berpergian ke candi Borobudur. Pada masa itu keraton Yogyakarta membuat pantangan untuk berkunjung ke Borobudur karena dikatakan membawa sial. pangeran itu tak mengindahkan pantangan tersebut. Ia pergi ke sana lantaran merasa iba pada “satria dalam kurungan” (Satria dalam kurungan ini di tafsirkan sebagai arca Buddha yang terdapat dalam stupa di puncak candi.) Saat kembali ke istana, satu hari kemudian ia meninggal dunia. Borobudur kemudian terbengkalai, karena tidak ada orang yang berani mengunjunginya.

1814 > Sir Thomas stamford Raffles sebagai gubernur jendral yang memerintah jajahan Inggris di Jawa (1811-1816) mendapat laporan tentang ditemukannya sebuah monumen diatas bukit yang penuh dengan batu berukir. Monumen ini terabaikan didalam hutan dan berada di Desa Bumisegoro, dekat Magelang.
Raffles mengirimkan utusannya, seorang insinyur Belanda bernama H. C Cornelius untuk menyelidiki monument tersebut. H. C Cornelius ditambah 200 pekerja membersihkan monument tersebut, sehingga terlihatlah monument yang terabaikan tadi.

Ketika menjabat sebagai Gubernur Jendral di Indonesia selama 5 tahun dari tahun 1811-1816, Raffles mendapat informasi tentang keberadaan monumen diatas bukit yang dihiasi batu berukir.

1815> Laporan tertulis pertama dari H. C Cornelius kepada Raffles selesai. Laporan ini diserahkan kepada Raffles lengkap dengan gambar-gambar sketsa tentang Borobudur. Hingga saat ini belum ada gambar atau lukisan resmi yang berasal dari H.C Cornelius, yang dapat dilihat oleh umum. Penggambaran Borobudur hanya dapat di baca melalui tulisan raffles dalam bukunya History of Java.

Renovasi 1835 – 1872

1835> Pekerjaan Cornelius dilanjutkan oleh Hartman – pejabat administrasi Belanda untuk wilayah Kedu

1842> Hartman menyelidiki tentang menara (kubah) utama pada candi Borobudur – namun karena penyelidikan ini bersifat pribadi dan rahasia, catatan resmi penyelidikan Hartman belum terbuka hingga saat tulisan ini dibuat.

1849> Wilsen seorang perwira Zeni asal Belanda datang ke Borobudur  untuk melakukan pengukuran dan membuat gambar bangunan serta beberapa ratus relifnya. Wilsen melakukan pekerjaan seslama empat  tahun.

1856> Brumund, yang ditugaskan pemerintah, berhasil menyelesaikan laporan lengkap mengenai candi.

1859> Gubernur Jendral Hindia Belanda pada saat itu menugaskan secara resmi F. C Wilsen untuk menggambarkan dan mempelajari monument tersebut, dan menggambar ratusan sketsa relif. JFG Brumund ditunjuk pula untuk meneliti monument tersebut lebih lanjut.

1859> laporan resmi  pertama tentang Borobudur selesai dibuat. Pemerintah Belanda menginginkan dibuat artikel tentang temuan ini namun Brumund menolak untuk menertibkan hasil penelitianya.

1860> Pemerintah Belanda menugaskan C. Leemand seorang ahli Mesir kuno Belanda untuk mengumpulkan hasil penelitian dari Brumund dan Wilsen dalam bentuk gambar dan monograph (buku non Fiksi tentang Borobudur).

Conradus Leemand, ahli ilmu Seni Rupa dan Mesir Kuno (egyptologist) yang diperintah oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk membuat monograph Borobudur

1873> Monograph pertama dan penelitian lebih lanjut tentang Borobudur diterbitkan. Foto Borobudur pertama kali diterbitkan untuk konsumsi umum, foto-foto ini di ambil oleh Isidore Van Kinsbergen. Dalam buku ini juga terdapat rancangan atau desain bentuk candi. Diantaranya adalah desain bentuk stupa untuk menutup stupa yang rusak. Rancangan Stupa karya Leemand ini yang kemudian di gunakan hingga saat ini.


Stupa hasil karya C. Leemand, yang di gunakan hingga saat ini. Metode ini disebut metode Anastylosis, metode rekonstruksi mengikuti bangunan kuno lain yang di perkirakan memiliki fungsi sama.
Foto-Foto Borobudur dari tahun 1872-1882, ketika candi ini dibuka untuk umum

1874> Monograph ini kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Perancis

Borobudur kisaran tahun 1872-1882, setelah renovasi sebelumnya selama 32 tahun. Terlihat pada foto ini Borobudur yang masih terdapat atap kayu dan di gunakan untuk wisata umum.
Drapery motif atau motif berbentuk juntai kain, adalah motif khas Eropa, dari motif ini dapat kami ketahui bahwa Borobudur pada tahun 1872 ini telah mengalami pemugaran dari benyuk aslinya yang di temukan tahun 1814. Bentuk asli Borobudur sampai saat ini belum kami dapatkan gambar/lukisannya kecuali keterangan dari Raffles dalam bukunya History of Java.
Motif drapery pada bagian panel relief lain di Candi Borobudur

Renovasi 1882 – 1911

Foto 1&2, foto2 ini diambil sekitar tahun 1880an, terlihat pada foto ini kerusakan pada beberapa bagian candi, pada gambar diatas kerusakan pada dinding candi dan pada gambar di bawah kerusakan pada lantai atas dan stupa
Kerusakan pada stupa, terlihat pada foto diatas atap kayu sudah dibuang, kemungkinan pada saat foto ini diambil renovasi berikutnya akan segera dimulai.

