Khadijah al Kubro, Sang Putri Mekkah (3)

Pengorbanan Khadijah Untuk Islam

Dalam hadits yang terkenal Rasul saw bersabda tegaknya Islam karena 2 hal Harta Khadijah dan Pedang Ali. (1) Rasul saw mengatakan demikian karena memang pada masa awal Islam, harta sayyidah Khadijah banyak menolong kaum muslim dari segala kesempitan, dari mulai hutang piutang, membebaskan perbudakan, memberikan modal dagang kepada utusan Rasul yang menyebarkan Islam ke berbagai negara hingga menuntaskan kemiskinan.

Pada masa awal kerasulan para pemuda dan ahlul kitab dari berbagai negara datang mencari Rasul saw, yang namanya di sebut dalam kitab-kitab mereka, hanya saja setibanya mereka di Mekkah, kekayaan mereka di rampok, dan mereka pun di perbudak oleh kafir Quraisy. Dengan hartanya, Khadijah membebaskan mereka semua. Contoh sahabat yang terkenal dari kalangan ahlul kitab yang diperbudak kemudian di bebaskan adalah Bilal bin Rabbah al Habsy dan Salman al Farisi.

Tahun 616-617 M, jumlah kaum muslim semakin banyak, penyiksaan kepada kaum muslim semakin bertambah, hingga puncaknya terjadi pemboikotan kepada Bani Hasyim.

Tahun 617 M, sekitar 7 tahun setelah kerasulan, pemuka kafir Quraisy, yang di dalangi oleh Abu Jahal, Abu Sufyan dan Al Walid al Mughirah mengumpulkan kepala suku-kepala suku Arab dan membuat perjanjian sepihak untuk melakukan boikot kepada bani Hasyim dan kaum muslim selama 7 tahun, perjanjian sepihak ini tertulis diatas kertas yang tebal.

Perjanjian ini kemudian di tandatangani oleh para kepala suku dan di gantungkan di dalam ka’bah.
Pemboikotan ini meliputi pelarangan melakukan jual beli kepada kaum muslim, dilatang melakukan interaksi sosial dengan kaum muslim bila melanggar akan mendapatkan hukuman dari setiap kepala suku.

Akibat pemboikotan ini, usaha-usaha dagang sayyidah Khadijah di Mekkah dan diluar negeri seperti Syam, Mesir, Yaman dan sebagainya, terhenti hingga tidak ada pemasukan. Begitu juga usaha-usaha kaum muslim yang lain, toko-toko mereka dirusak, barang dagangan, rumah dan kekayaan mereka di rampok. Boikot ini menyebabkan banyak kaum muslim yang kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal.

Melihat situasi ini, Abu Thalib kemudian meminjamkan tanahnya yang luas sebagai tempat tinggal tinggal sementara untuk kaum muslim. Di tanah milik Abu Thalib ini kaum muslim mendirikan tenda sebagai tempat berteduh. Tanah Abu Thalib yang terletak di lembah di pinggiran Mekkah ini di namakan Syi’ib Abu Thalib.

Situs reruntuhan Syi’ib Abu Thalib, lokasi tanah Abu Thalib yang digunakan untuk menampung kaum muslim selama masa boikot.
Peta lokasi Syi’ib Abu Thalib

Selama masa pemboikotan ini, lebih dari 400 kaum muslim dan Bani Hasyim mengungsi ke lembah Abi Thalib (Syi’ib Abi Thalib). Di lembah yang gersang dan dingin itu kaum muslim dapat terus makan dan berpakaian karena pertolongan yang Khadijah berikan dengan harta dan jiwa nya. Sering ia tidak makan karena mendahulukan keluarga muslim, terutama kaum muslim yang masih memiliki balita.

Tahun 619, Abu Thalib mendapat tawaran untuk mengakhiri masa boikot dengan syarat menyerahkan nabi Muhammad saw. Abu Thalib menolak dengan tegas, dan meneruskan pesan nabi Muhammad bahwa surat perjanjian mereka telah rusak di makan rayap.

Para pemuka kafir Quraisy tertawa mendengar ini dan mengatakan Abu Thalib sudah gila karena sangat mempercayai kemenakannya. Abu Thalib kemudian menantang mereka untuk melihat kondisi surat perjanjian tersebut, bila yang dikatakan kemenakannya benar, pemboikotan harus berakhir. Dan benarlah apa yang di katakan Rasul saw, pemboikotan yang seharusnya berlangsung selama 7 tahun, dengan izin Allah selesai dalam waktu 3 tahun, dengan habisnya kertas perjanjian di makan rayap.

Wafatnya Sang Putri Mekkah

Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib berperan besar dalam peristiwa pemboikotan ini. Beliau menyumbangkan seluruh hartanya yang tersisa untuk perjuangan Islam hingga koin terakhir.

Masa pemboikotan ini telah menguras bukan hanya seluruh harta Khadijah yang tersisa, tapi juga kesehatannya yang terus menurun karena selalu mendahulukan kaum muslim dari pada dirinya. Demikian pula dengan Rasulullah saw dan Abu Thalib yang saat itu telah berusia 80 tahun.

1 hingga 3 bulan setelah pemboikotan selesai, Abu Thalib sang paman yang selalu membela dan melindungi nabi saw wafat pada tanggal 26 Rajab 3 tahun sebelum Hijrah nabi saw . Belum lagi habis duka nabi atas wafatnya sang paman yang sangat dikasihinya, sang istri yang sangat dicintainya sakit keras.
Selama sakitnya Nabi saw, berjaga sepanjang malam untuk merawat, menghiburnya dan mendoakan Khadijah dengan penuh kasih sayang, nabi saw berkata pada Khadijah bahwa Allah SWT telah menjanjikan kebahagiaan abadi untuknya, dan telah membangun sebuah istana di surga untuknya.

Menjelang pagi, tubuh sayyidah Khadijah yang lemah tidak mampu lagi menahan demam dan sakit yang dideritanya, jiwanya yang suci dan mulia meninggalkan bumi ke istana abadinya di Surga. Sayyidah Khadijah wafat pada usia 50 tahun, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan 619 M. Wafatnya sayyidah Khadijah memenuhi hati nabi dengan duka yang sangat dalam.

Selama 25 tahun pernikahan, Khadijah sang putri Mekkah telah memberikan segalanya untuk perjuangan syiar suami yang dikasihinya. Sayyidah Khadijah wafat setelah menjadi satu-satunya istri Rasul saw selama 25 tahun.

Pada saat pemakaman, nabi sendiri yang turun kedalam pusaranya dan berbaring di dalamnya beberapa saat. Kemudian beloau saw membantu orang-orang yang berkabung lainnya, untuk menurunkan jasad kedalamnya.

Sayyidah Khadijah dimakamkan di pemakaman Bani Hasyim, di dataran tinggi Mekkah di kaki bukit al Hajun, Lokasi yang kini di kenal dengan nama Jannatul Ma’la, pada tanggal 11 Ramadhan 3 tahun sebelum Hijrah, sekitar tahun 619 M. Tahun ini kemudian dalam sejarah Islam dikenal sebagai tahun duka cita, karena pada tahun ini terjadi 2 peristiwa yang menyebabkan duka yang mendalam bagi nabi, dua orang yang sangat dicintai dan mencintainya telah berpulang dalam waktu yang hampir bersamaan.

Makam Sayyidah Khadijah dan 2 putra rasul saw, Abdullah dan Qosim, sebelum dihancurkan oleh Bani Saud tahun 1963-1964.

Sumber gambar : http://kangluqman.blogspot.com/2013/02/foto-makam-sayyidah-khadijah-ra-sebelum.html?m=1

Makam Sayyidah Khadijah sa, Abdullah dan Qosim setelah dihancurkan oleh bani Sa’ud dengan alasan bid’ah. Sumber gambar : http://id.wikishia.net/view/Pemakaman_al-Ma’la

Rasulullah saw sangat mencintai sayyidah Khadijah, bukan hanya karena kecantikan dan kesempurnaan akhlaknya tapi karena ketaatannya pada Allah SWT dan keyakinannya pada suaminya dan pada Islam yang menyebabkan ia rela mengorbankan seluruh harta dan jiwanya demi tegaknya Islam, dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda:
Di dunia ini, tidak ada wanita yang paling aku cintai kecuali Khadijah. ia telah beriman kepadaku disaat penduduk Mekkah masih kafir, dia membenarkan keNabianku disaat penduduk Mekkah mendustakannya, ia mencurahkan seluruh hartanya untuk dakwah disaat orang-orang kafir menghalangi dakwahku. Dan dia telah memberikanku keturunan.” (HR. Bukhari, Ahmad, Thabrani)

Khadijah adalah satu dari empat wanita yang menjadi teladan dalam kehidupan muslim. Keempatnya dijanjikan surga sesuai hadist yang dinarasikan Ad-Dzahabi.

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
Artinya: “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah.” (HR Muslim).

“Warisan” Khadijah untuk Muslimah

Sayyidah Khadijah adalah sosok wanita sempurna yang seharusnya menjadi panutan bagi kaum muslimah, sebagai seorang hamba Allah beliau tidak pernah melakukan perbuatan dosa, ketika kaum bangsawan yang lain bergelimang dosa dan kebejatan moral, beliau dijuluki “Thahirah” (wanita suci), kepeduliannya kepada sesama, sikap welas asihnya menjadikannya sebagai ibu bagi anak yatim dan fakir miskin.

Sebagai seorang anak, beliau adalah putri kebanggaan ayah dan ibunya, bukan hanya dikenal karena kecantikan dan kemuliaan akhlaknya, beliau juga dikenal sangat cerdas dan seorang pedagang ulung, karena kecerdasannya inilah beliau menggantikan posisi sang ayah, sebagai pengusaha ulung. Seorang wanita karir yang sukses pada masa laki-laki berkuasa atas segalanya. Sebagai istri beliau adalah wanita yang mulia dan menjadi perhiasan kebanggaan dan kebahagiaan sang suami, sebagai ibu beliau adalah figur ibu yang ideal yang membentuk sosok putri yang sempurna, sayyidah Fatimah az zahra.

Kesejahteraan dan rahmat semoga dilimpahkan atas Sayyidah Khadijah, wanita pertama yang meyakini kebenaran Islam. Kesejahteraan dan rahmat semoga dilimpahkan atasnya, wanita terbaik serta paling utama dari semua wanita, kekasih al Mustafa semoga kita semua di beri anugerah untuk lebih mengenal sosok beliau yang mulia dan menjadikan beliau panutan, sebagai hamba Allah SWT, sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai putri dari orang tua kita..

Dengan menjadikan sayyidah Khadijah panutan dalam kehidupan kita mudah-mudahan kita layak mendapat syafaat di hari kebangkitan kelak. Amin yaa rabbal alamin Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad.


Selesai

Ditulis oleh :

SofiaAbdullah

Catatan kaki & Referensi

(1) Pedang Ali yang di maksud dalam hadits nabi ini adalah kehebatan Imam Ali dalam berperang melawan musuh-musuh Islam selama periode Madinah. Pada masa Rasul saw, perang hanya dilakukan jika ada yang memerangi baik secara terang-terangan atau rasul saw mengetahuinya sebelum peristiwa perang terjadi, seperti pengkhianatan Yahudi Khaibar dan Fadaq yang bekerja sama dengan kaum kafir Quraisy untuk membunuh rasul saw.