1882> Borobudur rusak parah, kerusakannya meliputi :  kondisi teras stupa teratas Borobudur rusak parah, dinding candi lepas, lantai teras turun karena tertampung air hujan. Candi Borobudur kemudian ditutup untuk umum dengan alasan keamanan, karena candi akan runtuh. Pemerintah kolonial memindahkan relief ke museum dengan alasan kondisi monumen yang tidak stabil. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan Groeneveldt– seorang arkeologis / purbakala untuk meneliti Borobudur lebih lanjut. Dalam laporannya dinyatakan bahwa ketakutan-ketakutan akan keruntuhan bangunan dll adalah tidak berdasar, dan menyarankan agar artefak-artefak yang ada dibiarkan saja pada posisinya / tidak perlu adanya relokasi / pemindahan relif dll.

1890> pemerintah Belanda membentuk panitia khusus untuk merenovasi kembali Borobudur, terutama memperbaiki bagian yang rusak.  Panitia ini terdiri dari J.L.A Brandes-ahli sejarah yang sekaligus menjadi ketua, Theodore Van Erp-perwira zeni, dan Van de Kamer-insinyur dari Departement Pekerjaan Umum.

Foto saat Renovasi Van Erp, terlihat pada foto diatas kerusakan pada lantai candi akibat menampung air hujan
Proses renovasi candi yang di ketuai oleh J.L.A Brandes
Foto Borobudur sekitar tahun 1890an oleh Kassian Cephas (1845-1912)

1896 > atas persetujuan pemerintah kolonial Belanda, pada saat raja Chulalongkorn dari Siam berkunjung ke Jawa, puluhan artefak pada candi Borobudur di berikan sebagai hadiah. Diantaranya 30 bagian panel relief, 5 arca Budha, 2 patung singa penjaga, 1 patung raksasa, bebetapa ukiran kala yang diambil dari gapura dan penghujung tangga. Artefak-artefak ini sekarang tersimpan di Museum National Bangkok

1905 > renovasi terhenti karena ketua panitia renovasi, J.L.A Brandes wafat falam usia 48 tahun (1857-1905)

J.L.A Brandes, ketua renovasi Borobudur periode 1882-1911. Tahun 1905 Brandes wafat, proyek renovasi sempat terhenti kemudian dilanjutkan kembali tahun 1907 yang di ketuai oleh Theodore van Erp

1907> Theodore Van Erp kemudian ditunjuk oleh pemkol untuk menggantikan Brandes menjadi ketua komisi renovasi yang baru.  Menurut pengamatan Van Erp penyebab kerusakan candi Borobudur adalah curah hujan yg tinggi. Th. Van Erp memulai pemugaran pada bulan Agustus setelah berhenti selama 2 tahun. Tujuh bulan pertama, Van erp hanya melakukan sejumlah penggalian di halaman candi dan memilih batu candi dari hasil penggalian untuk menggantikan bagian candi yang rusak.

1907-1911 > selama 3 tahun berikutnya penelitian Van Erp fokus pada bagian2 candi yang rusak yang meliputi dinding, lantai teras yang turun karena tertampung air hujan dan stupa yang hancur. Untuk mengatasi masalah ini, Van Erp membangun penambahan saluran air di bawah dinding candi untuk membuang air hujan yang tertampung pada lantai teras atas.

1911 = Renovasi Van Erp selesai. Renovasi yang di lakukan Van Erp antara lain :  Bagian arupadhatu dengan lingkaran stupa-stupanya dibongkar secara keseluruhan, kemudian dibuat  kembali, membetulkan dinding dan memperbaharui relief yang rusak, menambahkan saluran air pada tiap level lantai Borobudur.

Foto Borobudur hasil renovasi team Van Erp, diambil sekitar tahun 1910-1911 dapat dilihat pada gambar diatas Borobudur hasil renovasi van Erp memiliki menara yang tinggi lengkap dengan hiasan ‘Chattra‘ sebagai penutup menara

1914 = N. J Krom dalam buku Rapporten Van Den Ouheidkundigen Diest in Nederlandsch Indie (ROD) menyebutkan bahwa terdapat beberapa situs yang bersifat Hindu di sekitar Candi Borobudur.

Foto ini diambil sekitar tahun 1920an, terlihat menara tinggi di puncak Borobudur sudah hilang, berdasarkan informasi dari guide dilokasi, penyebab hilangnya menara tersebut karena tersambar petir.

1929 sekitar 15 tahun setelah renovasi Van Erp, muncul retakan2 baru pada dinding, dari 120 bagian dinding yang berisi relief Budha 40 bagian diantaranya rusak parah, pada teras di bawahnya 38 bagian dinding relief mengalami kerusakan yang sama parahnya. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah,  pemerintah kolonial kembali membentuk komisi khusus untuk memantau kondisi pemugaran candi sesudah restorasi Van Erp. Hasilnya, kerusakan candi meningkat. penyebabnya: Korosi, kerja mekanis, dan kekuatan tekanan.
Komisi ini terhenti karena masalah dana yang cukup besar dan dunia sedang masa resesi pasca PD I (1914-1918).

3 nona Belanda berpose di salah satu stupa Borobudur, foto ini diambil sekitar tahun 1920an

1939 perhatian terhadap candi melenyap seiring dengan pecahnya perang dunia ke-2. Borobudur kembali terbengkalai hingga tahun 1948.

1948 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ditengah kesibukan menghadapi peperangan melawan sekutu, pemerintah Indonesia yang masih sangat muda, memberikan perhatian lebih kepada Borobudur dengan mengundang 2 arkeolog asal India untuk meneliti kerusakan pada Borobudur, namun tidak ada hasil yang diharapkan.

1951-1953 Untuk mengetahui lebih dalam tentang Borobudur Pemerintah RI memerintahkan dinas Budaya untuk melakukan ekskavasi pada lahan di sebelah barat Borobudur, namun hanya menemukan sedikit artefak rumah tangga yang menandakan pernah ada pemukiman di sekitar Borobudur. (Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti, Hal. 575, penerbit KPG 2012)

1955 Pemerintah RI meminta bantuan kepada UNESCO untuk mengatasi masalah kerusakan candi. Tahun berikutnya, Prof. Dr. P. Coremans, utusan UNESCO dari Belgia, meneliti penyebab kerusakan candi.

1960-1963 Besarnya kerusakan candi Borobudur membutuhkan dana yang cukup besar untuk renovasi. UNESCO memberikan sumbangan yang cukup besar untuk renovasi ini namun tahun 1965 Penelitian terhenti karena kerusuhan politik di Indonesia tahun 1965 – 1967

1967 pemerintah kembali mengajukan permintaan bantuan kepada UNESCO. Internasional Conggress of Orientalists ke-27 di Michigan, Amerika Serikat salah satu keputusannya mendesak UNESCO untuk segera membantu menangani kerusakan candi.

1973-1983> Dana renovasi sumbangan dari berbagai negara Eropa terkumpul hingga US 6.901.243, dengan dana yang cukup banyak, Pemugaran besar ke- 4 dimulai pada masa pemerintahan Soeharto. Tahun 1973 presiden Suharto meresmikan dimulainya renovasi Borobudur.

Situasi renovasi tahun 1973 – 1983, renovasi ini meliputi hampir seluruh bidang Borobudur dari mulai relief, relokasi dan pembuatan arca, renovasi dinding candi. Bisa dilihat dalam foto diatas arca yang di relokasi keluar, yang menyebabkan kerusakan arca seperti pada foto diatas.

1976 Candi Borobudur resmi diumumkan kepada dunia sebagai candi Budha dan sebagai warisan sejarah dunia. Pada saat itu pula pertama kalinya diadakan ritual Pradaksina yaitu bagian dari ritual agama Budha yang dilakukan dengan cara mengelilingi candi Borobudur dimulai dari lapisan terbawah/Kamadathu – Rupadatu – Arupadatu.

Renovasi Borobudur tahun 1973-1983

Sumber-sumber

Soekmono, Prof. Dkk, Borobudur, a Prayer in Stone, penerbit Archipelago Press, Singapore, 1990

National Geographic Mag. Edisi Maret 2010

Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti, Hal. 575, penerbit KPG 2012)

Raffles, Stamford Thomas, The History Of Java, hal. 374, penerbit Narasi 2014

John Miksic; Marcello Tranchini; Anita Tranchini (1996). Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Tuttle publishing. p. 29. Retrieved 2 April 2012.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Anastylosis

Dan sumber-sumber tertulis lain yang mendukung tulisan ini.

Keramik China, Jepang atau Lokal?

Studi Banding Keramik Sebagai Sumber Sejarah Pada Situs Keraton, Masjid dan Makam Kuno


Hiasan keramik pada situs keraton kasepuhan, Cirebon
Hiasan Keramik pada situs makam Sunan Gunung Jati, Cirebon


Bila kita mengunjungi situs-situs bangunan kuno seperti makam dan Masjid yang tersebar di Indonesia khususnya pulau Jawa, dan terutama sekali masjid dan bangunan makam kuno di wilayah Cirebon,  kita akan melihat hiasan berupa piring atau mangkok sebagai hiasan dinding dan gapura. Bila kita bertanya pada guide setempat, guide tersebut akan mengatakan bahwa keramik-keramik tersebut buatan China, dan mengaitkan keramik-keramik tersebut dengan tokoh wali atau raja yang dimakamkan di situs tersebut dengan tokoh-tokoh kekaisaran China.

Benarkah demikian? Benarkah keramik-keramik yang menjadi hiasan dinding beberapa situs kuno ini buatan Cina? berikut adalah hasil penelusuran kami mengenai keramik tersebut dibantu oleh Nara sumber kami, Doktor Alberta Hayundanti, spesialis Material Culture, ahli dalam bidang keramik lulusan terbaik senirupa ITB dan melanjutkan gelar doktor Senirupa di Univ. Kyoto Seika Jepang, yang telah melakukan penelitian keramik-keramik yang menjadi hiasan pada situs-situs kuno di Indonesia.

Keramik yang ada pada hampir tiap makam, gapura dan bangunan keraton yang masih ada hingga saat ini di Indonesia khususnya Jawa Tengah adalah salah salah satu sumber sejarah, dan bukti penting adanya hubungan antara situs dengan pemilik situs. Itu sebabnya penting bagi kami untuk melakukan penelusuran ini, untuk menentukan otentik atau tidaknya kisah sejarah yang beredar yang terkait dengan keramik yang menjadi hiasan pada situs tersebut.