Buku-Buku Referensi

1. Razwy, Sayid, A.A, Menapak Jalan Suci Sang putri Mekkah: Sejarah Khadijah al Qubro, Istri Rasul Saw, hal.257-285, Jakarta, Lentera 2007

2. Dibaji, Sayid abul Qosim, Ummul Mukminin Khadijah : Biografi, Perjuangan dan Keteladanan Muslimah Pertama, cet.I, penerbit Citra Des. 2014

3. Al Huseini, al Hamid, H.M.H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw,hal. 230-233, pustaka Hidayah, Bandung, 2006 (akhlak nb Muhammad dlm berdagang)

4. Al Jibouri, Yasin T, Allah Konsep Tuhan menurut Islam, penerbit Lentera, Jakarta 2003

5. Al Khanizi, Abdullah, Abu Thalib Mukmin Quraisy, cet.4, penerbit Lenyera, Jakarta 2008

6. Ma’arif, Majid, DR, Sejarah Hadits, hal. 124-147, penerbit Nur al Huda, cet.1, 2012

7. Referensi: https://tafsirweb.com/37392-quran-surat-al-quraisy.html

Khadijah al Kubro, Sang Putri Mekkah (2)

Ditulis oleh : Sofia Abdullah

Pernikahan pada Masa Arab Jahiliyyah

Sebelum sampai ke pernikahan Sayyidah Khadijah dan nabi Muhammad saw, ada baiknya kita melihat bagaimana tradisi pernikahan pada masa jahiliyyah kondisi ini sangat mempengaruhi sikap Khadijah yang sangat hati-hati dalam memilih pasangan hidup dan menyebabkannya “terlambat” menikah pada zamannya. Pada masa Islam 4 jenis pernikahan ini diharamkan karena sangat merendahkan kedudukan kaum wanita.

4 jenis Pernikahan pada masa jahiliyah yang sangat merugikan wanita dan dilarang pd masa Islam:

1. Pernikahan yang dilakukan sebagai alat pembayaran, misal membeli pedang, bayarannya menikah dengan perempuan.

2. Suka sama suka, wanita Quraisy yang kaya raya, bisa berzina dengan siapapun yang dia kehendaki, satu orang wanita biasanya digilir oleh 10 orang laki-laki. Bila wanita tersebut hamil, ia akan memilih salah satu dari 10 laki-laki tersebut utk menjadi ayahnya, contoh kasus sejarah yang pernah melakukan tradisi ini pada era Jahiliyyah adalah Hindun binti Utbah dan Abu Sufyan bin Harb.

3. Suami istri yang sudah menikah, bisa membayar wanita atau laki-laki lain yang dia suka untuk berhubungan hingga memiliki anak. Kasus sejarah yang pernah terjadi menggunakan tradisi ini adalah al Walid al Mughirah, bangsawan Mekkah yang memiliki banyak putra dan putri yang lahir dengan cara seperti ini. (1)

4. Pernikahan di hadapan berhala, hampir mirip dengan cara Islam ada proses melamar, dilamar, memberikan mahar, saksi dan syarat pernikahan lainnya hanya saja pernikahan dilakukan di hadapan berhala.

Kondisi masyarakat jahiliyyah seperti inilah yang menyebabkan Sayyidah Khadijah yang sangat cantik, kaya raya, dan beragama tauhid sangat sulit memilih suami yang sesuai dengan kriterianya, terutama dalam agamanya, yang umumnya adalah penyembah berhala dan sangat merendahkan wanita.

Karena hal ini pula hingga usia 28 tahun, sayyidah Khadijah belum menikah. Usia yang bagi masyarakat jahiliyyah sudah dikatakan cukup tua, karena pada masa itu suatu hal yang umum laki-laki dewasa menikah dengan wanita di bawah umur. Banyak kaum bangsawan dan saudagar yang kaya raya meminang Khadijah, namun selalu ditolak.

Karena asumsi ‘wanita tua’ inilah 200 tahun kemudian muncul hadits rekayasa bani Umayyah dan Abbasiyyah yang mendeskreditkan Khadijah dengan mengatakan sayyidah Khadijah menikah di usia 40 thn. Padahal banyak pendapat dari kalangan ahli sejarah dan ahli hadits yang menyatakan bahwa hadits yang menyatakan hal tersebut adalah rekayasa.

Banyaknya bangsawan terkenal yang melamar dengan segala arak-arakannya menyebabkan adanya pendapat bahwa sayyidah Khadijah telah menikah sebelum menikah dengan nabi Muhammad saw atau beliau adalah seorang janda, bahkan ada yang mengatakan beliau telah menjanda 2 kali. Dalam riwayat yang lain sayyidah Khadijah dikatakan telah memiliki anak hanya karena beliau banyak menaungi anak yatim dan fakir miskin.

Menurut penelitian sejarah nabi terkini, diambil dari kitab-kitab klasik karya ulama besar pada masanya, karena alasan-alasan tersebut diatas sayidah Khadijah tidak pernah menikah ataupun telah memiliki anak sebelum menikah dengan nabi Muhammad saw.

Khadijah Melamar Nabi saw

Khadijah akhirnya menemukan pria pilihannya dalam diri Muhammad saw, pemuda tampan berusia 25 tahun yang sangat giat bekerja dan telah memberinya keuntungan berlimpah justru dengan kejujurannya. Khadijah mengetahui dan yakin bahwa Muhammad bukan hanya sekedar pemuda berwajah tampan, tapi beliau juga seorang pemuda yang berakhlak mulia, beragama tauhid seperti dirinya, dan pemuda yang dikenal dengan kejujurannya yang mengesankan.

Sayyidah Khadijah pun tertarik untuk mengenal Muhammad secara lebih dekat dan menyampaikan hal ini kepada Nafisah binti Muniyah, sahabat karib, sekaligus asisten Khadijah dalam perdagangan. Karena sering bepergian bersama Muhammad saw, Nafisah kemudian menjadi perantara Khadijah untuk mengenal Muhammad saw lebih dekat.

Tak lama setelah Nafisah menjadi perantara, Khadijah kemudian melamar Rosul untuk menikahinya. Lamaran Khadijah ini di sambut hangat oleh Abu Thalib, karena Khadijah masih kemenakannya juga dan sangat mengetahui sekali perilaku dan akhlak Khadijah.

Dengan bantuan Abu thalib pamannya, Muhammad pun mengajukan pinangan ke wali Khadijah yang tak lain paman beliau juga yakni Amr bin Asad.
Sebagai mahar kepada Khadijah Abu Thalib memberikan 400 Dirham untuk pernikahan kemenakan yang paling dicintainya.

Sayyidah Khadijah menikah dengan nabi saw pada usia 28 tahun, dan usia nabi saw 25 tahun.(2) Pernikahan Khadijah dengan nabi saw adalah pernikahan pertamanya, sebelumnya beliau tidak pernah menikah dengan lelaki manapun selain Rasul saw.

pernikahan pun di selenggarakan dengan meriah selama tiga hari tiga malam dengan berbagai hidangan untuk seluruh penduduk mekkah, kaya miskin semuanya mendapat jamuan yang sama.

Setelah pesta pernikahan, Khadijah dibawa kerumah suaminya, Muhammad saw. Untuk menyambut Khadijah sebagai menantu dan sebagai bagian dari keluarga pengantin pria, Abu Thalib mengadakan acara “Jamuan Walimah”. Acara jamuan walimah ini merupakan acara yang paling membawa berkah yang pernah ada di muka bumi, karena pada saat itu setiap pengemis, musafir dan orang kelaparan yang ada di seluruh kota Mekkah dipersilahkan makan dan minum dikediaman Abu Thalib.

Acara Jamuan walimah ini adalah acara yang pertama kali diadakan di kota Mekkah. Dan sejak saat itu menjadi tradisi di kalangan muslim untuk melakukan jamuan walimah, untuk mengenang pesta pernikahan agung Sayyidah Khadijah dan Muhammad saw. Ketika ajaran Islam tersebar di luar Jazirah Arab, tradisi ini terus ada dikalangan kaum muslim. Di Indonesia, khususnya di pulau jawa tradisi ini dikenal dengan acara tradisi “Ngunduh Mantu”. (3)

Putra-putri Rasul saw dan Khadijah

Khadijah dan Rasul saw memperoleh 2 putera dan 1 puteri yaitu Qasim, Abdullah (julukan Thathir dan Thayib) dan yang terakhir adalah Fatimah as.
Memang ada pendapat yang mengatakan dari Khadijah rasul memiliki 4 orang putri, yaitu Ruqayyah, Zaenab, Ummu Kultsum, Fatimah dan 2 orang putra yang wafat ketika masih balita, yaitu; Qosim dan Abdullah. Namun dari penelitian terkini, sebagian ahli sejarah Islam, mengatakan bahwa Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Zainab, bukanlah putri nabi saw dengan Khadijah atau putri Khadijah dari suami terdahulu.

Bila mereka bukan putri-putri Rasul, lalu siapakah mereka?

Terdapat beberapa fakta sejarah penting yang terkait dengan pribadi agung Nabi Muhammad saw dan Sayyidah Khadijah, yang menjadi bukti bahwa mereka bukan putri-putri rasul saw dan sayyidah Khadijah, berikut adalah fakta-fakta sejarah yang kami kumpulkan dari berbagai sumber terkait tentang ketiga putri ini :

1. Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak yatim, putri dari adik Khadijah yang bernama Khalah. Ayah mereka meninggal sejak ketiga anak ini masih kecil. Sejak itu pula ketiga anak ini dan ibunya Khalah menetap dan di tanggung kehidupannya oleh Khadijah dirumah besar beliau. Ketika sang ibu meninggal ketiga puterinya tetap tinggal dirumah Khadijah, dan menjadi anak angkat beliau.

2. Tahun 595 M, Khadijah menikah dengan nabi saw, Sesuai dengan kebiasaan masyarakat Arab saat itu, ketiga kemekan Khadijah ini memanggil beliau dengan sebutan Ummi, dan memanggil nabi Muhammad saw dengan sebutan Abi, bukan Ammati (bibi) atau Ammi (paman) walaupun ketiganya adalah kemenakan Khadijah. (4)

3. Tahun 610 M nabi Muhammad di angkat menjadi Rasul saw. (5) Mayoritas masyarakat Kafir Quraish menentang nabi saw. Tidak lama setelah peristiwa diangkatnya nabi menjadi Rasul, Ruqayah, Zaenab dan Ummu Kultsum, dikabarkan menikah dengan kaum kafir Quraisy, yaitu putera-putera Abu Jahal, Utbah dan Utaibah, sementara Zainab menikah dengan Abu al Aas ibn al Rabi. Beberapa riwayat mengisahkan, pernikahan ini terjadi karena ketiga kemenakan Khadijah ini diambil kembali oleh keluarga bapaknya.

4. Pernikahan ini juga sebagai bukti jelas bahwa ketiga putri ini bukan putri dari Sayyidah Khadijah dan Rasulullah atau putri Khadijah, karena seandainya ketiga putri ini masih tetap tinggal dengan sayyidah Khadijah dan nabi Muhammad saw, bisa di pastikan tidak mungkin nabi saw atau sayidah Khadijah menyerahkan anak-anaknya kepada penyembah berhala seperti Utbah dan Utaibah, karena sayyidah Khadijah pun sejak kecil bukan penyembah berhala.

5. Pernikahan dengan penyembah berhala dilarang keras dalam Islam, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an, “Jangan engkau menikahkan anak-anak perempuan mu dengan kaum kafir”(Q.S Al Baqarah:221)

6. Walaupun mereka menikah sebelum turunnya wahyu tersebut diatas tetap saja bila ketiga putri tersebut adalah benar putri dari Muhammad saw, atau berada dalam asuhannya mustahil nabi Muhammad saw yang selama hidupnya selalu menyembah Allah SWT (agama nabi Ibrahim) akan menikahkan mereka dengan kafir Quraisy.