Keramik pada situs pemakaman dan Kaitannya dengan Hubungan Bilateral antara Belanda dan Jepang

Tahun 1543, Bangsa Eropa pertama kali tiba di Jepang. Pada masa ini Bangsa Eropa belum mengenal makan dengan menggunakan piring keramik, umumnya bangsa Eropa makan, minum menggunakan piring dan gelas dari tanah liat, dan makan dengan menggunakan tangan (1). Ketika Bangsa Eropa sampai ke jepang, mereka merasa kagum dengan peralatan makan dari keramik yang sudah tersebar luas di jepang saat itu.

Keramik Jepang yang berfungsi sebagai piring, pada masa ini umumnya bangsa Eropa hanya mengenal alat makan dari gerabah bukan piring keramik

Sejak 1639, hanya Belanda, satu-satunya negara Eropa yang dapat melakukan hubungan dagang dengan Jepang, masuk pertama kali melalui pelabuhan Nagasaki dengan kota Dashima sebagai pos perdagangan Jepang dengan Belanda

Kota Dashima, Nagasaki, satu-satunya kota yang menjadi pos perdagangan Jepang – Belanda pada abad ke-17 (mid edo)
Lukisan jepang yang menggambarkan hubungan Belanda dengan wanita Jepang. Lahirnya generasi campuran Belanda Jepang adalah salah satu efek dari era ini yang pengaruhnya sampai ke wilayah-wilayah yang menjadi jajahan Belanda, diantaranya Indonesia

Sentra pengrajin keramik Jepang Barat di daerah Arita dan Imari, menarik perhatian Belanda karena sudah mampu membuat alat makan dari keramik (pada abad 16-17, masyarakat Eropa belum mengenal piring makan porselen/ keramik stoneware mereka menggunakan bahan lain seperti perunggu, tembaga dan kayu).  Ketertarikan Belanda ini kemudian berlajut dengan hubungan dagang.

Tahun 1800 an awal, Belanda memonopoli semua perdagangan keramik dari 2 kota ini. Semua pemesanan keramik dari jepang melalui perusahaan dagang Belanda. Dalam tiap pelayarannya, kapal-kapal dagang Belanda membawa Ribuan keramik dari Jepang Barat tepatnya dari wilayah Arita dan Imari ke Eropa melalui jalur sutera laut yang transit di Batavia sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa.

Beberapa muatan tersebut ditemukan juga di kapal Belanda yang karam dekat perairan wilayah Cirebon sebelum tiba di Batavia. Jejak keramik tersebut saat ini dapat dilihat di Kasepuhan Cirebon, digunakan untuk menghiasi dinding keraton, Masjid, bangunan Makam dsb.

Hiasan keramik pada gapura dan dinding menuju makam sunan Bonang

Dari motif gambar pada keramik, serta pewarna glasir biru muda yang menunjukkan kuantitas kobalt (zat pewarna biru) yang digunakan, diketahui bahwa usia keramik TERTUA yang ditemukan dalam hiasan dinding tersebut tidak lebih dari 200 tahun atau dibuat sekitar tahun 1800an awal.

Berikut adalah ciri keramik jepang pesanan VOC antara thn 1639-1750-an (mid-edo) dan perbandingannya dengan keramik yang ada di situs bangunan kuno, terutama bangunan Masjid dan Makam :

1. Ciri keramik Jepang pertengahan zaman Edo terutama dari daerah Imari khas dengan warna biru tuanya. warna biru tua ini dihasilkan dari bahan pewarna khusus yang bernama kobalt. Bahan pewarna kobalt ini diambil dari batu yang bila terkena panas akan terjadi reaksi kimia hingga menimbulkan warna biru tua. Batu yang mengandung kobalt ini, pada masa itu hanya ada di wilayah Imari  yang terkenal sebagai penghasil kobalt dengan kualitas yang terbaik.


2. ‎Warna biru memang dominan dan menjadi ciri khas khusus keramik buatan Jepang, namun terdapat juga warna-warna lain yang diambil dari proses kimiawi tanah, seperti warna merah dan coklat diambil dari zat ferum, dsb.


3. ‎Kualitas keramik sangat baik, halus sementara kualitas keramik yang ada di situs situs kuno, tebal dan kasar sangat jauh berbeda dengan buatan Imari, yang menandakan bahwa keramik-keramik tersebut buatan pengrajin lokal yang tidak terlatih (unskilled).


4. ‎Warna biru keramik memiliki garis yang tebal, sementara yg ada di kasepuhan dan beberapa situs kuno, warna birunya cenderung pudar, tipis.


5. Motif Lukisan sangat detail, hingga jelas perbedaan antara rumput dan bunga, sementara yg ada di situs-situs kuno kita lukisan tidak detail, sukar membedakan antara rumput dan bunga, terlihat jelas yg membuat tidak terlatih (unskilled).

Kesimpulan :

1. Dari penjelasan diatas, keramik yang dijadikan hiasan pada dinding Masjid kuno, bangunan makam dan situs-situs kuno lainnya, terbukti BUKAN dari Cina abad ke 14 atau 15, tapi TIRUAN dari keramik buatan IMARI, JEPANG yang penduduknya telah terlatih berabad-abad membuat keramik khas tersebut. Keramik ini kemudian dipasarkan oleh Belanda ke Eropa dan Indonesia. Karena hanya Belanda yang berhubungan dengan Jepang saat itu, keramik-keramik ini kemudian dikenal, hingga saat ini sebagai ‘keramik belanda’.