7. Setelah pernikahan dengan putra-putra kafir Quraisy tersebut, berita tentang Ruqayah, Zaenab, dan Ummu Kultsum tidak pernah terdengar lagi, berbeda dengan kisah Fatimah az Zahra yang selalu mendampingi ayah dan ibunya dalam berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Berita tentang ketiga kemenakan Khadijah ini baru di kisahkan kembali pada periode Madinah (6), sekitar 15 tahun setelah periode kerasulan (610 M)

8. Berita berikutnya tentang 3 putri kemenakan sayyidah Khadijah ini adalah perceraian Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan suami-suami mereka, atas perintah ayah mereka Abu Jahal, sebagai reaksi atas turunnya surat al Lahab (7). Ruqayyah kemudian diberitakan menikah dengan Utsman bin Affan dan hijrah bersama suaminya ke Habasyah. Ruqayyah diriwayatkan memiliki 1 orang putra yang meninggal di usia 6 thn. Tahun 624 Ruqayyah meninggal, posisinya sebagai istri Utsman digantikan oleh adiknya Ummu Kultsum, yang meninggal 6 tahun kemudian tanpa anak. Dengan pernikahan ini Utsman dikatakan yang memiliki 2 cahaya (dzunurrain) (8)

Perbedaan pendapat dalam sejarah adalah hal yang umum terjadi sejak masa klasik. Perbedaan pendapat terjadi karena sejarah bukan ilmu pasti, ketika ditemukan bukti baru yang mematahkan sejarah lama, baik secara dalil, tradisi atau logika, jalannya peristiwa sejarah seharusnya bisa diganti. Namun seandainya pun tidak di rubah dengan menampilkan sudut pandang sejarah yang berbeda diharapkan akan menambah wawasan sejarah kita tentang Nabi saw dan keluarganya. Perbedaan pendapat tentang usia Khadijah saat menikah misalnya, sedikit pun tidak mengurangi kemuliaan seotang Khadijah al Qubro seandainya beliau adalah seorang janda dan telah memiliki anak sebelumnya. Namun sejarah adalah kumpulan pendapat disertai bukti-bukti pendukung, tugas sejarawan adalah memperlihatkan data bukan asal bicara atau menulis, adapun pilihan versi mana yang akan dipilih, dikembalikan kepada para pembaca.

Bersambung ke bag. 3 : https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/05/20/khadijah-al-kubro-sang-putri-mekkah-3/

Catatan kaki & Sumber

(1) pada poin 2 dan 3 adalah gambaran kebejatan moral yang sudah menjadi tradisi umum di kalangan bangsawan kafir Quraisy baik laki-laki atau perempuan pada masa Jahiliyyah. Perlakuan yang sebaliknya terjadi pada yang bukan dari kalangan bangsawan, apalagi mereka yang miskin atau mereka yang bekerja pada kaum bangsawan atau terlibat hutang piutang dengan kalangan ini. Bila kaum miskin memiliki anak perempuan menjadi satu kehinaan besar bagi orang tuanya karena anak perempuan tidak punya pilihan lain selain menjadi penghibur kaum elit atau diperbudak untuk membayar hutang. Seperti yang digambarkan dalam Al Qur’an surat al An Am ayat 151 : dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Karena kondisi inilah, muncul tradisi membunuh anak-anak perempuan dikalangan kaum miskin, pekerja atau mereka yang terlilit hutang pada kaum elit. Sejarah Islam merekam masa ini dengan kasus yang terjadi pada Umar bin Khatab pada masa Jahiliyyah yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya dan kisah saudara perempuan Sumayyah yang dibunuh oleh ayahnya sendiri, dari pada menjadi kehinaan bagi orangtuanya.

(2) Berikut adalah 2 dari beberapa hadits yang menyatakan Khadijah menikah dengan Muhammad saw di usia 28, bukan 40. Hisham bin Muhammad bin al Sa’ib meriwayatkan dari ayahnya (Muhammad bin al Sa’ib al Kalbi) dari Abu Salih, bahwa ibnu Abbas berkata : “ pada saat menikah dengan Rasulullah saw, Khadijah berusia 28 tahun. (Sumber : Ibn Sa’d, Muhammad, Tabaqat al-Kubra, Vol.8, 13)
Abu thalib dan khadijah wafat pada tahun yg sama, tiga tahun sebelm rasulullah saw Hijrah ke Madinah. Khadijah di makamkan di al Hajun, Rasulullah saw sendiri yang meletakkan jasad sayidah Khadijah di makamnya. Usia sayyidah Khadijah 28 tahun ketika Rasul saw menikah dengan Khadijah.
(Sumber : Al-Hakim, Abu ‘Abdullah. al-Mustadrak. pp. Vol.3, 200 No. 4837.)
Kedudukan hadits2 ini shahih dan bahkan lebih kuat dari pada hadits Khadijah menikah di usia 40, walaupun secara jumlah lebih sedikit, hanya saja hadits usia 28thn jarang dipublikasi karena kepentingan politik saat itu, yang cenderung merendahkan Bani Hasyim dan meninggikan Bani Umayyah. Diantara kalangan akademisi yang mempopulerkan hadits ini kembali dan di teliti secara ilmu sejarah Islam adalah Akram Dia’a Al-Umari (guru besar sejarah Islam Universitas Islam Madinah), Muhammad Hamidullah (m. 2002; akademisi pakistan), dan kemudian diperkuat Yasir Abu Ammar Yasir Qadhi (peneliti di East Plano Islamic Center, Texas).

(3) Jamuan walimah atau ngunduh Mantu adalah tradisi yang pertama kali diadakan oleh Abu Thalib untuk menyambut menantunya, pada acara tersebut setiap penduduk Mekkah adalah tamunya, tua, muda, miskin,kaya, semua sangat senang dengan peristiwa ini. untuk mengenang peristiwa pernikahan agung ini, penduduk Mekkah mulai saat itu memiliki tradisi baru, yaitu jamuan Walimah. Tradisi jamuan Walimah hingga hari ini masih dilestarikan dikalangan kaum muslim terutama di Indonesia. ( Razwy, hal. 65)

(4) Dibaji, Sayid Abul Qosim, Ummul Mukminin Khadijah; Biografi Perjuangandan keteladanan Muslimah Pertama, hal. 247-252,cet.I penerbit Citra 2014

(5) Tahun 610 M, nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul saw. Pada masa kerasulan ini tugas nabi menyerukan syi’ar Islam secara terang-terangan di dalam kota Mekkah atau diluar Jazirah Arab. Awal masa kerasulan adalah periode yang sangat berat, nabi di katakan gila, penyihir dan sebagainya. Pada masa inilah ketiga putri nabi diambil kembali oleh keluarga bapaknya dari asuhan Muhammad saw dan Khadijah.

(6) berdasarkan riwayat yang masyhur, pertemuan Rasul saw dan Zainab terjadi setelah perang Badr, ketika Zainab ingin menebus sang suami yang menjadi tawanan perang dengan kalung pemberian Khadijah yang pada saat itu telah wafat. Rasul saw karena teringat akan pengorbanan Khadijah, kemudian membebaskan Suami Zainab dengan syarat, dia akan mempelajari Islam. Suami Zainab kemudian masuk Islam.

(7) perceraian ini seharusnya tidak terjadi bila Ruqayyah dan Ummu Kultsum masih tinggal bersama sayyidah Khadijah dan rasul saw.

(8) banyak kisah yang janggal seputar pernikahan Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan, diantaranya ; riwayat yang mengatakan sebelum hijrah ke Madinah, Utsman ada di Mekkah, namun tidak dikisahkan tentang Ruqayyah. Kisah ttg Ruqayyah baru muncul kembali menjelang kematiannya di Madinah, pada saat perang Badr. Alasan ini juga yang menyebabkan absennya Utsman dalam perang Badr. Tentang Ummu Kultsum pun demikian, riwayat tentang Ummu Kultsum hanya 2, perceraiannya dengan Utaibah bin Abu Jahal, menikah dengan Utsman bin Affan setelah wafat sang kakak hingga meninggalnya tahun 630 M (tahun ke-9 H). Keberadaan ketiga putri ini masih belum jelas hingga saat ini, dari ketiganya yang paling jelas adalah Zainab, yang dikatakan tinggal di Mekkah, namun itu pun masih menyisakan pertanyaan apa peran Zainab selama periode terberat dalam sejarah Islam di Mekkah? Dari ketiganya yang paling tidak ada riwayat adalah Ummu Kultsum. Keberadaannya hanya dikaitkan dengan pernikahannya dengan Utsman bin Affan, karena fakta inilah beberapa ahli hadits dan sejarah Islam berpendapat, bahwa hadits tersebut adalah satu diantara ribuan hadits palsu yang terkait politik, yang bertujuan untuk memuliakan Bani Umayyah yang di wakili oleh sosok Utsman bin Affan dan merendahkan Bani Hasyim yang di wakili oleh sosok sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Buku-Buku Referensi

1. Razwy, Sayid, A.A, Menapak Jalan Suci Sang putri Mekkah: Sejarah Khadijah al Qubro, Istri Rasul Saw, hal.257-285, Jakarta, Lentera 2007

2. Dibaji, Sayid abul Qosim, Ummul Mukminin Khadijah : Biografi, Perjuangan dan Keteladanan Muslimah Pertama, cet.I, penerbit Citra Des. 2014

3. Al Huseini, al Hamid, H.M.H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw,hal. 230-233, pustaka Hidayah, Bandung, 2006 (akhlak nb Muhammad dlm berdagang)

4. Al Jibouri, Yasin T, Allah Konsep Tuhan menurut Islam, penerbit Lentera, Jakarta 2003

5. Al Khanizi, Abdullah, Abu Thalib Mukmin Quraisy, cet.4, penerbit Lenyera, Jakarta 2008

6. Ma’arif, Majid, DR, Sejarah Hadits, hal. 124-147, penerbit Nur al Huda, cet.1, 2012

7. Referensi: https://tafsirweb.com/37392-quran-surat-al-quraisy.html

Khadijah Al-Kubro, Sang Putri Mekkah (1)

Ditulis oleh: Sofia Abdullah

Khadijah al Qubro adalah istri rasul saw dan Ummul mukminin yang pertama. Rasul saw sangat mencintai Khadijah. Banyak hadits-hadits yang mengisahkan kemuliaan Khadijah, hingga beliau bergelar Khadijah al Kubro atau Khadijah yang Agung (memiliki kedudukan mulia).

Siapakah Khadijah al Kubro? Benarkah beliau seorang janda dan menikah dengan rasul di usia 40 tahun? Berapakah putri rasul saw dengan sayyidah Khadijah? Kenapa hanya sayyidah Fatimah az Zahra yang dikisahkan dalam sejarah Islam? Apakah benar ada manipulasi data terkait sejarah sayyidah Khadijah?

Biografi singkat ini mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, dan mengulik rasa ingin tahu pembaca untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah istri yang paling di cintai oleh Rasulullah saw ini.

Suku Quraisy, leluhur Khadijah dan Muhammad saw

Khadijah adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay bin Qilab, nasabnya bertemu dengan Rasullullah saw di leluhur suku Quraisy yg bernama Qusay. Qusay bin Qilab berputra beberapa orang, 2 diantaranya Abdul Uzza dan Abdul Manaf. Abdul Manaf berputra Hasyim, Hasyim berputra Abdul Muthalib, Abdul Muthalib berputra Abdullah ayah Rasulullah saw.

Khadijah dan Rasul saw adalah keturunan Qusay bin Kilab bin Murra bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr yang lebih di kenal dengan Quraisy. Suku Qurasiy adalah suku yang paling ulung dalam perdagangan baik dalam negeri atau perdagangan lintas negara.

Menurut Gus Achmad, kata Qurays berasal dari kata Qurs artinya yang mengumpulkan/mendistribusikan uang/ para pengusaha (saudagar) pada zamannya. Kaum Quraisy ini keturunan dari Fihr, beliaulah yang pertama kali mendapat gelar Quraisy, karena ia ahli di bidang Kurs atau administrasi/perdagangan. (1)

Kemahiran suku Quraisy dalam berdagang terlihat dari kemampuan mereka melihat situasi politik, pergantian musim dan lokasi yang berpengaruh pada keuntungan perdagangan. Politik perdagangan kaum Quraish ini diantaranya selalu mengadakan perjalanan dagang pada 2 musim, yaitu pada musim panas dan musim dingin. Sementara pada masa itu perdagangan hanya di lakukan permusim, 1 musim 1 kali perjalanan dagang. Sementara kafilah dagang Quraisy melakukan 2 kali perjalanan dagang.