2. ‎Satu-satunya negara Eropa yang dapat melakukan transaksi dengan Jepang pada Era itu hanya VOC-BELANDA, yang artinya, keramik tersebut juga membuktikan bahwa tidak ada kaitan antara para wali yang dimakamkan di situs tersebut atau Masjid yang dihiasi dengan keramik yang meniru buatan Jepang dengan tokoh-tokoh Tionghoa yang dikatakan sebagai asal atau tokoh yang memberikan keramik tersebut sebagai hadiah.

3. ‎Poin 1 sampai dengan 4 cukup menandakan bahwa keramik yang ada pada situs bangunan kuno di Indonesia dan sebagian di Malaysia merupakan replika/ tiruan masa sesudahnya yang dibuat sekitar tahun 1800an akhir hingga awal 1900an dan bahkan ada diantara keramik-keramik ini yang lebih muda lagi usianya, yang menurut perkiraan narsum dibuat kisaran tahun 1960an oleh pekerja yang tidak terlatih.

Perbandingan lukisan dan sejarahnya yang lebih detail dapat dilihat dalam buku guide to Edo tokyo museum

Semoga apa yang telah kami telusuri tentang sejarah keramik pada situs makam khususnya di Jawa dapat membuka jalan bagi para peneliti lain, para sejarawan dan arkeolog untuk lebih kritis dalam menelusuri sumber sejarah.

Ditulis oleh Sofia Abdullah
Narsum: Alberta Haryudanti S.Sn, MA Spesialis: Material Culture

Sumber-sumber

1. Kunjungan langsung oleh penulis dan narsum ke berbagai situs keraton, makam dan masjid dengan hiasan keramik
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dejima
3. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Imari,_Saga
4. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Imari_ware
5. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Arita_ware

Memahami Bangunan Kuno

Situs bangunan kuno adalah bukti yang sangat penting dalam memahami sejarah indonesia.

Dalam buku buku-buku sejarah, ketika menjelaskan strukur bagunan kuno, yang berbentuk seperti candi, apapun fungsinya seringkali terdapat kata kata: “bangunan bercorak hindu budha” kemudian disusul kisah yang terkait dengan teori Hindu Budha sebagai corak bangunan tersebut.

Pemahaman yang benar, seharusnya kalimat tersebut di balik, menjadi “bangunan Hindu Budha atau bangunan kuno apapun bercorak tradisi nusantara”. Bentuk bangunan adalah hasil karya budaya yang mengkuti tradisi setempat dan memiliki fungsi beragam.

Dalam menyebarkan agama, agar ajarannya dapat dimengerti oleh masyarakat setempat, dalam penyampaiannya harus mengikuti tradisi dimana pun agama tersebut disebarkan, tanpa melanggar norma agama yang diajarkan.

Lain hal nya di Indonesia, negeri yang kaya dengan suku bangsa, budaya dan tradisi ini seolah tidak memiliki ciri dan tradisi asli, semua warisan sejarah budaya berupa situs bangunan yang indah dan rumit, baik itu masih berupa Candi atau yang masih berfungsi sebagai Masjid dan makam di klaim sebagai bercorak Hindu Budha, hanya karena bentuk bangunannya menyerupai candi.

Faktanya baik Agama Hindu atau Budha memiliki karakter atau ciri khas yang berbeda pada tiap-tiap bangsa, seharusnya demikian pula di Indonesia tentunya seperti yang kami katakan tadi selama tidak melanggar prinsip ajaran agama Hindu, Budha ataupun Islam.

Gambar atas dan bawah: Perbandingan arca Shiwa di Situs Cangkuang (bawah) dengan arca dewa Shiwa di India (atas), dua arca ini menggambarkan dewa dengan posisi yang sama hanya saja Arca siwa di situs Cangkuang tidak sesuai dengan aturan ketat agama Hindu dalam membuat arca. Karena arca simbol Dewa harus memiliki kesempurnaan fisik. Dilihat dari sudut pandang seni pun demikian, jelas terlihat arca uang ada di situs Cangkuang adalah buatan tenaga kerja tidak terlatih dam tentu saja bukan beragama Hindu, karena bila yang membuat beragama Hindu, tentunya si pembuat tidak akan rela gambaran dewanya dibuat sedemikian rupa. Kasus seperti ini sangat banyak ditemukan pada situs Candi yang dikatakan sebagai situs candi Hindu atau Budha. Sayangnya walaupun kasus ini banyak, namun oleh umumnya sejarawan kita tetap dianggap asli dan warisan dari ribuan tahun lalu.

Ungkapan ini awalnya berasal dari sejarawan Belanda yang sering kali teori-teori mereka merendahkan budaya dan tradisi nusantara. Seharusnya dalam menjelaskan situs bangunan kuno, apapun fungsinya harus dikaitkan dengan tradisi nusantara, atau agama mengikuti tradisi bukan sebaliknya, tradisi mengikuti agama.

Gapura menuju makam Sunan Sendang Dhuwur, Lamongan dengan arsitektur yang unik adalah tradisi bangunan bercorak Nusantara bukan bercorak agama tertentu.

Kuatnya teori Hindu Budha yang di buat pada era kolonial dan diturunkan dari generasi ke generasi, dari guru ke guru selama lebih dari 100 tahun, menjadi salah satu penyebab kesalahan fatal dalam memahami sejarah indonesia, yaitu dengan mengaitkan hampir seluruh warisan bangunan kuno yang di buat sebelum era kolonial seperti candi sebagai bangunan peribadahan hindu budha.