Pada musim dingin mereka melakukan perjalanan dagang ke selatan Hijaz, yaitu Yaman. Lokasi Yaman berada di tepi pantai, karenanya memiliki iklim yang berbeda dengan di Hijaz, bila di Hijaz musim dingin di Yaman musim panas. Pada musim panas kaum Quraisy melakukan perjalanan ke utara Hijaz, yaitu wilayah Syam dan sekitarnya hingga ke Turki dan Eropa.

Para kafilah dagang ini menjual hasil bumi dan kerajinan khas gurun, seperti karpet, barang porselen dan keramik yang di buat di sekitar wilayah hijaz (Mekkah, Madinah, Thaif dsb.). Mereka juga menjual berbagai barang dari perdagangan lintas benua, seperti rempah dari India dan Asia Tenggara, Sutera dari Cina dan sebagainya. Dari perdagangan inilah suku Quraisy menjadi salah satu suku terkaya yang di hormati di Jazirah Arab dan sekitarnya.

Kemahiran suku Quraisy dalam perdagangan disebutkan dalam Al Qur’an surat Quraisy, ayat 1-4

لِإِيلَٰفِ قُرَيْشٍ li`īlāfi quraīsyin = Karena kebiasaan orang-orang Qurais

إِۦلَٰفِهِمْ رِحْلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيْفِ īlāfihim riḥlatasy-syitā`i waṣ-ṣaīf = (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas

فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هَٰذَا ٱلْبَيْتِ falya’budụ rabbahāżal-baīt = Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah)

ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ allażī aṭ’amahum min jụ’iw wa āmanahum min khaụf = Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan

Suku Quraisy adalah keturunan dari nabi Ibrahim as dari putra beliau Ismail as. Namun demikian tidak semua suku Quraisy beragama tauhid. Mayoritas suku Quraisy telah banyak yang menyembah berhala, hanya sebagian kecil suku Quraisy yg masih beragama tauhid. Beberapa diantara suku Quraisy yang mayoritas masih beragama tauhid adalah bani Hasyim yaitu suku dari keluarga rasul saw dari jalur ayah beliau Abdullah, sebagian kecil dari jalur Ibu beliau saw Aminah binti Wahab dari suku Zuhrah, yang juga dari bani Quraisy.

Demikian pula dengan kakek moyang Sayyidah Khadijah pun sama beragama Tauhid. Sepupu Khadijah, Waraqah ibn Naufal bahkan menjadi biarawan atau pemuka agama tauhid pada masanya.

Selain beragama tauhid leluhur Khadijah adalah pewaris ilmu dagang dari Qusayy bin Qilab yang juga adalah leluhur Rasul saw. Qusayy adalah orang terkaya di Jazirah Arab pada zamannya karena kepandaiannya berdagang. Dalam kitab Barzanji disebutkan nama asli Qusayy adalah Muzammiq. Kenapa disebut Qusay? Karena ia sering melakukan petualangan ke berbagai negeri yang jauh.

Kisah kisah perjalanan dagang Qusayy ini tercatat dalam Syair-syair arab yang terkenal dan diturunkan kepada anak cucunya. Dari kisah-kisah inilah nabi sejak kecil sudah mengetahui peradaban dunia di luar Jazirah Arab, selain karena sering mendengar kisah-kisah tersebut, dari usia yang masih sangat muda, nabi saw juga sering ikut bersama kafilah dagang keluarganya suku Quraisy, dalam perdagangan antar negeri dan bertemu dengan para pedagang dari berbagai negara di kota-kota yang menjadi pusat perdagangan pada masa lalu, diantaranya adalah negeri Syam, yang sejak PD I dipecah menjadi 4 negara : Syam (Syria), Lebanon, Palestina dan Jordan. (2)

Sang Putri Mekkah

Sayidah Khadijah lahir di Mekkah, beliau putri dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za’idah dari Bani Quraisy keturunan Lu’ayy. Khuwaylid sang ayah adalah seorang saudagar terpandang dari suku Quraisy. Ia memiliki otak yang cerdas, kaya raya, terhormat, berakhlak mulia, jujur dan tepercaya. Kepiawaian ayah Khadijah dalam ilmu perdagangan telah membuat beliau menjadi saudagar yang sangat sukses dan terkaya di Jazirah Arab. Khuwaylid memiliki 4 orang putra dan putri, yaitu ; Khadijah binti Khuwaylid, Halah binti Khuwaylid, Awwam bin Khuwaylid (3)dan Hisyam bin Khuwaylid.

Dari ketiga saudaranya yang lain, sayyidah Khadijah-lah yang terlihat paling pandai dalam ilmu perdagangan dan administrasi, kemahiran yang beliau warisi dari ayahnya dan kakeknya Qusayy bin Kilab. Karena kemampuannya dalam berdagang, Khadijah menjadikan perusahaan dagang raksasa ayahnya bertambah sukses, ketiga saudaranya hidup makmur dengan segala fasilitas yang di berikan oleh Khadijah. Sebagai penerus perdagangan keluarganya, sayyidah Khadijah memiliki 2/3 modal masyarakat mekkah, yang menjadikan beliau wanita terkaya di seluruh hijaz.

Gelar Sayyidah Khadijah yang terkenal adalah Sang Putri Mekkah, gelar ini disematkan padanya oleh penduduk Mekkah sejak era Arab Jahiliyyah, karena selain kaya raya, cantik, dari keturunan mulia, Sayyidah khadijah juga sangat dikenal dengan kemuliaan sifatnya sejak usia yang masih sangat muda. Sayyidah Khadijah dikenal sangat santun dan berakhlak mulia, ketika remaja beliau dikenal sebagai pelindung kaum papa dan yatim piatu, dan sangat dermawan kepada semua yang membutuhkan.

Sayyidah khadijah juga dikenal dengan gelarnya Thahirah, yang artinya wanita suci karena seumur hidup beliau, ayah dan kakeknya tidak pernah menyembah berhala, gelar ini juga disematkan pada beliau karena sayyidah Khadijah dikenal sangat menjaga kesuciannya, tidak seperti umumnya kelakuan wanita bangsawan pada masa jahiliyyah, yang sering kali berganti pasangan.

Pertemuan dan pernikahan dengan Rasul saw

Kepada asisten setianya, yang bernama Maysaroh, sayyidah Khadijah memerintahkan untuk melakukan rekrut pegawai. Nabi Muhammad yang baru berusia 25 tahun masuk menjadi pegawai sy Khadijah. Dimulailah masa perdagangan nabi ke Syam dan kota-kota lainnya dengan membawa barang dagangan milik sayyidah Khadijah.

Selama nabi Muhammad saw bekerja di perusahaannya, keuntungan perdagangan Sayyidah Khadijah melonjak berkali lipat. Sayyidah Khadijah bertanya kepada Maysaroh, apa yang menyebabkan perdagangannya melonjak pesat?, Maysaroh menjawab cepat “Muhammad-lah penyebabnya, wajahnya yang tampan, akhlak dan tutur katanya yang halus telah menarik banyak pembeli ditambah lagi dalam berdagang pun Muhammad selalu jujur tidak mengambil keuntungan yang terlalu banyak, hingga semua pembeli tertarik untuk membeli hanya kepada Muhammad (saw).”

Kekayaan Khadijah terus bertambah, bahkan ia menjadi wanita paling terkenal di jazirah Arab dan sekitarnya karena kekayaannya, kecantikannya dan kesuksesan nya dalam berdagang. Seluruh penduduk Jazirah Arab mengetahui, keberhasilan dagang Khadijah yang bertambah-tambah tak lepas dari kepiawaian nabi Muhammad dalam menjual dagangannya ke Syiria dan Syam hingga memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat.
Kekaguman akan kepandaian, ketampanan dan akhlak Nabi Muhammad saw yang luar biasa, berubah menjadi cinta dan keinginan untuk menjadi istri Muhammad saw.

Bersambung ke bagian 2 : https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/05/20/khadijah-al-qubro-sang-putri-mekkah/

Sumber & Catatan Kaki

1. Kuliah tematik Gus Ach. Dhofir Zuhry, S. Sos, M. Fil. “Mahar Nabi Melamar Khadijah”

2. Sa’adeh, Antoun (2004). The Genesis of Nations. Beirut. Translated and Reprinted

3. Awwam bin Khuwaylid menikah dengan bibi nabi Muhammad Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Awam dan Shafiyyah berputra Zubair bin Awwam, salah seorang sahabat nabi saw yang terkemuka.

Buku referensi

Razwy, Sayid, A.A, Menapak Jalan Suci Sang putri Mekkah: Sejarah Khadijah al Qubro, Istri Rasul Saw, hal.257-285, Jakarta, Lentera 2007

Dibaji, Sayid abul Qosim, Ummul Mukminin Khadijah : Biografi, Perjuangan dan Keteladanan Muslimah Pertama, cet.I, penerbit Citra Des. 2014

Al Huseini, al Hamid, H.M.H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw,hal. 230-233, pustaka Hidayah, Bandung, 2006 (akhlak nb Muhammad dlm berdagang)

Al Jibouri, Yasin T, Allah Konsep Tuhan menurut Islam, penerbit Lentera, Jakarta 2003
Referensi:

https://tafsirweb.com/37392-quran-surat-al-quraisy.html

Bangunan Berkubah, Bangunan Universal atau milik Islam?

Ketika kita membicarakan tentang Masjid yang pertama muncul di dalam kepala kita adalah bangunan berkubah dengan menara-menaranya, seperti bangunan yang ada di jazirah Arab sekarang, sama seperti ketika kita membicarakan tentang Islam, selalu dihubungkan dengan jazirah Arab. Faktanya bangunan berkubah, bentuk relung (arch), bangunan dengan bentuk dasar melingkar, adalah bangunan yang telah ada sejak ribuan tahun lalu, dimulai dari peradaban Mesopotamia kemudian menyebar perlahan ke wilayah Eropa, Asia Barat, tengah hingga ke sebagian Cina. (1)

Namun bentuk kubah seperti yang kita kenal saat ini adalah kubah yang berkembang pesat pada masa kekaisaran Romawi dari tahun 753 BC sampai 476 AD. Kubah yang menjadi tradisi bangunan di wilayah kekuasaan Romawi ini kemudian tersebar ke berbagai wilayah kekuasaanya, sekaligus menjadi pembeda bangunan tradisional periode Romawi dengan bangunan pada masa Yunani kuno. (2)

Melalui perluasan wilayah, pasang surut kekuasaan, perang, perdagangan, dan sebagainya, bangunan kubah tersebar ke berbagai wilayah kekuasaan Romawi yang terbentang dari mulai pantai Afrika utara, Mesir, Eropa Selatan, sebagian besar Eropa Barat, wilayah Balkan (Yunani, Bulgaria, Romania, Serbia, Bosnia, dsb.) Timur Tengah, Anatolia (Turki, Asia Barat) Levant, sebagian Mesopotamia (Iraq, Syiria, sebagian Iran, sebagian Turki) dan sebagian Jazirah Arab. (3)

Tahun 395 M, Kekaisaran Romawi terbagi menjadi 2, kekaisaran Romawi Barat yang beribukota di Milan, Italia dan kekaisaran Romawi Timur yang beribukota di Constantinopel (sekarang Istambul, Turki). Setelah Romawi barat runtuh, pd tahun 476 M wilayahnya yang berada di sepanjang Eropa Barat saat ini terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kekaisaran Romawi dilanjutkan oleh Kekaisaran Romawi Timur yang terletak di wilayah Eropa Timur sekarang dengan ibukotanya Constantinopel. Tahun 1453 Romawi Timur Runtuh dengan diambil alihnya ibukota Constatinopel oleh Ottoman, kemudian diubah namanya menjadi Istambul. (4)

Hagiasophia, contoh bangunan berkubah tertua yang hingga kini masih ada. Bangunan berkubah ini berkali kali mengalami pergantian fungsi. Dibangun pada tahun 532 M sebagai Catedral Kristen Byzantium (537 M-1054 M) kemudian dialihfungsikan menjadi gereja Ortodoks Yunani, gereja Katolik Roma, dialihfungsikan kembali menjadi gereja Ortodoks Yunani hingga 1453 diambil alih oleh Ottomaan dan dijadikan Masjid hingga 1931, ketika Ottoman runtuh bangunan ini dijadikan museum hingga saat ini. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Hagia_Sophia_Mars_2013.jpg
bagian dalam kubah Hagiasophia, dengan bangunan khas relung yang dihiasi kaligrafi pada era Ottoman ketika berfungsi sebagai Masjid. Sumber gambar : Photographic firm Sébah & Joaillier, started by Jean-Pascal Sébah (1872-1947) Policarpe Joaillier (also spelt “Polycarpe” in some sources, 1848 – 1904)

Pada masa puncak kekuasaan Romawi hingga pasang surut kekuasaanya, pengaruh kebudayaan Romawi tersebar di berbagai wilayah kekuasaanya. Bentuk bangunan berkubah adalah salah satunya. Kubah pada bangunan, yang merupakan ciri khas Romawi tersebar di berbagai negeri yang dikuasainya, namun bentuk bangunan berkubah tidak berkembang di Arab karena mayoritas penduduknya pada masa itu adalah nomaden, dan kondisi lingkungan padang pasir yang kering dan cuaca yang ekstrem, bentuk rumah dengan bangunan persegi adalah bentuk bangunan yang sesuai dengan iklim jazirah Arab.

bentuk bangunan persegi denga atap datar adalah ciri khas bangunan tradisional Arab. Bentuk bangunan adalah hasil budaya yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat setempat. Masjid pada masa Rasul saw mengikuti tradisi masyarakat setempat, di arab berbentuk persegi. Ketika Islam mulai tersebar ke berbagai negeri, bentuk bangunan Masjid pun disesuaikan dengan budaya bangunan masyarakat setempat. Sumber gambar : https://www.dailymail.co.uk/travel/travel_news/article-6776769/Swooping-Saudi-Stunning-drone-photos-reveal-remote-Arabic-villages-ancient-structures.html
rumah modern dengan model bangunan tradisi Arab. Sumber gambar : https://www.arabnews.pk/node/1233301/saudi-arabia

Berbeda dengan di arab, bentuk bangunan berkubah berkembang pesat di wilayah Eropa Barat dan Timur, karena kondisi lingkungan yang mendukung, karenanya bangunan berkubah banyak ditemui didaerah Spanyol, Eropa Barat dan Timur sejak abad ke 1 M. (5) Bentuk bangunan berkubah kemudian menyebar ke sebagian Asia Tengah (Kazakstan, sebagian Iran, Uzbekistan, Rusia, sebagian kecil Cina) dan sebagian kecil India.

Kubah tidak identik dengan masjid, justru gereja-gereja kuno di wilayah Asia tengah, Eropa dan Rusia umumnya memiliki bangunan berkubah, yang merupakan pengaruh percampuran budaya lokal dengan budaya warisan Romawi. Bangunan berbentuk kubah adalah hasil kebudayaan suatu bangsa, jadi sangat tidak tepat bila bangunan berkubah ini dikaitkan dengan dengan agama tertentu. Agama akan beradaptasi dengan budaya setempat dalam hal tempat ibadah dan bahasa dengan tujuan agar ajaran agama tersebut mudah di kenal dimanapun lokasi agama tersebut di sebarkan.

Gbr 1. Kubah pada gereja st.Emmanuel, Jakarta, dengan bangunan berkubah bergaya Eropa, dibangun 1835, selesai 1839. Sumber gambar : Merrillees, Scott, Batavia in Nineteenth Century Photograph, 2nd Edition, Hal. 177

Kubah pertama kali ditambahkan pada banguan Masjid pada tahun 691 Masehi, pada bangunan Masjidil Aqsa (6). Kemudian disebarluaskan keseluruh wilayah Arab dan Asia Tengah pada masa kekuasaan Turki Usmani (1299-1923), berikut simbol bulan bintang pada Masjid. Kekhalifahan Turki Usmani didirikan oleh Osman Ghazi pada tahun 1299, dari namanya ini di mulailah dinasti Turki Utsmani.

Kekhalifahan ini berawal dari satu wilayah kecil di Sogut- Anatolia yang merupakan salah satu wilayah milik kesultanan Seljuq Roma, yang dipimpin oleh ayah Osman Ghazi; Ertugrul Ghazi. Tahun 1281, Setelah ayahnya wafat, ia menggantikan posisi ayahnya, Ertugrul, menjadi panglima utama Kesultanan Seljuk Rum, sekaligus kepala wilayah Sogut, Anatolia. Pada masa kekuasaannya ia berhasil menguasai Bursa, yang merupakan wilayah kerajaan Byzantium, Romawi.
Pada masa ini kekuasaan Mongol dan Romawi telah melemah, karena perang perebutan wilayah yang terus menerus, para pejuang Mongol banyak yang bergabung dalam pasukan Osman I, tambahan pasukan Mongol ini memperkuat Pasukan Osman I dalam ekspansinya menguasai berbagai wilayah di Eropa, yang merupakan pecahan-pecahan dari kerajaan Romawi.

Tahun 1299, Osman Ghazi (7), melepaskan jabatannya sebagai kepala wilayah Sogut dari kesultanan Seljuk dan memerdekakan wilayah ini dari kesultanan Seljuk, ia mengangkat dirinya sebagai sultan dan memakai gelar Sultan Rum, karena ambisinya untuk menaklukkan semua kekuasaan Romawi, dan menaklukkan semua kerajaan Islam di bawah kekuasaannya.

Selama hampir 700 tahun masa kekuasaannya, turki Usmani banyak memperkenalkan budaya turki dan Asia Tengah kepada negara-negara yang telah ia taklukkan, lamanya kekuasaan Turki di wilayah Timur Tengah dan sebagian kecil Eropa menyebabkan timbulnya asumsi masyarakat Eropa bahwa segala sesuatu yang merupakan peninggalan dinasti Turki Usmani dikatakan peninggalan Islam. Hal ini tentu saja tidak tepat karena Islam tidak mengajarkan simbol atau arsitektur khusus.

Salah satu peninggalan dari Turki Usmani yang sangat dekat dengan umat muslim adalah simbol bulan bintang dan kubah.

Begitu kuatnya pengaruh Turki Utsmani dalam kebudayaan Nusantara, dan Asia Tenggara, hingga bila kita mengatakan masjid yang pertamakali muncul di kepala kita adalah bentuk kubahnya atau simbol bulan bintang-nya, padahal faktanya simbol bulan bintang dan bentuk kubah pada Masjid adalah lambang kekuasaan, bahwa satu wilayah telah berhasil atau pernah dikuasai oleh Turki.

Pada masa awal penyebaran Islam, yaitu utusan-utusan rasulullah saw yang diutus kenegeri-negeri yang jauh pada tahun ke-7 H, Masjid tidak identik dengan simbol apapun, banguan masjid dilihat dari fungsinya bukan bentuk. Dimanapun Islam masuk, Islam akan membaur dengan tradisi dan budaya masyarakat setempat, tujuannya agar ajaran tauhid ini mudah dipelajari dan dimengerti. Bangunan masjid pun disesuaikan dengan tradisi setempat, agar masyarakat setempat merasa nyaman dan tidak asing dalam mempelajari Islam. Tradisi dan budaya seperti bangunan, karya seni dan sastra memiliki perang penting dalam penyebaran Islam secara damai keseluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat.

The Great Mosque of Xi an, salah satu masjid tertua didunia yang masih terawat apik. Masjid dengan bangunan tradisional China ini dibangun pada tahun 705 M, pada masa Dynasty Tang yang mengalami perluasan pada dinasti-dinasti setelahnya.sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/22/1_great_mosque_xian_2011.JPG

Budaya setempat memiliki kaitan yang erat dengan penyebaran agama, dan bangunan berkubah adalah salah satu hasil dari budaya tersebut, dan tidak semua bangsa memiliki bangunan berkubah. Setiap bangsa memiliki ciri khas bangunan tersendiri. Bangunan berkubah, karena tradisi suatu bangsa dapat berfungsi sebagai bangunan apapun, seperti contoh diatas. Tidak semua yang berkubah itu masjid, atau menunjukkan ciri khas agama tertentu, seperti yang selama ini dipakai sebagai salah satu dasar penentu agama atau kepercayaan.

Berikut adalah contoh bangunan – bangunan berkubah, dari mulai Gereja atau Catedral kuno, kuil Hindu, Kuil Budha, Synagog (tempat ibadah Yahudi) hingga Masjid. Semua bangunan ini berkubah, karena bangunan berkubah memang tradisi setempat dimana rumah-rumah ibadah ini berdiri. Bangunan berkubah ini umumnya bangunan tua yang dibangun dari sebelum abad ke-10 sampai abad ke-15.

Kubah pada gereja Holy Sepulchure-yerusalem-palestina, yang dibangun sekitar abad ke 4 Masehi, telah menggunakan kubah sebagai bagian dari bangunan gereja. Sumber gambar; bestourism.com
catthedral of Annuciation dibangun pada tahun 1489 di Kremlin Rusia http://en.wikipedia.org/wiki/File:The_Annunciation_Cathedral,Kremlin,_Moscow%284030612191%29.jpg
Kubah pada gereja Ortodox tua yang telah direnovasi tahun 1938 di Moscow-Rusia
http://hipberlin.blogspot.com/2011/02/russian-orthodox-church.html

Selain sebagai gereja bangunan berkubah juga digunakan dalam berbagai kuil Hindu dan Budha di India dan Pakistan, seperti terlihat pada gambar berikut.

Bangunan Stupa di Sanchi, Madhya Pradesh, India, salah satu kuil Budha berbentuk kubah dengan fondasi bangunan melingkar. Pengaruh budaya bangunan Roma jelas terlihat pada bangunan Stupa ini. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:003_Front_View_(33709016166).jpg#
Vihara Chetiyagiri, bangunan berkubah pada komplek stupa Budha Sanchi, Madhya Pradesh, India. Bangunan ini dibuat tahun 1950 untuk menyimpan relic (sisa abu jenazah) yang di yakini sebagai relic dari 2 murid Budha, Sumber gambar :https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Chetiyagiri_Vihar_02.jpg
Kuil Agama Hindu, Dakhineswar, Bengal Barat, bangunan berkubah sebagai tempat ibadah agama Hindu ini selesai dibangun tahun 1855. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Dakhineshwar_Temple_beside_the_Hoogly,_West_Bengal.JPG#mw-jump-to-license
Masjid berkubah dengan warna biru mendominasi di kota Samarqand ini adalah ciri khas bangunan Masjid di Uzbekistan dan Persia. Masjid ini dibangun tahun 1330 M. Sumber gambar https://mvslim.com/one-of-the-most-beautiful-mosques-is-located-in-uzbekistans-blue-city-samarkand/
Great Synagogue of Florence, Italia. Didirikan tahun 1880, bentuk bangunan disesuaikan dengan bangunan tradisi masyarakat setempat, yaitu bangunan berkubah yang memang menjadi ciri khas bangunan di Roma, Italia. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Synagogue_Florence_Italy.JPG#

Bagaimana dengan Indonesia?

Sama seperti bangsa lain bangsa kita pun memiliki ciri khas bangunan sendiri, yang unik dan indah. Sayangnya bangunan Masjid dengan tradisi Nusantara ini sekarang sudah sulit di temui karena miskinnya pemahaman sejarah bangunan Masjid dan ada upaya yang jelas dari era kolonial dulu untuk menghilangkan jejak asli budaya nusantara dengan mengaitkan budaya bangunan yang ada di nusantara dengan agama tertentu, padahal seperti yang telah disebutkan di atas antara agama dengan bentuk bangunan tidak saling terkait, agama mengikuti budaya setempat dalam membuat tempat ibadah, bukan sebaliknya budaya yang mengikuti agama, seperti pemahaman terbalik yang ada di Indonesia hingga saat ini. Contoh pemahaman terbalik yang kita temui di buku sejarah umum yang notabene adalah buatan era kolonial adalah adanya sebutan bangunan bercorak Hindu/Budha/Islam, kalimat yang benar seharusnya adalah bangunan/tempat ibadah agama Hindu/Budha/Islam dengan tradisi atau ciri khas atau bercorak bangunan tradisional Indonesia.