Faktanya candi memiliki fungsi beragam bukan hanya sebagai peribadahan Hindu Budha tapi juga sebagai bangunan lain, yang berfungsi diantaranya sebagai kompleks perumahan, peribadahan, makam, sumur, kolam penampung air, batas kota atau wilayah dan sebagainya.

Bentuk makam Fatimah bt Maimun (bagian dalam dan luar) yang wafat tahun 1082 di Leran, memiliki bentuk seperti yang selama ini diketahi sebagai candi. Makam di dalam bangunan adalah tradisi bangunan leluhur Nusantara karena dari naskah-naskah kuno salinan fapat kita ketahui, leluhur kita memiliki tradisi ziarah atau mengunjungi makam kerabat atau leluhur yang di hormati.

Bagaimana cara memahami fungsi bangunan pada situs bangunan kuno berdasarkan ciri bangunannya? Sebagai pembanding dengan teori teori candi yang dibuat pada era kolonial.

Bersambung ke bagian 2

Memahami Bangunan Kuno (bag. 2, selesai)

Fungsi bangunan kuno seperti candi bisa diketahui melalui : 

1. Membandingkan antara bangunan kuno yang memiliki bentuk kurang lebih sama dengan bangunan atau situs yang sedang diteliti dan masih berfungsi sampai saat ini.

Gapura pada situs pemakaman dan Masjid kuno adalah bentuk bangunan kuno yang masih ada hingga saat ini, Gapura adalah warisan Islam, yang berasal dari kata Ghafura. Gapura atau bekas gapura uang terdapat pada candi bisa menjadi petunjuk bahwa lokasi tersebut awalnya adalah makam kuno atau Masjid

2. Mencari informasi tentang fungsi situs dan kondisi wilayah tersebut dari kisah turun temurun penduduk yang tinggal di sekitar lokasi situs atau bangunan kuno di desanya. Contoh : Situs Keraton Ratu Boko yang awalnya adalah Keraton atau kota kuno yang dikelilingi dinding. Candi Pawon yang awalnya berfungsi sebagai ‘Pawon’ atau Dapur.

Masjid menara kudus sebelum mengalami perombakan, bentuk menara masjidnya seperti bentuk candi pada umumnya. Menara masjid ini sampai saat ini masih ada dan sudah seharusnya bukti arkeologis ini dijadikan sandaran dalam menentukan fungsi candi bukan sebaliknya, situs kuno yang masih berfungsi dengan baik diubah sejarahnya mengikuti teori kolonial.

3. Nama tempat atau desa dimana situs bangunan tersebut di temukan. nama tempat atau desa umumnya diambil dari nama lokasi atau bangunan tertua yang ada di wilayah tersebut contoh candi Borobudur yang diambil dari nama desa Borobudur tempat candi di temukan,  situs Prambanan, Situs Sendang Dhuwur dan sebagainya. setiap nama ini memiliki nilai sejarah yang harus di pelajari untuk mengetahui sejarah yang benar bukan hanya mengukuti teori yang sudah dianggap benar.

4. Mempelajari Agama dan keyakinan penduduk sekitar situs berdasarkan pernyataan penduduk setempat untuk menguatkan fungsi bangunan, apakah benar tempat tersebut adalah tempat peribadahan atau memiliki fungsi yang lain bukan dengan membuat teori berdasarkan asumsi agama dan keyakinan yang selama ini di fahami, contoh pada era kolonial, tokoh-tokoh sejarah memberi nama Hindu pada agama dan keyakinan penduduk  Bali saat itu seperti agama Hindu di India, padahal agama yang dianut penduduk Bali bukan agama Hindu tapi seharusnya Agama Dharma.

Agama Dharma, Agama yang menjadi keyakinan penduduk Bali yang dikatakan sebagai agama Hindu oleh sejarawan Eropa

Kasus yang kurang lebih sama juga terjadi pada muslim di India, hanya karena mereka tinggal di wilayah Hindustan, penduduk India yang beragama Islam ini dikatakan Hindu. Berbeda dengan pemerintah kolonial Belanda, pemerintah kolonial Inggris kemudian meralat pernyataan yang sudah meluas di kalangan bangsa Eropa ini, lambat laun pernyataan yang salah yang diawali dari sejarawan era kolonial ini pun dikoreksi.

Salah satu contoh kasus bangunan  kuno yang memiliki fungsi sangat berbeda antara teori era kolonial dengan fakta di lapangan adalah Situs Keraton Ratu Boko dan Situs Cangkuang.

Situs Keraton Ratu Boko, sesuai dengan namanya adalah situs keraton atau kota kuno bukan situs pemandian putri seperti yang tertulis sejak era kolonial.

Keraton ratu Boko, dari hasil penelitian kami dan jejak arkeologis yg masih dapat dilihat adalah keraton yang memiliki ciri khusus, yaitu kolam-kolam yang cukup banyak. Kolam-kolam ini berfungsi sebagai penampung dan penjernih air, karena kondisi lingkungan di sekitar Keraton yang sulit mendapatkan air bersih. Setiap keraton memiliki ciri khas khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayahnya.