Pintu masuk atau gerbang menju kompleks Masjid dan Makam di KotaGede, Yogyakarta. Bangunan tradisi nusantara yang mulai terlupakan karena adanya stigma banhwa bangunan tradisi nusantara ini dikatakan sebagai bangunan bercorak Hindu Budha. Fakta yang benar seharusnya tempat ibadah mengikuti tradisi setempat bukan sebaliknya. https://www.beautifulmosque.com/Kotagede-Mosque-in-Yogyakarta-Indonesia
Masjid menara Kudus, kota Kudus, Jawa Tengah. Keseluruhan bangunan Masjid ini dibangun dengan ciri khas bangunan Nusantara. Dari mulai Gapura, Menara, bentuk bagian Masjid, bentuk makam dan sebagainya. Pada awal abad ke -20, bagian Masjid yang indah ini di pugar, di danai sepenuhnya oleh pemerintah Belanda dan di beri Kubah pada bagian atap Masjid yang awalnya tidak ada. Sumber gambar : COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_minaret_bij_de_moskee_van_Koedoes_TMnr_10016671
Masjid Menara Qudus saat ini, setelah mengalami pemugaran besar pada awal abad ke 20
Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Masjid_Menara_Kudus.jpg

Islam adalah ajaran agama yang memerintahkan hamba-Nya untuk menyembah hanya kepada Allah SWT. Sama seperti dalam agama lain yang datang dengan damai.

Budaya dan tradisi masyarakat setempat adalah alat bagi agama untuk menyebarkan ajarannya. Pemaksaan bangunan mengikuti tempat asal tradisi bangunan tersebut berada, seperti bangunan kubah di Indonesia pada awal abad ke-20, menandakan tidak adanya asimilasi budaya atau percampuran budaya antara budaya lokal dengan pendatang seperti yang gambarnya kita lihat diatas pada Masjid di Samarqand dan tempat ibadah lain yang terjadi dengan periode yang sangat panjang.

Tidak adanya asimilasi budaya artinya terjadi pergantian pemerintahan dengan cepat yang mendatangkan budaya asing untuk menggantikan budaya lokal seperti yang terjadi pada bangunan Masjid di Indonesia. Kubah pada bangunan masjid di Indonesia baru mulai dibangun pada awal abad ke 20, setelah periode politik etis, dimana pada periode ini sistem pendidikan Belanda telah menggantikan sistem pendidikan Nusantara, seperti pesantren. Dengan bergantinya sistem pendidikan, pola pikir masyarakat Indonesia pun berubah mengikuti pola pikir barat, terutama pemahaman mereka tentang ajaran Islam.

Masjid dengan tradisi bangunan Indonesia memiliki bangunan menyerupai tempat ibadah agama sebelumnya, yaitu agama Dharma atau Sunda wiwitan, yang dalam teori era kolonial disebut sebagai agama Hindu Budha atau agama Hindu Syiwa. Ketika Islam masuk dan berkembang di Indonesia, bangunan tradisi ini hanya mengalami sedikit penyesuaian sesuai syariat Islam yang berlaku, seperti penambahan tempat wudhu, tempat hadas (mandi), lokasi pemakaman dan sebagainya sebagai syarat bangunan Masjid, bukan dilihat dari bentuknya tapi fungsinya.

Pada akhir abad ke-20, mulai muncul bangunan Masjid berkubah di Indonesia seiring melemahnya kerajaan Turki Utsmani dan hijrahnya para pembesar kerajaan Turki Utsmani ke Nusantara. (8)

Berjalannya waktu, ditambah sistem pendidikan era kolonial yang berusaha menghilangkan tradisi di Nusantara terutama yang terkait dengan Islam menyebabkan pemahaman bentuk bangunan tradisi nusantara bergeser, tradisi nusantara menjadi tradisi bercorak Hindu-Budha.

Masjid-masjid yang masih bertahan menggunakan corak bangunan lama dikatakan bercorak Hindu Budha, stigma ini kemudian melekat begitu kuat hingga Masjid yang di bangun pada masa ini (awal abad ke-20) harus menggunakan kubah yang merupakan bangunan tradisi Turki, Asia Barat, Tengah dan negara-negara Eropa lain.

Ditulis oleh SofiaAbdullah

Catatan dan sumber-sumber

1. Hill, Donald Routledge (1996). A history of engineering in classical and medieval times(Illustrated ed.).p.69 New York, NY: Routledge. ISBN 

2. Fleming, John; Honour, Hugh; Pevsner, Nikolaus, eds. (1991). Dictionary of Architecture (4th ed.). London, England: Penguin Books. ISBN 978-0-14-051241-0.

3. Lehmann, Karl (1945), “The Dome of Heaven”, in Kleinbauer, W. Eugène (ed.), Modern Perspectives in Western Art History: An Anthology of Twentieth-Century Writings on the Visual Arts (Medieval Academy Reprints for Teaching)25, University of Toronto Press (published 1989), pp. 227–270, ISBN 

4.”ancient Rome” | Facts, Maps, & History”. Encyclopædia Britannica. Retrieved 5 September 2017.

5. Lancaster, Lynne C. (2005). p.49 Concrete Vaulted Construction in Imperial Rome: Innovations in Context(illustrated ed.). Hong Kong: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84202-0.

6.https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/03/21/masjid-al-aqsa-masjid-berkubah-pertama-dalam-sejarah-islam/#more-688

7. Dikenal pula dengan nama Osman I ( 1258-1324 ). Osman I lahir dan wafat di Sogut, Anatolia. Osman I atau Osman Khan atau Osman Ghazi adalah putra dari Ertugrul Ghazi bin Kaya Alp Oğlu Süleyman Şah bin Kutalmis. Ghazi, pada nama-nama sultan pada era Kekhalifahan Turki Usmani adalah gelar kehormatan, yang kurang lebih artinya “sang penakluk” atau “Ksatria yang telah menaklukkan”. Gelar Ghazi ini pertama kali di sematkan oleh Sultan Seljuk dari Rum kepada ayah dari Osman I, Ertugrul, karena di bawah pimpinannya, ia telah berhasil merebut wilayah Ghaza, Kata Ghazi sendiri adalah sebutan untuk orang yang telah berhasil merebut wilayah Gaza, Gaza berasal dari kata Ghawzah yang berarti wilayah yang diperebutkan.)

8. Diawali dengan berdirinya Mataram Baru (Mataram Islam) yang mengkudeta sistem pemerintahan lama (sistem Dewan Wali), menjadikan Jawa sebagai salah satu propinsi Turki Utsmani, dan memilih pemimpin yang taat dengan kekhalifahan Turki Utsmani, Jawa dan Sumatera yang paling awal terkena dampaknya. Kedatangan para pembesar kerajaan Turki Utsmani ini bisa dilihat dari kompleks pemakaman Turki yang tersebar di Jawa dan Sumatera.

Masjid Al Aqsa, Masjid Berkubah Pertama Dalam Sejarah Islam

Tahun 637 M, Pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalifah Umar bin Khatab berhasil menguasai Damaskus ibu kota Syam dari penjajahan Romawi, dengan ditaklukkannya Damaskus, wilayah yang termasuk dalam negara-negara di Syam berada dibawah kekuasaan Umar. Wilayah Syam pada saat itu mencakup negara-negara Suriah, Jordan, Libanon dan Palestina.(1)

Lanjutkan membaca “Masjid Al Aqsa, Masjid Berkubah Pertama Dalam Sejarah Islam”

Masjid Pada Era Makiyyah (3)

Masjid Pada Era Makiyyah sampai hijrah Rasulullah ke Madinah 622 M. (C)

Tahun 610 M, nabi menerima wahyu pertama yang menjadikan beliau seorang rasul yang artinya nabi Muhammad saw diperintahkan untuk menyebarkan ajaran Islam secara terang-terangan. Pada bulan haji, 5 tahun setelah renovasi Ka’bah, rasul saw secara terbuka mengabarkan kepada penduduk Mekkah bahwa beliau adalah Rasul terakhir.

Kondisi ini berdampak pada keamanan Rasul saw dalam menjalankan ibadah di Masjidil Haram, yang pada mulanya Rasul dengan tenang dapat beribadah, setelah 610 M atau setelah kerasulan selalu ada gangguan, hinaan dan penyiksaan fisik ketika sedang menjalankan ibadah.

613 M. 3 tahun setelah peristiwa wahyu pertama, kaum muslim Mekkah terus bertambah banyak, baik dari kaum pagan ataupun dari kalangan ahlul kitab yang datang dari berbagai bangsa.

Berdasarkan Al Qur’an kita mengetahui Nabi Muhammad saw adalah rasul yang diutus untuk seluruh alam yang artinya Rasul saw mendapat tugas dari Allah SWT untuk menyebarkan Islam ke seluruh alam, baik alam manusia, alam Jin, dan alam Hewan dan Tumbuhan.

Islam ajaran Rasul saw adalah Islam yang damai sesuai dengan arti katanya Islam diambil dari akar kata salam yang artinya kedamaian, keselamatan.

Bertambahnya kaum muslim, menggusarkan para pembesar kaum Quraisy, tekanan kepada kaum muslim terus bertambah hingga akhirnya rasul saw memerintahkan kepada sebagian kaum muslim untuk hijrah ke Abyssinia (sekarang: Ethiopia) karena penguasa di Ethiopia saat itu, yang bernama Najasyi atau raja Negus adalah penguasa yang adil.

Hijrahnya kaum muslim ke Ethiopia ini adalah hijrah yang pertama dalam sejarah Islam. Pemimpin hijrah saat itu, sekaligus utusan rasul saw untuk menemui raja Negus adalah Ja’far bin Abi Thalib. Selain Ja’far bin Abi Thalib utusan Rasul lainnya yang ikut mendampingi Ja’far bin Abi Thalib adalah Jash bin Riyab dan Saad bin Abi Waqash.

Sumber gambar: https://www.globalblackhistory.com/2018/06/brief-history-of-the-axumite-kingdom-in-ethiopia.html

Ketiga pemimpin kaum muhajirin pertama ini adalah kaum muslim yang paling tinggi ilmu islamnya, paling baik akhlaknya dan paling pandai dalam perdagangan diantara kaum muslim yang lain yang ikut serta dalam hijrah pertama. Kualitas mereka inilah yang menjadikan mereka diterima dengan baik oleh raja Negus yang beragama Nasrani. Sebagian kaum muslim menetap di wilayah Abyssinia ini hingga tahun 628 M.

Ilustrasi Ja’far bin Abi Thalib sedang memberikan penjelasan tentang Islam kepada raja Negus (Najasyi) setelah sebelumnya utusan kafir Quraish mengatakan bahwa kaum Muhajirin yang meminta perlindungan kepada sang raja adalah budak. Melihat kepandaian dan kewibawaan Ja’far bin Abi Thalib, raja Negus yang terkenal adil tidak mempercayai utusan kaum kafir Quraish dan memilih untuk memberikan perlindungan kepada kaum muslim.
Sumbergambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/eb/Hijra_Abyssinia_%28Rashid_ad-Din%29.jpg

Ilustrasi dari abad ke-14 tentang kedatangan utusan kaum kafir Quraisy yang ditolak oleh raja Negus. Kedatangan 2 orang utusan ini untuk membawa kembali kaum muslim yang hijrah agar dapat disiksa dan di perbudak. Karena kepandaian Ja’far bin Abi Thalib dalam pemahaman Al Qur’an, raja Negus berhasil di yakinkan bahwa dalam ajaran Islam tidak pernah ada penghinaan terhadap Maria dan Yesus, bahkan ajaran Islam sangat memuliakan dua tokoh ini hanya saja dengan kedudukan yang berbeda.

Tahun 616 M-619 M, setelah mengetahui sebagian kaum muslim hijrah ke Abbisynia, penyiksaan dan penjarahan toko-toko kaum muslim dan Bani Hasyim semakin bertambah dan mencapai puncaknya dengan diberlakukannya Boikot dari para tokoh pembesar kafir Quraisy dan kabilah-kabilah dari suku lainnya kepada kaum muslim dan Bani Hasyim. Peristiwa ini ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian sepihak antara kaum kafir Quraisy dengan suku-suku Arab pagan lainnya. Dalam kesepakatan sepihak yang mereka buat, boikot ini akan berlangsung selama 7 tahun atau sampai Abu Thalib, keturunan Hasyim dan kaum muslim menyerahkan nabi Muhammad saw kepada kaum kafir untuk di bunuh.

Lembah Abu Thalib atau Shi’ib Abu Thalib, adalah tanah yang cukup luas milik Abu Thalib. Lokasi ini pernah menjadi tempat perlindungan kaum muslim ketika di boikot oleh kaum Arab Quraish selama 3 tahun

Selama peristiwa ini pasukan kaum kafir Quraish dan suku-suku pagan Arab lainnya menjarah semua harta kaum muslim, mengusir dan mengambil alih paksa rumah-rumah mereka, melarang transaksi jual beli kepada para pedagang muslim baik di dalam atau diluar negeri. Peristiwa boikot ini juga yang kelak menjadi penyebab utama perang Badr, perang pertama dalam sejarah Islam.

Ilustrasi masa pemboikotan, kaum muslim berlindung di Lembah milik Abu Thalib. Selama masa pemboikotan kaum muslim dilarang melakukan jual beli dan melakukan hubungan sosial dengan kaum Quraish. Sumber gambar : https://teras-dakwah.blogspot.com/2017/11/pemboikotan-terhadap-keluarga-nabi-dan.html?m=1

Boikot atau pengasingan kaum muslim ini berlangsung selama 3 tahun. Paman nabi, Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah, istri nabi memiliki peran yang sangat penting dalam peristiwa ini. Abu Thalib sebagai pelindung kaum muslim di Mekkah, memberikan tanahnya yang luas untuk digunakan kaum muslim sebagai tempat berlindung selama masa pengasingan. Sementara Khadijah, wanita terkaya pada masa itu, memberikan seluruh hartanya untuk membeli segala kebutuhan kaum muslim.

PETA PERKAMPUNGAN ABU THALIB KETIKA DIBOIKOT. SUMBER GAMBAR : HTTP://SIRAH-NABAWIYYAH.BLOGSPOT.CO.ID/2015/10/BOIKOT-TERHADAP-KAUM-MUSLIMIN.HTML

Selama masa pengepungan ini kaum muslim hanya diperbolehkan keluar 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Dzulhijjah dan Rajab.
Atas kehendak Allah SWT, boikot yang seharusya berlangsung selama 7tahun, berakhir pada tahun ketiga dengan hancurnya surat perjanjian mereka di makan rayab. Padahal surat perjanjian ini telah digantungkan sedemikian rupa dalam ka’bah dan terbuat dari bahan kulit yang kuat.

Perjanjian boikot Banu Hasyim ditulis diatas kertas yang terbuat dari kulit kambing yang menandakan perjanjian ini memiliki arti sangat penting bagi suku-suku Quraish dan sekitarnya karena mereka merasa terancam dengan pesatnya perkembangan kaum muslim. Namun sekuat apapun bahan yang mereka gunakan dan serapi apapun mereka meletakkan surat perjanjian ini, jika Allah berkehendak maka rusaklah surat perjanjian tersebut dimakan rayap. Sumber gambar : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/ff/Parchment_from_goatskin.jpg

Tahun 620 M, satu tahun setelah boikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib, Abu Thalib wafat disusul dengan sayyidah Khadijah, 2 pendukung kaum muslim yang utama wafat. Dalam sejarah Islam tahun ini di kenal dengan tahun kesedihan bagi rasul saw, keluarga dan kaum muslim seluruhnya.

Pada tahun ini juga nabi dan beberapa sahabat pilihan melakukan dakwah Islam ke Tha’if namun kedatangan nabi, keluarga dan sahabat di sambut dengan timpukan batu dan hinaan hingga nabi dan sahabat banyak yang terluka. Pada tahun yang sama beberapa kepala suku dari kalangan jin masuk Islam

Jin seperti juga manusia memiliki ras, suku dan bangsa. Diantara golongan jin ada yang taat ada kafir. Beberapa kepala suku dari berbagai ras Jin pernah datang ke Rasulullah saw untuk belajar dan masuk Islam, peristiwa ini di abadikan dalam Al Qur’an surat Jinn. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Kitab_al-Bulhan_—_devils_talking.jpg#mw-jump-to-license

Tahun 621-622 M, banyak peristiwa penting terjadi yang berperan besar dalam perkembangan Islam ke berbagai penjuru dunia. Diawali dengan Ikrar Aqabah pertama, yaitu kedatangan 12 petinggi Yastrib pada musim haji menemui Rasul untuk masuk Islam setelah mendengar tentang Islam dari 6 orang pendududk Yastrib yang telah masuk Islam sebelumnya. 12 orang ini kemudian melakukan ikrar (sumpah setia) di hadapan nabi dan beberapa sahabat pilihan di wilayah Aqabah (jalan setapak melalui gunung yang berada di luar Mekkah). Ikrar tersebut berisi : “kami tidak akan menyekutukan Tuhan, Mencuri, berbuat zina, membunuh anak-anak kami, melontarkan fitnah dan umpatan; Kami akan menaati nabi saw dalam segalanya dan kami akan setia kepadanya baik dalam suka maupun duka”.

12 penduduk Yastrib ini kemudian melakukan da’wah Islam kepada penduduk Yastrib lain yang menuntun pada peristiwa Iqrar Aqabah kedua. Jumlah peserta yang melakukan Iqrar Aqabah kedua ini mencapai 70 orang penduduk Yastrib ditambah kaum Muslim Yastrib yang telah melakukan Iqrar Aqabah pertama.


Tahun 622 M pada tanggal 27 Rajab terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa Isra Mi’raj adalah salah satu mukjizat Rasul saw yang juga menjadi penegas bagi kaum muslim saat itu. Mereka yang meyakini nabi Muhammad saw sebagai nabi dan Rasul akan meyakini peristiwa ini sementara mereka yang ragu akan kenabian Muhammad saw akan keluar dari Islam.

Peristiwa ini disusul dengan percobaan pembunuhan kepada nabi Muhammad saw. Rencana pembunuhna ini dilakukan karena kaum kafir Quraisy merasa takut melihat perkembangan Islam yang telah meluas hingga keluar Mekkah, bahkan telah memiliki perwakilan di Yastrib. Percobaan pembunuhan ini di lakukan oleh ahli-ahli pedang terpilih dari tiap suku di Mekkah dan sekitarnya. Rencana pembunuhan kepada nabi saw ini di prakarsai oleh para pembesar kafir Mekkah saat itu; Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan Utbah.Pada malam yang disepakati untuk membunuh nabi saw, para algojo terpilih dari tiap-tiap marga di Mekkah ini mengepung sekeliling rumah nabi saw, dan begitu nabi keluar rumah akan mereka bunuh. Namun rencana mereka gagal, Allah SWT melalui malaikat Jibril memberikan wahyu kepada nabi Saw tentang rencana kaum kafir Mekkah, dengan bantuan Allah SWT, kaum kafir yang hendak membunuh nabi saw tidak mengetahui ketika nabi saw keluar melewati mereka.

Sementara itu di tempat tidur nabi saw, Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi beliau untuk memastikan para algojo tersebut bahwa nabi saw masih tertidur pulas di kamarnya. Malam itu pula nabi saw memantabkan langkahnya menuju Yastrib, menyusul kaum muslim yang telah hijrah sebelumnya.

Jarak dari Mekkah ke Yastrib sekitar 500km atau sekitar 5 hari dengan berjalan kaki atau naik unta atau 3 hari dengan mengendarai kuda. Setelah berhasil lolos dari percobaan pembunuhan, rasul saw berjalan kaki hingga ke gua Tsur. Di tengah perjanan nabi bertemu sahabat Abu Bakar as Sidiq yang kemudian ikut bersama beliau. Mengetahui pembunuhan tersebut gagal, para pembesar kafir Quraisy segera memerintahkan para pemburu ahli dan para pencari jejak untuk mencari nabi yang pastinya belum terlalu jauh dari Mekkah dengan imbalan hadiah yang besar. Kaum kafir Quraisy juga menutup jalan-jalan utama menuju Yastrib.

Pencarian tersebut berlangsung selama 3 hari dan selama itu pula nabi berlindung di Gua Tsur yang hanya berjarak 3,8 km dari kota Mekkah atau sekitar 1 jam berjalan kaki dari kota Mekkah. Dengan pertolongan Allah SWT seekor laba-laba yang besar di wahyukan untuk menutup mulut gua dengan jaringnya, sementara burung dara membuat sarang di atas pintu gua. Dengan adanya 2 binatang ini para pemburu merasa yakin bahwa tidak mungkin ada manusia yang dapat masuk kedalamnya tanpa merusak jaring laba-laba dan sarang burung tersebut. Pada malam ke-4 di Gua Tsur, Ali bin Abi Thalib ra datang kepada nabi dengan membawa 2 ekor unta. Pada malam ini pula nabi dan Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Yastrib.

Ilustrasi perjalanan Rasul saw dan Abu Bakar dengan unta setelah bersembunyi di Gua Tsur selama 3 hari. Sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2d/The_outline_of_history_-being_a_plain_history_of_life_and_mankind%281920%29_%2814580517757%29.jpg

Sepanjang perjalanan ke Yastrib Rasul berpapasan dengan beberapa orang sahabat dan penduduk setempat yang kemudian melakukan hijrah bersama nabi ke Yastrib.

Sementara itu di Mekkah, setelah percobaan pembunuhan yang gagal, pengejaran rasul saw yang juga gagal, kini tinggal Ali bin Abi Thalib dan kaum muslim yang tersisa yang menjadi sasaran mereka.

Ali bin Abi Thalib tetap tinggal di Mekkah selama 3 hari, untuk melaksanakan tugas Rasul saw selanjutnya, yaitu mengembalikan barang pinjaman dan hutang piutang penduduk Mekkah serta urusan lainnya yang terkait dengan Rasul saw. Setelah amanat tersebut selesai dilaksanakan, Ali bin Abi Thalib, kaum wanita dari keluarga rasul saw dan muslimah lainnya serta kaum muslim yang tersisa di Mekkah menyusul Rasul hijrah ke Yastrib.

Setelah menempuh sekitar 7 hari perjalanan, pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, Rasul saw dan rombongan berhenti di satu wilayah bernama Quba. Kota ini berjarak kurang lebih 10 km dari kota Yastrib. Nabi sengaja melakukan pemberhentian tersebut untuk menunggu rombongan Ali bin Abi Thalib.

Di Quba, Rasul dan rombongan menetap selama 4 hari, di tanah milik bani Ammar bin Auf. Sebagai tempat tinggal sementara rasul saw dan rombongan membangun tempat tinggal di tanah ini, hingga rombongan Imam Ali tiba.

Bangunan ini kemudian di kenal sebagai Masjid Quba, bangunan pertama yang di bangun Rasul saw.
Bangunan yang digunakan Rasul untuk menunggu Imam Ali ini kemudian dijadikan Masjid oleh Bani Ammar bin Auf. Masjid ini kemudian di kenal dengan nama Masjid at Taqwa.

Gambar: bangunan asli Masjid Quba yang di bangun oleh Rasul saw dan para sahabat, sebelum dihancurkan pada tahun 1980 oleh kerajaan Saudi Arabia. (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Quba_Mosque#/media/File:Qubaorig.jpg)

Nama at Taqwa di berikan Rasul untuk Masjid ini sebagai pujian kepada Imam Ali as karena ketaqwaan Ali bin Abi Thalib kepada Allah SWT dan ketaatan beliau kepada rasul saw yang sangat di kasihinya, beliau rela mempertaruhkan nyawa untuk melindungi keselamatan kaum muslim dengan memimpin rombongan keluarga nabi saw dan kaum muslim yang tersisa di Mekkah. Karena ketaqwaannya pula Imam Ali yang baru berusia 22 tahun telah melakukan pengorbanan besar dengan menggantikan posisi nabi saw di tempat tidur nabi saw yang hendak di bunuh.