Dalam kasus situs keraton ratu boko yang memiliki lebih dari 30 kolam dengan bentuk dan ukuran yang berbeda, tentunya terlalu naif bila dikatakan situs ini adalah situs pemandian putri. selain kolam yang jumlahnya cukup banyak dengan berbagai ukuran, situs ini juga memiliki saluran air yang bersambung dari kolam yang letaknya paling atas hingga ke wilayah terendah. Dari keberadaan kolam dan saluran air ini dan dengan membandingkan dengan situs sejenis dari berbagai peradaban kuno  besar kemungkinan situs ini adalah situs penampung dan penjernih air yang setelah melalui penyaringan beberapa kali, melalui perjalanan dari kolam yang satu ke yang lainnya, air ini kemudian dialirkan kerumah rumah penduduk yang lokasinya dibawah situs kolam. Saluran air hingga ke situs rumah penduduk ini masih terlihat jelas hingga saat ini.

Ditulis oleh Sofiaabdullah

Dari berbagai sumber terkait

Cangkuang, Situs Pemakaman Muslim Kuno Yang Terlupakan (7-Tamat)

Oleh; Sofia Abdullah*

Bapak Roshidin dan istri, penduduk asli kampung Pulo.

Peninggalan-peninggalan Eyang Mbah Dalem Arief Muhammad

Mbah Dalem Arif Muhammad dan generasi setelah beliau meninggalkan kitab-kitab kuno warisan yang dibuat dengan kertas yang berasal dari kulit kayu saeh. Menurut petugas museum, kitab ini diperkirakan berasal dari abad ke-17.

Pertanyaannya adalah bila memang benar kitab-kitab kuno ini berasal dari abad ke-17 mengapa harus menggunakan kertas yang terbuat dari bahan kulit kayu saeh? Pada abad ke-17 penggunaan kertas seperti yang kita kenal sekarang sudah dilakukan. Untuk seorang putra sultan seperti Arif Muhammad tentunya akan mudah mendapatkan kertas sebanyak apapun yang beliau butuhkan. Akan lebih logis bila kitab-kitab kuno ini berasal dari abad ke-9, yaitu masa hidup Arief Muhammad. Pada masa ini penggunaan kertas hanya dikenal pada kalangan masyarakat tertentu, dan sarana penyalurannya pun akan memperoleh banyak hambatan karena pada saat itu hutan yang dibuka untuk pemukiman belum cukup banyak.

Dengan pertimbangan pertimbangan inilah kami percaya bahwa kitab-kitab kuno ini berasal dari abad ke-9, bukan abad ke-17.  Perkiraan abad ke-17 ini diambil dari salah satu kisah dugaan yang mengatakan bahwa Arief Muhammad adalah prajurit Mataram yang melarikan diri dari kejaran tentara kolonial VOC setelah menyerang Batavia tahun 1645, versi sejarah ini dapat dilihat di berbagai website yang memberitakan tentang sejarah Candi Cangkuang.

Kitab ini berisi pelajaran fiqih tentang ilmu tauhid yang ditulis tangan dengan huruf Arab, dengan tebal 75 halaman

Foto-foto di atas adalah kitab kuno berisi pelajaran tauhid dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab. Yang menarik adalah keterangan dalam kitab-kitab kuno ini menggunakan bahasa Jawi. Bahasa Jawi adalah bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini dengan tulisan berhuruf Arab dengan penambahan beberapa huruf tertentu. Bahasa Jawi terjadi karena adanya asimilasi antara bahasa Sanskrta dengan bahasa Arab.

Foto di atas adalah contoh kitab yang ditulis dengan bahasa dan huruf dan bahasa Arab yang diberi keterangan dengan bahasa Jawi atau Arab Pegon, yaitu bahasa Jawa (Sunda atau Jawa tengah) ataupun bahasa Melayu dengan tulisan Arab. Adanya temuan Arab Pegon atau Jawi Script ini mempunyai arti penting bahwa selama hidupnya Mbah Dalem Arief Muhammad memimpin satu wilayah yang berpenduduk mayoritas muslim yang telah menetap di wilayah ini selama beberapa generasi sebelumnya. Penggunaan Arab pegon atau tulisan Arab berbahasa Sunda atau Jawa dan bukannya menggunakan huruf dan bahasa Sunda kuno menandakan telah terjadinya asimilasi budaya yang terjalin selama ratusan tahun sebelumnya antara penduduk yang menggunakan bahasa dan tulisan Arab dengan penduduk Nusantara.

Selain kitab kuno, Arief Muhammad juga meninggalkan tradisi bagi penduduk Kampung Pulo yaitu susunan rumah tradisional Sunda yang berjumlah 6 rumah, 3 baris rumah disebelah kanan, dan 3 baris rumah disebelah kiri pada penghujung dua baris rumah ini terdapat rumah yang juga berfungsi sebagai mushola, posisinya persis ditengah dari dua baris rumah ini.

denah rumah adat Kampung Pulo (dari Museum Cangkuang, foto: Sofia)

Adanya aturan semacam ini karena pada masa Mbah Dalem Arief Muhammad hidup, ia memiliki 6 orang putri dan 1 orang putra. Ada dua versi kisah dari putra Arief Muhammad, versi pertama menyebutkan bahwa putranya meninggal pada usia balita. Versi kedua menyatakan bahwa karena sang putra adalah laki-laki, ia harus berguru ke berbagai daerah dan negara untuk kemudian meneruskan tugas ayahnya untuk syi’ar dan untuk menjadi pemimpin dan pendidik masyarakat. Sementara itu, yang menjaga kompleks pemakaman Cangkuang atau kuncen dari pemakaman ini adalah dari keturunan Arief Muhammad yang perempuan, baik itu suami atau suami putri-putri mereka.