Setelah Ali bin Abi Thalib kw menyelesaikan semua urusan nabi saw di Mekkah dan memimpin rombongan perjalanan kaum muslim dan para wanita dari keluarga nabi saw yang selalu mendapat ancaman dan di hadang oleh kaum kafir Mekkah, akhirnya sampai juga rombongan Imam Ali bertemu Rasul saw di Quba.

Berikutnya: Masjid pada Era Madaniyyah

Masjid Pada Era Madaniyyah (4)

Masjid Pada Era Madaniyyah, 622 M hingga wafatnya Rasulullah saw, 632 M (d)

Tahun 622 M, setelah Rombongan Imam Ali dan Rasul saw bertemu, bersama mereka melanjutkan perjalanan menuju Yastrib. Kedatangan beliau saw disambut dengan suka cita oleh sebagian besar penduduk Yastrib baik yang telah masuk Islam atau masih beragama Yahudi atau Nasrani. Sejak kedatangan nabi saw, kota Yastrib lebih di kenal dengan sebutan Madinatun nabiy (kota Nabi) yang kemudian di persingkat menjadi Madinah.

Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada pemeluknya bahwa agama adalah landasan dan solusi bagi segala permasalahan kehidupan, dari mulai masalah keluarga sampai masalah negara atau pemerintahan. Untuk mengajarkan semua hal tersebut dibutuhkan tempat yang berfungsi selain sebagai tempat untuk mengajar, juga sebagai tempat untuk beribadah, yang dalam bahasa Arabnya bernama Masjid.

Fungsi Masjid Pada Masa Rasulullah SAW

Rasullullah membutuhkan tempat sebagai pusat studi Islam, sekaligus tempat Ibadah, dan tempat berkumpulnya umat untuk menyelesaikan urusan dunia dan akhirat. Dengan pertimbangan ini dibuatlah Masjid yang pertama dalam sejarah Islam, yaitu Masjid Nabi di Madinah, yang kita kenal saat ini dengan Masjid Nabawi . Masjid ini dibuat mengikuti bentuk bangunan tradisional di Jazirah Arab pada umumnya.


Rasullullah SAWW menggunakan Masjid sebagai pusat studi Islam dan menyelesaikan berbagai masalah dunia dan akhirat, mulai dari syi’ar Islam, mengatur strategi politik hingga masalah rumah tangga. Semua masalah dunia diselesaikan dengan satu tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dalam Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah adalah landasan dari segala kegiatan dalam kehidupan manusia yang bertujuan akhir untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Lukisan Masjid Nabi saw sekitar abad ke 18, walaupun telah mengalami beberapa kali perluasan, bentuk bangunan Masjid masih mengikuti bangunan tradisional di Jazirah Arab pada masa itu, berbentuk bujur sangkar, tanpa kubah.
https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Medina_Grab_des_Propheten.JPG#mw-jump-to-license
Gbr. Masjid Nabawi, kini, walaupun telah banyak mengalami perubahan dan perombakan dari bentuk dan fungsi aslinya yang dibangun pada zaman Rasul tahun 622 M/2 H, bentuk asli bangunan khas Timur Tengah, persegi panjang tanpa kubah, tetap terlihat.
(sumber: http://dickyfs.files.wordpress.com/2008/08/p27-06-08_1430.jpg)

Sejak pertama kali Masjid Nabawi dibangun oleh Rasulullah saw, memang telah ditujukan untuk berbagai kebutuhan dunia (sosial) dan akhirat (Ilahiyyah). Fungsi sosial Masjid dapat dilihat dari berbagai masalah dunia, dari mulai urusan rumah tangga hingga pemerintahan diselesaikan Rasulullah di masjid Nabawi. Sementara fungsi Masjid yang terkait dengan masalah ilahiyyah, seperti sholat, mengaji, syi’ar Islam juga dilakukan di area Masjid.

Kota ini dibangun oleh nabi dan ditata sedemikian rupa dengan bangunan Masjid sebagai pusatnya. Sebagai pemimpin tertinggi mukmin (amirul mukminin) pada saat itu, Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya tinggal di sekitar masjid Nabi. Rumah pribadi Rasulullah dan sayyidah Fathimah menyatu dengan bagian utama Masjid, sementara pada bagian pelataran masjid terdapat rumah istri-istri nabi.

Beragamnya fungsi Masjid pada masa Rasul saw, menjadikan bangunan masjid terdiri dari beberapa bagian. Dari mulai teras atau ruangan-ruangan terbuka yang menempel dengan badan masjid hingga tempat singgah bagi kaum muslim yang tidak memiliki tempat tinggal.

Bentuk bangunan masjid seperti yang diajarkan rasul adalah kompleks bangunan yang memiliki beragam fungsi. Hal ini pulalah yang membuat masjid pada masa Rasullullah saw memiliki banyak bagian-bagian yang disesuaikan dengan fungsinya.

Masjid selain berfungsi untuk shalat, juga memiliki fungsi sosial dan hukum. Fungsi sosial misalnya sebagai lembaga pendidikan umat. Pada masa awal Islam, umat Islam yang tidak bisa baca tulis, belajar di masjid, juga mempelajari dan menelaah Al-Qur’an. Fungsi hukum misalnya menyelesaikan berbagai kasus umat, baik kasus pidana maupun perdata. Sebagai tempat untuk menerima utusan raja-raja dari luar negeri, dan sebagainya.

Gambar berikut adalah denah awal ruang beserta fungsinya di area Masjid nabi. Semua ruangan yang ada pada denah ini memiliki pintu yang berlawanan dengan bangunan utama Masjid kecuali tempat tinggal Rasulullah saw dan putri beliau, sayidah Fatimah Zahra dimana untuk memasuki rumah beliau harus terlebih dahulu masuk ke dalam masjid. Masjid Nabawi inilah yang menjadi patokan pembuatan masjid di seluruh dunia.
Dengan berpatokan pada denah dalam dan luar dari masjid Nabawi ini, kita dapat mengetahui fungsi bangunan-bangunan kuno yang ditemukan di Indonesia berdasarkan bentuknya.

Denah Ruangan Dalam Masjid Nabawi
(Sumber: orgawam.wordpress.com)
  1. Tempat nabi menerima duta atau utusan dari dalam dan luar negeri: Nabi SAW menggunakan tempat ini untuk menemui para utusan yang datang. Beberapa Sahabat terkemuka duduk disekitar beliau selama pertemuan berlangsung.
    2&14 Posisi tempat pengawal nabi: Menjadi tempat berdiri para pengawal Nabi SAW. Pintu rumah nabi berhadapan dengan tempat ini, dan Nabi SAW pergi melalui pintu ini menuju ke Masjid Nabawi.
  2. Tempat istirahat nabi: Abdullah bin Umar RA bercerita, “Nabi SAW menggunakan tempat ini sebagai tempat tidur beliau selama I’tikaf.
  3. Mihrab Nabawi: mihrab selama periode pemerintahan Nabi SAW adalah satu ruangan khusus yang tertutup yang digunakan nabi untuk melakukan shalat-shalat khusus dan ber I’tikaf, sampai pada masa Khalifah Umar bin Khatab (634-644) bentuk mihrab hanyalah dinding lurus. Pada masa Usman, ia memerintahkan tanda pada mihrab agar dapat diketahui arah kiblat. Mihrab berbentuk lengkung (arch) pertama kali dibuat pada Masjid Nabi Pada tahun 91 H, pada masa Umar bin Abdul Aziz.
  4. Mimbar tempat Nabi SAW berkhutbah
  5. Tempat Muadzin: Tempat ini, berupa balkon segi empat, terletak di sebelah Utara Mimbar Nabi. Tempat ini selain sebagai tempat adzan juga sebagai tempat shalat muadzin dan untuk menguatkan suara takbir pada shalat lima waktu.
  6. Tempat ahlus Suffah: Suffah berarti tempat berteduh. Sahabat Nabi yang miskin dan tidak memiliki rumah, bertimpat tinggal di Suffah. Di sini mereka mendapat pendidikan tentang Islam dan mengamalkannya. Tempat ini terletak dibelakang rumah pribadi Sayyidah Fathimah dan keluarga.
  7. Babul Baqi (bab: pintu, Baqi: pemakaman Baqi) Pintu ini berhadapan dengan Bab Salam yang langsung mengarah ke pemakaman jannatul Baqi, yang merupakan pemakaman keluarga dan sahabat rasul saw, yang telah dihancurkan oleh pemerintahan bani Saud pada awal tahun 1930.

Pemakaman Jannatul Baqi pada bagian belakang Masjid Nabi saww, sebelum dihancurkan oleh pemerintah Ibnu Sa’ud tahun 1930. Antara Masjid Nabi dengan Pemakaman Baqi terdapat pintu gerbang yang menuju pemakaman, pintu ini bernama; Baabul Baqi.

  1. Sumur, dalam bahasa Arab disebut Bir, terletak 15 meter menuju ke ruang dalam Masjid. Sumur ini digunakan sebagai tempat nabi berwuhu, memandikan jenazah, dan berbagai fungsi lain yang membutuhkan air.
  2. Secara ringkas, bentuk bangunan masjid pada zaman Rasul saw adalah kompleks yang terdri atas beberapa bangunan. Bangunan-bangunan ini dilihat dari fungsinya bukan bentuk. Fungsi masjid ini yang harus diterapkan pada bangunan Masjid selanjutnya, baik ketika Rasul saw masih hidup atau pasca wafatnya beliau saw.
  3. Fungsi bangunan adalah unsur penting dalam setiap pembangunan Masjid. Pada masjid-masjid kuno fungsi ini masih terlihat jelas, namun berjalannya waktu, pergantian penguasa dan faktor lain, bentuk bangunan lebih di utamakan dari pada fungsi bangunan masjid. Sepanjang sejarah Masjid banyak penambahan-penambahan bangunan yang tidak terkait dengan apa yang diajarkan Rasul saw . Bila dilihat dari fungsinya bangunan masjid yang ada pasca wafatnya Rasul saw hingga saat ini semakin jauh dari apa yang telah diajarkan Rasul saw.
    Bangunan utama Masjid dengan bangunan-bangunan disekitarnya dipisahkan dengan dinding bata yang mengitari Masjid. Terdapat pintu gerbang menuju Masjid pada empat penjuru mata angin; Timur, Barat, Utara dan Selatan. Pintu-pintu ini disesuaikan dengan ruang dan bagian-bagian masjid untuk melakukan segala kegiatan yang berkaitan dengan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan pusat pemerintahan .
Sumur atau kolam untuk bersuci dan untuk kebutuhan lain yang memerlukan air. Pada masa Rasulullah dicontohkan dengan adanya Bir’ Ghars atau sumur yang digali.
(Sumber: https://ahmedamiruddin.wordpress.com/2010/06/22/visiting-the-holiest-site-on-earth-the-grave-of-the-prophet-s/)

Salah satu sumur yang ada pada masa Nabi saw, disebut dengan Bir Ghars. Sumur ini memiliki arti penting bagi umat Islam karena dengan air yang berada di sumur inilah Rasul saw keluarga dan sahabat beliau memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Jasad rasulullah saw pun dimandikan dengan menggunakan air dari sumur ini. Berkenaan dengan Bir Ghars, Rasulullah pernah mengatakan dalam haditsnya bahwa mata air yang mengalir di sumur ini adalah salah satu mata air yang mengalir di surga. Namun sayangnya, kondisi situs bersejarah yang telah berusia lebih dari 1400 tahun ini sangat mengenaskan karena mata air tidak diberi tempat yang layak. Hanya jamaah haji tertentu saja yang diizinkan oleh pemerintah Saudi untuk mengunjungi situs ini karena selain dikelilingi oleh tembok beton, dijaga pula oleh aparat.