Salah satu dari 6 rumah adat Kampung Pulo yang berbaris dan Mesjid Kampung Pulo.

Selama ratusan tahun tradisi ini tetap terjaga hingga saat ini, yang menjadi pewaris tetap rumah adat ini adalah keturunan Arief Muhammad yang wanita.  Keturunan Arief Muhammad yang pria harus meninggalkan rumah adat setelah menikah. Mereka harus meninggalkan rumah paling lambat 2 minggu setelah menikah dan membangun rumah bagi keluarga barunya. Walaupun banyak di antara mereka yang meninggalkan kampung Pulo namun tradisi ziarah dan membersihkan makam tiap hari Rabu tetap dilakukan, apalagi bagi warga yang masih tinggal di kampung Pulo. Tradisi yang telah berusia ratusan tahun inilah yang menyebabkan rumah adat Kampung Pulo masih terjaga hingga saat ini.[1]

Situs-situs pemakaman kuno yang dirusak dengan dalih pemugaran di Nusantara jumlahnya sangat banyak, baik yang dilakukan pada masa kolonial ataupun pasca kemerdekaan. Pemugaran yang telah merusak situs-situs pemakaman bersejarah di Nusantara pasca kemerdekaan banyak dilakukan setelah pemerintahan Orde Baru berkuasa. Situs pemakaman kuno yang pada umumnya berasal dari abad ke-8 dan generasi sebelum dan setelahnya ini banyak mengalami perusakan akibat penguasa yang ingin melanggengkan kekuasaannya dengan berbagai cara. Tujuan yang sama pun dilakukan oleh pemerintah kolonial. Pengaburan sejarah, terutama sejarah Islam yang dilakukan pemerintah kolonial ini hasilnya dapat kita rasakan hingga saat ini. Misalnya, dalam bidang sosial budaya umat Islam dibuat malu dengan adanya kisah-kisah yang menyatakan sebagai tokoh Islam namun tidak mencerminkan ajaran Islam. Selain itu, muncul kesimpangsiuran mengenai agama yang dianut oleh leluhur Nusantara. Akibatnya penduduk negeri ini mudah sekali diadu domba untuk masalah-masalah sepele yang tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan penduduk negeri ini. Ketika rakyat disibukkan oleh masalah-masalah sepele itu, kekayaan alam Nusantara yang melimpah ruah diambil oleh perusahaan-perusahaan asing dengan keuntungan hanya bergulir bagi golongan-golongan tertentu.

Kesimpulan

Situs Cangkuang adalah salah satu warisan sejarah Islam Nusantara yang sangat penting, yang merekam sejarah Islam di Nusantara melalui warisan silsilah, tradisi, kitab kuno, dan pemakaman. Namun sayangya situs sepenting Cangkuang mengalami kerusakan dengan alasan pemugaran. Pembangunan Candi Cangkuang hanya berdasarkan perkiraan karena temuan arca cacat yang sama sekali tidak dapat mewakili arca gambaran dewa atau dewi yang diakui dalam kitab Hindu. Pembangunan Candi pun tidak mengikuti kaidah yang ada, karena membangun candi tanpa ada sisa dari bangunan sebelumnya hanya mengikuti pola Candi yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur tanpa ada pembanding dan melihat lingkungan sekitar yang faktanya adalah pemakaman muslim kuno.

Kami temukan 3 poin penting selama penelusuran sederhana kami mengenai situs Cangkuang dan kami yakin dengan penelitian lebih lanjut tentang siapa dan apa tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman kuno ini akan memberikan poin-poin penting lain yang akan membuka tabir kejanggalan sejarah Islam Nusantara. Ketiga poin penting hasil penelusuran kami tersebut antara lain:

  1. Adanya pemakaman muslim yang sangat luas menunjukkan di wilayah Cangkuang dan sekitarnya pada masa lalu telah ada pemukiman yang mayoritas adalah muslim.
  2. Berdasarkan penelusuran silsilah Mbah Dalem Arief Muhammad, pemukiman ini telah ada atau dibuka setidaknya pada masa Mbah Dalem Arief Muhammad hidup, sekitar tahun 800-an Masehi
  3. Dari kitab bertuliskan bahasa Arab dan penjelasannya dengan bahasa Sunda dan Melayu yang ditulis dengan huruf Arab (Arab Pegon atau Jawi Script) dapat diketahui bahwa sejak 1200 tahun yang lalu telah terjadi asimilasi atau perpaduan budaya antara kaum pendatang dari Arab dan sekitarnya dengan penduduk wilayah Cangkuang yang besar kemungkinan wilayahnya mencakup seluruh kecamatan Cangkuang saat ini. (LiputanIslam.com)

TAMAT

Baca bagian ke enam.

*Sofia Abdullah adalah peneliti independen. Tulisan ini disusun berdasarkan penelitian langsung ke lokasi situs Candi Cangkuang, wawancara dengan penduduk asli, dan penelusuran literatur dari para peneliti independen lainnya dari berbagai disiplin ilmu.

[1] Sumber: penduduk sekitar Kampung Pulo, antara lain Pak Roshidin dan istrinya, yang memiliki silsilah yang bersambung hingga ke Mbah Dalem Arief Muhammad.